Aji Kepatian Weda Sulambang Geni Pasupati Ki Bendesa Manik Mas
![]() |
Ida Sasuhunan Pura Dalem Manik Tirta |
Sang Kalika Maya
Sang Kalika Maya, Sisya Sanghyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Sang Kalika Maya terkenal karena kemampuan ilmu hitam/ pengeleakan yang dimiliki. Tak ayal, begitu banyak orang dari berbagai penjuru desa datang menghadap, memohon agar berkenan dijadikan murid Sang Kalika Maya. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Zaman Kali Yuga, zaman dimana sifat manusia tamak dengan keinginan / kama, sifat-sifat satwan / kebenaran sudah diselimuti oleh rajas, tamas.
Sang Kalika Maya menceritakan pada muridnya, ia masih teringat akan tugas yg diberikan padanya. Dari dalam hatinya, ia melihat bahwa seorang manusia yang bernama Ki Dukuh Macan Gading sedang persiapan dalam melaksanakan upacara yadnya yang didasari oleh sifat angkuh, menyombongkan diri. walau upacara yadnya dilakukan penuh dengan kemegahan duniawi, namun sang dukuh lupa bagaimana seharusnya bersikap dalam melaksanakan upacara yadnya. Upacara yadnya yang dilakukan, baik dalam dewa, rsi, manusia, pitra maupun butha yadnya (panca yadnya – 5 korban suci ), harus didasari oleh rasa iklas, tulus dan suci. Jika tidak, sia-sialah yadnya tersebut. Tugas Sang Kalika Maya –lah yang akan memberikan hukuman akibat kelalaian tingkah Ki Bendesa Macan Gading.
![]() |
Sisya Ngereh |
![]() |
Pertemuan Kalika Maya |
Di tengah perjalanannya, Ki Dukuh Macan Gading bertemu dengan Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menanyakan kenapa Ki Dukuh Macan Gading begitu tergopoh-gopoh dalam perjalanannya. Ki Macan Gading mengatakan bahwa ia terburu-buru untuk bertemu saudaranya , Ki Dukuh Manik Mas di Desa Mas. Sang Kalika Maya, yg sudah tahu dengan apa yg terjadi kembali menyindir, kenapa saat puncak upacara yadnya yg Ki Dukuh Macan Gading lakukan, justru ia pergi meninggalkannya. Ki Dukuh Macan Gading yg terkenal karena kesaktiannya, seakan lari dari tanggung jawab yg sedang ia hadapi.. begitu Sang Kalika Maya menyindir sikap Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading sadar, ia sedang berhadapan dengan siapa. Sang Kalika Maya, seorang dengan dengan kemampuan ilmu hitam / pengeleakan tingkat tinggi.
Berkat kemampuannya, Ki Dukuh Macan Gading juga mampu mengetahui bahwa wabah penyakit yang menimpa masyarakatnya akibat ulah dari Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menyangkal dan mempertanyakan hal apa yg bisa dijadikan alasan untuk dapat menuduh bahwa dirinyalah yang menjadi sebab wabah penyakit di desa. Sesuatu yang diucapkan tanpa dasar yang kuat merupakan sebuah fitnah dan itu pasti menyakitkan. Justru ia mempertanyakan, bukahkan setiap upacara yg dilakukan harus mendapat restu dari Tuhan. Bukan melaksanakan upacara yang asal-asalan. Setiap tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan adalah sesuatu yang sia-sia. Upacara yang dilakukan seharusnya didasari oleh pengetahuan, disesuaikan dengan desa kala patra (tempat waktu dan keadaan) serta berpedoman pada tri hita karana (tiga hubungan yang harmonis) yang akan mengarahkan kita pada kebahagiaan. Harta kekayaan yang dimiliki adalah sesuatu yang palsu. Walau mendapat anugrah, walau berasal dari keturunan terhormat, kalau sesana tidak mencerminkan anugrah, kalau perilaku tidak layak menyandang gelar terhormat, ibarat berjalan tanpa pengetahuan, sia-sia apa yang telah dilakukan. Merasa panas karena didera oleh manusia “hitam” seperti Sang Kalika Maya. Harga diri dari keturunan, kemampuan dan pengetahuan serasa tiada mampu menahan cercaan. Beragam cercaan pernyataan, Ki Dukuh Macan Gading merasa tersudutkan. Pikiran sempit menyelimuti dan pembicaraan tidak akan menyelesaikan permasalahan.. Mengasah sebatas mana kemampuan masing-masih adalah jalan keluar terbaik diantara keduanya. Mereka bersiap untuk mengadu kesaktian.
Ki Bendesa Manik Mas
Ki Bendesa Manik Mas adalah orang yang begitu berwibawa. Beliau seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi. Mengamalkan ilmu kepada setiap masyarakat, membantu setiap yang membutuhkan pertolongan adalah hal yang menjadi dasar sikap beliau. Hal inilah yang membuat masyarakat begitu segan dengan beliau. Kemampuannyalah yang menyebabkan beliau mampu mengetahui apa yang telah terjadi di Desa Gading Wani. Beliau tahu bahwa saudaranya, Ki Dukuh Macan Gading, yang telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang telah lahir dari pengetahuan. Seorang yang mendapat anugrah pengetahuan, harus bersikap sesuai dengan kewajiban sendiri berdasar pada pengetahuan itu sendiri. Lebih mengutamakan kebenaran dari pada kepentingan diri sendiri. Segala bentuk hura-hura, judi dan mabuk harus sudah ditinggalkan. Bagaimana dalam keseharian harus selalu berusaha menjadi tuntunan di masyarakat. Bila hal itu diabaikan, niscaya wabah akan merasuki, pikiran buruk akan dapat mengarahkan kita pada hal-hal yang tidak seharusnya. Dan kegelapan akan menyelimuti sehingga dengan mudah sifa-sifat buruk, iri dengki, ego akan menjadi raja. Terjerumuslah ia ke dalam kegelapan itu sendiri.
Saudara adalah ikatan batin yang tak akan mampu terputus. Ia akan menjadi penghubung tanpa batas untuk dapat merasakan rasa itu sendiri. Apapun keadaannya, ia tidak akan dapat terjauhkan. Apalagi kemampuan dan pengetahuan memang mewajibkan untuk selalu menegakkan kebenaran. Kebenaran untuk menghalau energi buruk yang telah menyelimuti. Kebenaran untuk memberikan sinar di saat seseorang sedang terjerumus dalam gelap. Ki Bendesa Manik Mas menghaturkan hormat kepada Sanghyang Durga Birawi, permohonan maaf atas segala yang terjadi. Seraya meminta restu untuk dapat menghalau wabah penyakit yang mengganggu masyarakat Desa Gading Wani. Yadnya persembahan yang dihaturkan tidak sempurna, sehingga para bhuta merusak yadnya. Maka bhuta – bhuti harus di somya kembali menjadi dewa agar yadnya bisa berjalan dengan baik. Hanya dengan taksu hal ini bisa terjadi, karena taksu ngaran seni, seni ngaran ayu*. Segala jenis kebahagiaan semoga datang dari segala penjuru…
Babad sumber dari ki bendesa manik mas, tanpa mengurangi arti makna sumber cerita, membuat suatu kawi cerita namun tidak terlepas dari akar babad itu sendiri
Tengs to: komang gazes
Pagelaran Drama Tari ring Pura Dalem Penataran Manik Tirta, Ungasan
*energi akan memberikan keindahan yang pada akhirnya akan melahirkan kebahagiaan.
0 komentar: