Ki Balian Batur

Buah Pikiran
RatuAnom Manik Geni & RatuAyu Mas Mecaling
Ki Balian Batur tinggal di sebuah desa bernama Karang Kedangkan. Ia dikenal sakti karena mendapat anugrah dari Sanghyang Durga Birawi. Jangan manusia biasa, wong samar, dedemit, memedi tidak ada yang berani mendekat apalagi untuk berselisik bertemu dengan beliau. Inilah salah satu yang membuat Ki Balian Batur begitu terkenal. Berkat anugrah ini, Ki Balian Batur diberi kewenangan untuk menghukum orang-orang yang berlaku salah, berjalan dalam tindakan adharma/tidak benar. Setiap manusia yang tidak ingat untuk beryadnya, lupa akan kawitan, tidak hormat kepada orang tua, maka patutlah untuk memberikan hukuman kepada manusia itu. Demikian ki balian batur bercerita kepada ketiga anaknya, Ni Luh Gerong, Ni Luh Wali dan Ni Luh Kasub

Ni Luh Wali, dibantu oleh saudara-saudaranya, berjualan nasi di Desa Cau yang terletak di sebelah timur Desa Karang Kedangkan. Sebelum berangkat berjualan, ke-tiga putri Ki Balian Batur memohon restu sang ayah, agar selamat tidak terjadi sesuatu dalam pekerjaannya.

Ni Luh Wali adalah seorang yang giat bekerja, memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan. Sehingga dagangannya laris dan banyak masyarakat yg menjadi langganan nasi di warung miliknya.
Ki Balian Batur
Sisya Ki Balian Batur Ngereh
Makanan Berdaging Manusia

Cokorda Sakti Blambangan dari Puri Mengwi, memerintah dengan adil penuh wibawa. Masyarakat memberikan bakti tak henti-henti. Kesejahteraan rakyat selalu dijaga, tidak ada ketimpangan dan duka melanda masyarakat. Peraturan dilaksanakan dengan baik, yang bersalah diberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya. Kehidupan bagai sinar matahari pagi, rasa hangat terasa di setiap hati.

Namun Cokorda mendapat laporan bahwa di pasar Cau ada sedikit kekacauan. konon ada seorang pedagang makanan yang menggunakan daging manusia sebagai lauknya. Sebagai seorang pemimpin, tidak boleh mempercayai begitu saja berita yang belum tentu benarnya. Semua informasi yang didapat harus dipilah-pilah, kemudian diuraikan sedemikian hingga hingga ditemukanlah simpul-simpul yang menjadi akar permasalahannya. Untuk itu, Cokorda Cbersama abdi segera menuju Pasar Cau, mencari kebenaran yang terjadi.

Cerita bersiar, sang abdi menemukan sisa jeriji pada makanan. Entah siapa yang telah berbuat tidak benar ini dengan memasukkan jeriji manusia ke dalam makanan atau memang makanan itu disajikan seperti itu. Mengetahui hal ini, Cokorda Sakti Blambangan menajadi marah. Sebagai tabeng dada kerajaan mengwi, ia harus menghukum siapapun yang telah malukan perbuatan yang tidak dibenarkan ini. Ni Luh Wali tertangkap secara nyata telah memakai daging manusia dalam masakannya. Namun Luh Wali menolak dengan tegas apa yang diperlihatkan oleh sang abdi, karena merasa bahwa tidak pernah memakai daging manusia dalam masakan yang ia jual. Cokorda tidak menghiraukan, bukti-bukti telah ada dan Ni Luh Wali harus dihukum dengan tegas. Ni Luh Wali tetap kukuh untuk menolah semua tuduhan yang dilontarkan untuknya. Ia yang selalu berusaha menyajikan makanan tanpa cela, telah merasa difitnah. Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur, tidak terima atas perlakuan yang ia dapatkan. Ia tetap mempertahankan pendapatnya dan justru mempertanyakan peran Cokorda Sakti Blambangan sebagai pimpinan, seharusnya mampu mengayomi rakyatnya, bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan yang tidak pernah ada.

Cokorda Sakti sadar bahwa Ni Luh Wali adalah putri Ki Balian Batur, penguasa ilmu pengeleakan. Tentu apa yang dilakukan akan selalu berkaitan dengan ilmu pengelakan. Ayah yang memiliki ilmu hitam tentu ini akan diwarisi kepada anaknya. Mungkin inilah kebenaran atas berita yang simpang siur selama ini. Akhirnya, mereka sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing dan merasa telah melakukan swadarma-nya, sepakatlah mereka untuk saling adu kesaktian untuk membuktikan siapakah yang benar.

Ni Luh Wali merubah diri menjadi Garuda namun dengan mudah dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh Cokorda Sakti Blambangan. Ni Luh Wali tidak terima akan kekalahan, ia berlari melaporkan kejadian ini kepada ayahnya.

Ki Balian Batur yang merasa terhina dan difitnah, segera mengumpulkan para sisya untuk menyerang Kerajaan Mengwi dan membuat wabah di Desa Cau.
Tak berselang lama, banyak warga masyarakat yang menjadi korban keganasan penyakit yang disebar oleh Ki Balian Batur serta para sisya-nya. Setiap hari selalu ada warga yang meninggal. Sudah banyak para ahli pengobatan yang dikerahkan untuk menanggulangi bencara pennyakit aneh ini namun semuanya tidak mampu mengetahui apa yang menjadi sebab dan bagaimana menyembuhkannya penyakit aneh ini.

Cokorda Sakti Blambangan mengetahui bahwa penyakit aneh ini adalah akibat dari kemarahan Ki Balian Batur. Beliau ingat akan kejadian di Pasar Cau, dimana ia telah mempermalukan Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur yang telah menjual makanan dengan menggunakan daging manusia. Hal ini menjadi berkembang dan kekejaman Ki Balian Batur harus segera dihentikan. Tugas berat ini dibebankan kepada Ki Bendesa Gumiyar. Maka diutuslah Ki Bendesa untuk mengalahkan Ki Balian Batur dan menyelamatkan masyarakat dari wabah penyakit.

tengs to -Keluarga Besar Desa Adat Kemoning, Klungkung

Sekilas Dari Spirit of Raka Rasmi

Buah Pikiran “Menari merupakan bagian hidup saya. Bila tak menari, tubuh terasa kelu. Karena itu, saya senang mewariskan tarian Legong dan Oleg kepada generasi penerus sebagai yadnya” Ni Gusti Ayu Raka Rasmi

Seperangkat gamelan sudah tertata dengan baik. Gapura Puri Peliatan Ubud akan menjadi latar belakang Pementasan Tari Oleg pada acara “Spirit of Raka Rasmi”. Agung Wirati masih sibuk mengkoordinasikan beberapa hal agar pementasan dapat berlangsung sesuai rencana dan para penari juga dapat tampil secara maksimal. Saking sibuknya beliau, saya sempat menitipkan pesan, bahwa saya butuh waktu beliau 5 menit untuk berbicara, hahahaa…

Sejatinya ini adalah acara ulang tahun Ni Gusti Ayu Raka Rasmi, sang maestro tari Bali. Raka Rasmi adalah anak pertama dari lima bersaudara ini lahir di kota pusat seni, Ubud Bali. Raka Rasmi mulai belajar Tari Legong sejak umur 9 tahun dibimbing oleh Gusti Made Segog dan Anak Agung Gede Mandar. Dari kedua orang inilah Raka Rasmi banyak mendapat tempaan menjadi seorang penari.

Penglingsir Puri Agung Peliatan, Cok. Gde Putra Nindia, salam sambutannya menyampaikan bahwa beliau merasa bangga memiliki seorang Ayu Raka, seorang ibu dengan beragam penghargaan baik nasional maupun internasional. “Tentu ini merupakan hal yang luar biasa, diusia yang sudah senja namun semangat seorang Raka Rasmi begitu membara”, lanjut Cok. Gde Putra Nindia.

Disamping Ibu Agung Satria Naradha Dan Ibu Bintang Puspayoga, hadir juga sang maestro Jro Puspa, yang terlihat begitu antusias menyaksikan semua penampilan tari oleg. Walau usia beliau juga sudah senja namun setiap kegiatan seniman tua yang digagas oleh Yayasan Intan Budaya Negeri pimpinan Ibu Agung Wirati, beliau selalu menyempatkan untuk hadir. Ini adalah kali ke-tiga saya ketemu dengan beliau. Sesekali nampak anggukan kecil beliau seperti ikut larut dalam gerakan para penari. Entah kenapa saya senang sekali memperhatikan beliau, hahaa… mungkin gara-gara setahun yang lalu di tempat yang sama namun dalam acara berbeda, selesai menari Tari Candra Metu, beliau duduk bareng bersama para penonton dan kebetulan beliau duduk di samping saya. saya sempat mengatakan bahwa duduk di sini akan kena damuh (embun) akan membuat pusing. Jadi lebih Ibu Jero duduk di Balai Daja/Utara yg ada atapnya. Namun seingat saya, beliau hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa sebenarnya beliau memang sedang tidak enak badan dan putra beliau, AA Puspayoga yang juga wakil Gubernur Bali, sudah tidak meng-ijinan untuk pergi dan menari malam-malam. Tapi Ni Made Rupawati atau Jero Puspa tetap ngotot dan merasa mendapat energi yang besar untuk datang dan ikut menari.

Acara ulang tahun yang mengambil tema “Spirit of raka rasmi” merupakan sebuah upaya agar semangat yang dimiliki oleh seorang raka rasmi mampu diteladani oleh para generasi muda. Kesenian dan budaya bali yang begitu terkenal hingga ke berbagai belahan dunia agar nantinya tidak hanya menjadi cerita anak-anak saja, tapi akan terus berlanjut dan bahkan mampu melebihi gaung para pendahulunya. Kesenian luar yang banyak menggerus para generasi muda saat ini bukan merupakan sesuatu yang salah namun harus tetap kita gunakan filter untuk memilah hal-hal mana yang patut kita ambil dan buang. Pakem-pakem yang telah diwariskan para pendahulu khususnya para seniman tua harus tetap kita pertahankan dan gunakan sebagai acuan dalam mengembangkan berbagai kesenian yang tercipta.

Pada malam itu, secara berturut-turun ditampilkan Tari Pendet Style Peliatan, Tari Oleg Tamulilingan oleh penari cilik, menengah, remaja dan senior.

Penari Terbaik

Tari Oleg Tamulilingan, pada awalnya dinamakan Tamulilingan Mangisep Sari. sebuah karya seniman besar I Ketut Maria tahun 1952 atas permintaan John Coast (dari Amerika). Tarian ini melukiskan dua ekor kumbang jantan dan betina yang sedang memadu kasih di taman bunga dan Ni Gusti Ayu Raka Rasmi-lah yang tercatat sebagai penari pertama tarian ini. Penari kelahiran Banjar Teruna, Peliatan Ubud tahun 1939 ini telah banyak mendapat bimbingan oleh kedua guru tarinya, kemudian kembali mengikuti keinginannya untuk belajar tari Oleg Tamulilingan dari Sang Maestro I Ketut Maria.

Bukan hanya tari oleg tamulilingan saja yang mampu ditarikan dengan sangat baik tapi disetiap penampilannya baik dalam menari Condong, Legong, Garuda dll, Ayu Raka atau Raka Rasmi tetap mampu memikat siapa saja yang menyaksikan gerak Ayu Raka menari. Karena inilah seorang Impresario asal Inggris, John Coast terkagum-kagum dan kemudian menobatkan Ayu Raka sebagai seorang bintang dalam menari. Bahkan Raka rasmi menjadi cover buku "Dancing Out of Bali" karya John Coast.

Kini, diusia senja, seorang Raka Rasmi masih tetap penuh dengan energi. Semangat beliau sepertinya tidak pernah habis. Disela-sela kesibukan, beliau masih menyempatkan diri untuk saling berbagi, bernyadnya untuk menebar semangat bagi para generasi muda. Bali yang begitu terkenal diluar negeri, bali yang selalu menjadi tujuan pariwisata Indonesia bahkan dunia dan bali adalah karya Tuhan yang terindah… dengan begitu luhung seni dan budayanya jika tidak kita yang mencintai, siapa yang akan mampu melestarikan kebudayaan ini.




yannusa
tengs edit foto untuk Kanaya Radha

I Gede Basur, Penguasa Ilmu Leak Desti di Bali

Buah Pikiran
Keberadaan leak di Bali dari jaman dahulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna, keberadaannya dari dulu menjadi perbincangan yang menakutkan di masyarakat.Ilmu Desti atau ilmu pengleakan sejatinya adalah ilmu Bali kuno dan merupakan ilmu rahasia. Rahasia karena pada zaman dahulu, tidak sembarangan orang bisa menguasai kemampuan ini. Diceritakan bahwa hanya para raja dan bawahannya yang memiliki ilmu ini untuk mempertahankan dan membela diri dan kerajaan dari serangan. Selain itu, dalam proses ngeleak, ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan dan prosesnya ini membutuhkan tempat yang tersembunyi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ngeleak dilakukan di kuburan. Salah satu norma yang dipahami dalam pengelakan, siapapun dirimu, entah manusia, orang sakti, kaya, miskin, kesemuanya itu pasti akan berakhir di kuburan. Inilah mengapa kuburan dianggap tempat suci. Jro Mangku Sudiana dari Sesetan, sahabat saya, pernah menyatakan bahwa kuburan adalah satu satu tempat suci.

Seiring perkembangan zaman, ilmu pengelakan sering dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri yang kurang baik. Ilmu pengelakan adalah ilmu seni, tidak untuk membunuh atau menyakiti, hanya untuk menikmati sensasi dunia dari dimensi yang berbeda. Dalam ilmu pengelakan ada norma atau aturan-aturan tersendiri yang harus diikuti. Ibarat pedang bermata dua, ilmu pengeleakan dipakai oleh manusia untuk menyakiti bahkan untuk membunuh orang yang diinginkan. Karena rasa dendam, rasa ingin memiliki, iri, dengki, egois dll.

Ada beberapa cerita yang dalam pembabakannya mengisahkan bagaimana seseorang menguasai ilmu pengelakan. Mempergunakannya sesuai dengan keadaan pada masing-masing zamannya. Salah satunya cerita dramatri I Gede Basur.

I Nyoman Karang

Seorang laki-laki sederhana, berperilaku baik dan hidup membaur di masyarakat. I Nyoman Karang, begitu laki-laki itu dipanggil di Banjaran Sari. Ia hidup bersama putri kesayangannya, Ni Nyoman Sukasti. Kebahagiaan selalu menyelimuti kehidupannya. Walau sudah ditinggal oleh sang istri, namun I Nyoman Karang mampu membesarkan putri satu-satunya. Suatu hari, ia terkenang saat istrinya melahirkan Ni Nyoman Sukasti. Kesedihan itu masih ia rasakan. Istrinya bertarung dengan maut, mengerahkan kemampuan yg dimiliki, berusaha keras agar bayi yg terkandung dalam rahimnya, bisa terlahir dengan sempurna. Memiliki keturunan dan menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan tetinggi bagi sang istri. Sebagai seorang suami, ia juga ikut merasakan beban berat yang diderita istrinya. Hanya berdoa, memohon agar Ida Sanghyang Widhi memberikan yang terbaik bagi istri dan anaknya.

Ida sanghyang Widhi mengabulkan permohonan I Nyoman Karang, sang bayi yg ditunggu-tunggu, tangisan sang bayi telah terdengar, menandakan sang bayi telah lahir dengan sempurna. Namun di tengah kegembiraan itu, istrinya tidak pernah menghembuskan nafas lagi. Nafas terakhir itu telah diberikan untuk kelahiran sang putri. Kegembiraan yang terselimuti oleh kepedihan tercampur berbaur dalam hati I Nyoman Karang saat itu.

Sebagai orang tua, ia harus tetap hidup, ia harus tetap tegar untuk melaksanakan pesan yang dititipkan oleh istri untuk membesarkan sang putri. Hujan lebat serta kilatan petir menyambar, semakin menambah kepedihan dalam diri I Nyoman Karang. Dalam keadaan terguncang , ia pergi ke tengah hutan, mencari sesuatu yang bisa diberikan untuk anaknya yang masih merah.

Wajahnya menjadi sendu, buliran air hampir saja menetes di wajah I Nyoman Karang. Ni Nyoman Sukasti tersentuh oleh cerita orangtuanya.

“oh engkau guru saya, orang tua saya, orang yg paling saya hormati, orang yg telah meniupkan jiwa dalam badan saya, terimakasih dan rasa hormat semua saya serahkan untuk engkau ayah…. Dengan apa saya harus membalas semua pemberian ayah pada anakmu ini... karena hutang seorang anak, pernah bisa terlunaskan...” demikian Ni Nyoman Sukasti terisak di hadapan ayahnya. “Jadilah wanita yang berbudi luhur, jaga dirimu dengan baik, agar menjadi putra suputra….” Singkat permintaan I Nyoman Karang.

I Gede Basur

I Gede Basur seorang kaya raya yang tinggal di Banjaran Santun. Ia menjadi sangat terkenal karena menguasai ilmu pengiwa atau ilmu aliran hitam. I Wayan Tigaron adalah satu-satunya putra dan merupakan kesayangan I Gede Basur. Namun sifat I Wayan Tigaron tidak begitu baik, kebiasaan berjudi, mabuk minuman keras dan mempermainkan wanita adalah hal yang biasa dalam kesehariannya. Sebagai orang tua, I Gede Basur selalu menuruti setiap permintaan anak kesayangannya. Namun demikian, I Gede Basur pun sudah tidak sabar ingin memiliki seorang menantu, menimang seorang cucu. Tiada kebahagiaan yang ia inginkan saat ini selain menjadi seorang kakek, melewati masa tua diganggu oleh tingkah lucu menggemaskan dari sang cucu. I Gede Basur tahu bahwa anaknya telah jatuh cinta pada Ni Nyoman Sukasti dan iapun teringat bahwa I Wayan Tigaron sempat memberitahunya untuk melamar ke Banjaran Sari. Segera I Gede Basur mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar ni nyoman sukasti di Banjaran Sari. Perlengkapan dipersiapkan, segala jenis perhiasan dan kekayaan dunia akan diberikan sebagai bukti keseriusan lamaran kali ini.

Lamaran yang Ditolak

I Gede Basur dan I Nyoman Karang saling beramah tamah. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu, rasa kangen telah ditumpahkan kedua anak manusia itu. Penuh percaya diri karena merasa yakin akan lamarannya, I Gede Basur secara langsung menyampaikan bahwa anaknya, I Wayan Tigaron, sudah beranjak dewasa, demikian juga dengan Ni Nyoman Sukasti, sudah saatnyalah untuk mencari pendamping hidupnya. Yang diharapkan adalah kebahagiaan, karena harta benda, kekayaan duniawi yang dimiliki tiada arti kalau rasa persaudaraan yang telah diciptakan oleh para leluhur dahulu terputus begitu saja. Alangkah baiknya jika rasa persaudaran yang telah terjalin ini dipertegas kembali. Salah satunya adalah dengan menikahkan I Wayan Tigaron dengan Ni Nyoman Sukasti. Karena dengan demikian bukan hanya dua keluarga yang akan menjadi satu tapi rasa kekeluargaan kedua banjaran pun akan terbina dengan baik. Ini tentu akan memberikan dampak yang baik bagi kedua belah pihak. Demikian perasaan I Gede Basur dengan senangnya. I nyoman karang menyambut baik keinginan I Gede Basur. Ia pun merasa berbahagia akan kepercayaan yang diberikan I Gede Basur terhadapnya. Seperti seorang yang haus, diberikan seteguh air untuk melepas dahaga selama ini. Namun karena ini adalah masalah pernikahan anaknya, ia tidak mau memutuskan. I Nyoman Karang menyerahkan segala keputusan ini kepada anaknya karena memilih pendamping untuk menemani seumur hidup adalah mutlak menjadi keputusan Ni Nyoman Sukasti.

Ni Nyoman Sukasti, wanita cantik berpengetahuan, menolak pelamaran. Pendamping seumur hidup haruslah dipilih berdasarkan cinta, karena kekayaan duniawi bersifat semu. Ia akan pudar seiring berjalannya waktu. Walau seorang yang lahir dari kemiskinan, kalau ia memiliki cinta sejati maka seseorang itulah yang disebut kaya. Kekayaan yang tidak semu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga akan hadir bila kedua pasangan itu memiliki cinta sejati.. cinta sejati itu ada pada I Wayan Tirta. Itulah yang Ni Nyoman Sukasti inginkan.

I Gede Basur yang keinginannya selalu terpenuhi, kali ini harus pulang dengan tangan hampa. Dalam hatinya ia merasa sakit luar biasa, pelamaran yang telah dipersiapkan dengan begitu mewah harus diakhiri oleh kegagalan. Namun I gede basur sadar kebenaran upacan Ni Noman Sukasti. Pernikahan haruslah didasar atas rasa cinta, bukan oleh harta dunia. I Gede Basur menemui I Wayan Tigaron. Sebagai orang tua, ia meminta maaf atas kegagalannya untuk membawa Ni Nyoman Sukasti sebagai calon memantu. I Wayan Tigaron yang memang memiliki sifat kurang baik, tidak peduli, ia kukuh bahwa Ni Nyoman Sukasti harus menjadi istrinya. Ia menyalahkan ayahnya karena telah gagal, ia juga mempertanyakan kemampuan ilmu hitam yang dimiliki ayahnya. Seraya, mengungkit-ungkit, memanas-manasi, merasa sia-sia memiliki kekayaan yang berlimpah, kalau hanya melamar seorang Ni Nyoman Sukasti saja tidak mampu. I Gede Basur merasa terhina kembali, kemarahannya memuncak hingga timbullah kebencian dalam dirinya. Rasa benci ini harus dihapus oleh kematian I Nyoman Karang dan Ni Nyoman Sukasti.

Bencana Banjaran Sari

I Gede Basur berangkat ke kuburan, memohon anugrah Bhatari Durga, agar dapat membuat wabah di Banjaran Sari. Semua muridnya dikerahkan, para leak diundang untuk ikut membantu menjalankan niat jahatnya, menghancurkan Banjaran Sari. Satu persatu warga Banjaran Sari menjadi korban akibat kekejaman I Gede Basur. Setiap saat selalu ada warga yang sakit dan tak berselang lama meninggal. Para ahli pengobatan dikerahkan untuk menyelesaikan permasalahan ini justru menjadi korban keganasan wabah penyakit yang digelar I Gede Basur.

Keresahan masyarakat diketahui oleh seorang Jro Balian. Jro Balian yang memiliki kemampuan dengan pengetahuan tinggi mampu mengetahui sebab wabah di Banjaran Sari. Ia yang telah belajar ilmu aliran kanan atau penengen akan berupaya dengan semua kemampuan untuk melenyapkan ilmu pengleakan / pengiwa I Gede Basur. Berangkatlah Jro Balian ke kediaman I Gede Basur untuk meminta pertanggungjawaban karena telah membuat wabah / gerubug di Banjaran Sari. Tak mendapatkan titik temu, keduanya sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing. Akhirnya saling adu kemampuanlah yang menjadi titik penyelesaiannya.


Tengs to - Keluarga Besar Pemerajan Agung Sakti Padangsambian
* kalau ingin melihat leak ngendih atau endihan leak datanglah ke kuburan pada tengah malam Kajeng Kliwon Enyitan

Melali To Lembongan

Buah Pikiran
crew
Tidak seperti biasanya, kalau urusan ngayah/bekerja dg iklas tanpa mengharapkan upah di acara dunia magis, kita pasti berangkat sore. Namun kali ini lokasinya berada di sebelah timur Pulau Bali, mesti nyeberang Selat Badung. Pada saat ketemuan dengan Pak Kadek Miles, orang yg menjadi kontak saya, sudah diwanti-wanti agar berkumpul tepat waktu di Pantai Sanur. “Keberangkatan akan barengan dengan Ratu Peranda” singkat kalimatnya di HP.

Tepat sampai di sanur, sudah ada beberapa semeton dari Nusa Lembongan menunggu untuk ikut membantu mengangkut perlengkapan kerja pendokumentasian pementasan dramatari klasik Dukuh Suladri di Desa Adat Lembongan. Tengkiu untuk Pak Sugik, Kapten Speed Boat Sea Horse, perjalanan yg menyenangkan sampai di Lembongan. Sebenarnya sudah beberapa kali mengenal Lembongan, bahkan saya pernah ngajak istri untuk berlibur ke pulau mungil nan indah ini. Cerita indah itu tertulis dengan baik di sini. dan disini Di Lembongan, kami langsung menuju ke lokasi pementasan, mengecek segala sesuatu untuk keperluan pendokumentasian. Dimana lokasi penempatan peralatan operator, bagaimana kelistrikan, audio dan penempatan sudut ambil gambar. Bahkan bapak petugas PLN cabang Lembongan ikut terjun langsung ke lokasi untuk memastikan ketersediaan listrik untuk pementasan kali ini.

Saya yg sudah beberapa kali ke Nusa Lembongan, masih sempat untuk menanyakan, “kenapa di sini panas sekali..?” “kalau gak panas, bukan nusa namanya Sus”, sms Bli Balok, semeton saya yg kebetulan dari Banjar Kangin, Desa Jungutbatu, Lembongan. Ada sesuatu yg membuat saya tergelitik saat itu, ada spanduk bertuliskan “calonarang dukuh suladri.”, lho? Ini pementasan Calonarang apa Dukuh Suladri..? saya dipastikan bahwa ini pementasan dengan cerita Dukuh Suladri, tapi kok tulisan spanduknya Calonarang..? saya tidak mendapat jawaban…


Balok Fam

Pak Balok 

Ada waktu dimana kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu kerabat teman yg kebetulan tinggal di Jungutbatu. Pak Sugeng, sang penjual bakso, tengkiu pak, ayam krispinya gede dan krispi banget, enak ( gratisan hehee.. ). Masuk sms salah satu teman, Windu ( adik Bli Balok ), ia meminta agar menyempatkan waktu untuk singgah ke rumahnya di Jungutbatu. Tapi waktunya kurang tepat, hari itu Buda Cemeng Klawu. Banyak odalan / upacara di sini. Yah, saya hanya bertemu dengan bapak-nya Bli Balok. Saya tidak tahu siapa nama asli beliau karena di daerah sini, seseorang dipanggil sesuai dengan nama anaknya yg pertama, pak balok. Pembicaraan panjang dari tentang cerita sudah ada banyak cucu, jatuh dari sepeda motor..? ( beliau adalah seorang kapten yg sudah masuk katagori legend di Nusa ), mencari hari-hari baik/pawukon, pura2, cerita wayang cengblonk, Calonarang, Dukuh Suladri ( lebih ke arah kepemangkuan ) sampai sudah cukup untuk merasakan hidup ( ini cerita yg berat, karena memang saya suka kalau membicarakan sesuatu tentang hidup dan kehidupan, karena beliau orangnya terbuka, antara mengkritik dg di kritik ). Bapak bli balok, masih seperti dulu, saat saya kenal belasan tahun yg lalu, saat memek / istri beliau masih ada. Beliau adalah orang tua yg baik, saya sudah menganggapnya sebagai orang tua saya. 

Seperti biasa, saya selalu menikmati setiap pementasan2 seperti ini. Namun kali ini saya ditemani Bli Balok, asisten saya, hahahaa… (just kidding bli ). Awal-awal pementasan berjalan seperti biasa. setelah keluar sisya ngereh /murid-murid Dayu Datu baru saya menjadi lebih tertarik, para penarinya pasti cantik-cantik dengan pakaian dan tarian yg magis. Suasana kembali sedikit berubah saat bangke-bangke-an memasuki kalangan,. Kali ini ada 2 bangke yg di tampilkan, diusung dari dalam Pura Pesimpangan Dalem Ped menuju ke kalangan. Satu persatu penonton mulai kerawuhan/trance Beruntung para pecalang/petugas pengamanan adat sigap untuk mengantisipasi agar yg kerawuhan tidak sampai mengganggu acara. Suasana semakin terasa berbeda saat cerita memasuki adegan Dukuh Suladri beradu kesaktian dengan Dayu Datu. Ida Ratu Sasuhunan yg berstana di Pura Penataran Pesimpangan Dalem Ped di Lembongan benar-benar luar biasa. Baru sesaat Beliau napak pertiwi/menyentuh bumi, damuh-damuh ida / para bawahan Sang Ratu sudah pada kerawuhan/trance menyambut kehadiran Beliau. Kalau boleh dibilang hampir sepertiga dari penonton yg hadir ikut kerawuhan / trance. Sampai-sampai teman-teman pada kewalahan untuk mendokumentasikan. Kamera terhalangi oleh yg kerawuhan dan penonton. Bahkan 2 buah lampu kami diterjang oleh semeton yg kerawuhan.

Karya mapelaspas lan ngeteg linggih Ini adalah kesempatan baik untuk nyolahang Ida Ratu Sasuhunan, bukan dikerumini yg justru membuat sempit ruang gerak Ida Ratu Sasuhunan untuk masolah. Dan sang juru kamera yg bertugas untuk membidik gambar dari angle yg bagus malah terhalangi para penonton. Semoga tahun-tahun ke depan, panitia lebih sigap untuk mengantisipasi hal ini. Tetap syukur semua berjalan dengan dengan baik-baik saja..

Tengs to- pak kadek miles, pak ketut ardana

Aji Kepatian Weda Sulambang Geni Pasupati Ki Bendesa Manik Mas

Buah Pikiran
Ida Sasuhunan Pura Dalem Manik Tirta
Ki Bendesa Gading Wani adalah seorang kaya raya di Desa Gading Wani. Tidak ada yang berani menentang segala keputusan beliau. Apalagi setelah beliau mendapat anugrah, dwi jati, kesempatan untuk dilahirkan dari pengetahuan oleh Maha Rsi Danghyang Nirartha. Ki Bendesa Gading Wani mendapat julukan Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading merasa begitu bahagia. Kebahagiaannya semakin menjadi setelah melihat kemakmuran yang dirasakan masyarakatnya. Beliau merasa ini adalah berkat kedatangan Danghyang Nirartha. Vibrasi Danghyang Nirartha telah memberikan energi baik bagi setiap makhluk di pedesaan pun merupakan berkat subur bagi tanah persawahan di Desa Gading Wani. Kebahagiaan tak terhingga inilah yang memunculkan rasa, keinginan untuk terus berbakti pada Sang Pemilik Jagad, Ida Sang Hyang Widhi. Upacara yadnya, itulah yang terbersit dalam pikiran Ki Macan Gading sebagai ungkapan syukur atas anugrah kebahagiaan ini. Karena baginya, tiada berguna kekayaan berlimpah jika ia tidak mampu menghaturkan yadnya persembahan. Sebagai tanda perhormatan untuk guru, bahwa dengan yadnya, sebagai tanda bahwa kita berbakti, apalagi beliau telah lahir dari pengetahuan, diperbolehkan untuk melaksanakan yadnya.

Sang Kalika Maya 

Sang Kalika Maya, Sisya Sanghyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Sang Kalika Maya terkenal karena kemampuan ilmu hitam/ pengeleakan yang dimiliki. Tak ayal, begitu banyak orang dari berbagai penjuru desa datang menghadap, memohon agar berkenan dijadikan murid Sang Kalika Maya. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Zaman Kali Yuga, zaman dimana sifat manusia tamak dengan keinginan / kama, sifat-sifat satwan / kebenaran sudah diselimuti oleh rajas, tamas.

Sang Kalika Maya menceritakan pada muridnya, ia masih teringat akan tugas yg diberikan padanya. Dari dalam hatinya, ia melihat bahwa seorang manusia yang bernama Ki Dukuh Macan Gading sedang persiapan dalam melaksanakan upacara yadnya yang didasari oleh sifat angkuh, menyombongkan diri. walau upacara yadnya dilakukan penuh dengan kemegahan duniawi, namun sang dukuh lupa bagaimana seharusnya bersikap dalam melaksanakan upacara yadnya. Upacara yadnya yang dilakukan, baik dalam dewa, rsi, manusia, pitra maupun butha yadnya (panca yadnya – 5 korban suci ), harus didasari oleh rasa iklas, tulus dan suci. Jika tidak, sia-sialah yadnya tersebut. Tugas Sang Kalika Maya –lah yang akan memberikan hukuman akibat kelalaian tingkah Ki Bendesa Macan Gading.

Sisya Ngereh
Di Setra Gandamayu, malam pekat yang tak biasanya, deras hujan mengguyur tanah kering, mengalirkan air bercampur tanah basah, guntur menggelegar, petir menyambar menyilaukam mata. Sang Kalika Maya berdiri bersama para sisya, berdoa kehadapan Sanghyang Durga Birawi. Memohon anugrah agar dapat membuat wabah penyakit di Desa Gading Wana. Mereka bersiap menggagalkan upacara yadnya yang sedang digelar oleh Ki Bendesa Macan Gading di Desa Gading Wana. Wabah di Gading Wana Desa Gading Wana yang sedang hingar binger oleh persiapan upacara yadnya mejadi geger. Kehidupan yang tenteram berbah menjadi suasana menyeramkan. Tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah di malam hari. Persiapan upacara menjadi kacau. Bahan-bahan yang menjadi persiapan untuk upacara menjadi cepat busuk. Berbagai perlengkapan upacara yang lain menjadi rusak tak menentu. Banyak warga yang tiba-tiba jatuh sakit dan tak berselang lama, meninggal. Ki Dukuh Macan Gading menjadi risau, kebingungan akan kejadian aneh yang menimpa masyarakatnya. Rasa sedih tak tertahankan menyaksikan masyarakatnya dalam keadaan menderita akibat sesuatu yang tidak jelas. Dalam keadaan pasrah, ia teringat akan saudaranya, Ki Bendesa Manik Mas. Segeralah ia berangkat menuju Desa Mas, meminta bantuan Ki Bendesa Manik Mas.

Pertemuan Kalika Maya
Pertemuan Kalika Maya

Di tengah perjalanannya, Ki Dukuh Macan Gading bertemu dengan Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menanyakan kenapa Ki Dukuh Macan Gading begitu tergopoh-gopoh dalam perjalanannya. Ki Macan Gading mengatakan bahwa ia terburu-buru untuk bertemu saudaranya , Ki Dukuh Manik Mas di Desa Mas. Sang Kalika Maya, yg sudah tahu dengan apa yg terjadi kembali menyindir, kenapa saat puncak upacara yadnya yg Ki Dukuh Macan Gading lakukan, justru ia pergi meninggalkannya. Ki Dukuh Macan Gading yg terkenal karena kesaktiannya, seakan lari dari tanggung jawab yg sedang ia hadapi.. begitu Sang Kalika Maya menyindir sikap Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading sadar, ia sedang berhadapan dengan siapa. Sang Kalika Maya, seorang dengan dengan kemampuan ilmu hitam / pengeleakan tingkat tinggi.

Berkat kemampuannya, Ki Dukuh Macan Gading juga mampu mengetahui bahwa wabah penyakit yang menimpa masyarakatnya akibat ulah dari Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menyangkal dan mempertanyakan hal apa yg bisa dijadikan alasan untuk dapat menuduh bahwa dirinyalah yang menjadi sebab wabah penyakit di desa. Sesuatu yang diucapkan tanpa dasar yang kuat merupakan sebuah fitnah dan itu pasti menyakitkan. Justru ia mempertanyakan, bukahkan setiap upacara yg dilakukan harus mendapat restu dari Tuhan. Bukan melaksanakan upacara yang asal-asalan. Setiap tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan adalah sesuatu yang sia-sia. Upacara yang dilakukan seharusnya didasari oleh pengetahuan, disesuaikan dengan desa kala patra (tempat waktu dan keadaan) serta berpedoman pada tri hita karana (tiga hubungan yang harmonis) yang akan mengarahkan kita pada kebahagiaan. Harta kekayaan yang dimiliki adalah sesuatu yang palsu. Walau mendapat anugrah, walau berasal dari keturunan terhormat, kalau sesana tidak mencerminkan anugrah, kalau perilaku tidak layak menyandang gelar terhormat, ibarat berjalan tanpa pengetahuan, sia-sia apa yang telah dilakukan. Merasa panas karena didera oleh manusia “hitam” seperti Sang Kalika Maya. Harga diri dari keturunan, kemampuan dan pengetahuan serasa tiada mampu menahan cercaan. Beragam cercaan pernyataan, Ki Dukuh Macan Gading merasa tersudutkan. Pikiran sempit menyelimuti dan pembicaraan tidak akan menyelesaikan permasalahan.. Mengasah sebatas mana kemampuan masing-masih adalah jalan keluar terbaik diantara keduanya. Mereka bersiap untuk mengadu kesaktian.

Ki Bendesa Manik Mas 

Ki Bendesa Manik Mas adalah orang yang begitu berwibawa. Beliau seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi. Mengamalkan ilmu kepada setiap masyarakat, membantu setiap yang membutuhkan pertolongan adalah hal yang menjadi dasar sikap beliau. Hal inilah yang membuat masyarakat begitu segan dengan beliau. Kemampuannyalah yang menyebabkan beliau mampu mengetahui apa yang telah terjadi di Desa Gading Wani. Beliau tahu bahwa saudaranya, Ki Dukuh Macan Gading, yang telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang telah lahir dari pengetahuan. Seorang yang mendapat anugrah pengetahuan, harus bersikap sesuai dengan kewajiban sendiri berdasar pada pengetahuan itu sendiri. Lebih mengutamakan kebenaran dari pada kepentingan diri sendiri. Segala bentuk hura-hura, judi dan mabuk harus sudah ditinggalkan. Bagaimana dalam keseharian harus selalu berusaha menjadi tuntunan di masyarakat. Bila hal itu diabaikan, niscaya wabah akan merasuki, pikiran buruk akan dapat mengarahkan kita pada hal-hal yang tidak seharusnya. Dan kegelapan akan menyelimuti sehingga dengan mudah sifa-sifat buruk, iri dengki, ego akan menjadi raja. Terjerumuslah ia ke dalam kegelapan itu sendiri.

Saudara adalah ikatan batin yang tak akan mampu terputus. Ia akan menjadi penghubung tanpa batas untuk dapat merasakan rasa itu sendiri. Apapun keadaannya, ia tidak akan dapat terjauhkan. Apalagi kemampuan dan pengetahuan memang mewajibkan untuk selalu menegakkan kebenaran. Kebenaran untuk menghalau energi buruk yang telah menyelimuti. Kebenaran untuk memberikan sinar di saat seseorang sedang terjerumus dalam gelap. Ki Bendesa Manik Mas menghaturkan hormat kepada Sanghyang Durga Birawi, permohonan maaf atas segala yang terjadi. Seraya meminta restu untuk dapat menghalau wabah penyakit yang mengganggu masyarakat Desa Gading Wani. Yadnya persembahan yang dihaturkan tidak sempurna, sehingga para bhuta merusak yadnya. Maka bhuta – bhuti harus di somya kembali menjadi dewa agar yadnya bisa berjalan dengan baik. Hanya dengan taksu hal ini bisa terjadi, karena taksu ngaran seni, seni ngaran ayu*. Segala jenis kebahagiaan semoga datang dari segala penjuru…



Babad sumber dari ki bendesa manik mas, tanpa mengurangi arti makna sumber cerita, membuat suatu kawi cerita namun tidak terlepas dari akar babad itu sendiri 

Tengs to: komang gazes 
Pagelaran Drama Tari ring Pura Dalem Penataran Manik Tirta, Ungasan 
*energi akan memberikan keindahan yang pada akhirnya akan melahirkan kebahagiaan.