Tampilkan postingan dengan label Plesiran. Tampilkan semua postingan

I Binor

Buah Pikiran
Dyah Manik Bengkel
Di Hutan Bengkel..

Keindahan Hutan Bengkel, begitu memesona. Keasrian hutan membuat para binatang hidup dengan tenang. Dyah Manik Bengkel berhasil membuat setiap yang memasuki hutan, berdetak akan keindahan hutan. 

Ni Sujang
Ni Semalang
Pagi ini, Dyah Manik Bengkel duduk termenung dalam kesendiriannya. Halauan kepak burung kenari tidak juga mengedipkan
kelopak Sang Nata.






Perjalanan dingin menjauh akibat halauan matahari di dalam sinar kulitnya yang semakin keriput hanya mampu menggoyahkan tangan yang lain untuk mengusap. Kewibaan masih terasa di rona sendu, sesekali seperti mengangguk, berbicara dengan seseorang. Begitu dihormati oleh para penghuni hutan, bahkan para penghuni tak kasat mata memilih segan. Parau suara tiba-tiba terdengar, “Ni Sujang, tolong panggilkan adikmu…”

Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tatapan mata sendu masih tak bergeming, namun anggukan sudah tenang seperti teman yang tidak tidak ada lagi. 

“sembah sujud ku buat Ibu,,,” Ni Semalang menatap sekelompok debu di atas tanah yang masih tertidur dengan tenang. Sudah lama mereka menjaga hutan bengkel. Keindahan hutan, sejuk hinggap di kulit menandakan indah yang sesungguhnya. Jagalah hutan dengan baik, bukan saat berhasil membuat indah menjadi tujuannya. Bekerja dengan baik, memberikan hasilnya kepada alam, itu adalah kerja yang sesungguhnya, kebahagiaan yang diinginkan. Nampak senyum sang nata membalikkan tubuh tuanya,, “kita berjalan..”


Di Peguyangan

Jro Bendesa Gading Wani

Kehidupan masyarakat peguyangan begitu tenteram. Jro Bendesa Gading Wani mengatur kehidupan masyarakatnya dengan beijaksana. Ajaran agama dengan perpaduan budaya dan sastra beliau pelajari layaknya sarapan yang harus diselesaikan. Ada saling hormat-menghormati. Menjadi contoh di masyarakat, berdiri di tepi terdepan adalah sesuatu yang sulit untuk dipertahankan. Laksanakan dengan rasa syukur bakti pada sang alam, mampu berjalan dengan baik kerta raharja. 









Keinginan Jro Bendesa untuk sedikit melebarkan wilayah Peguyangan sempat dilontarkan pada kedua abdi. Jro Bendesa ingin Peguyangan “jimbar”, luar dan tenteram berdampingan satu dengan lain. “..kita menuju ke tepi sisi selatan..”







Kenapa Merusak..?

Ida Sasuhunan
Tepi selatan hutan telah diratakan, proses men-jimbar-kan peguyangan telah dimulai. Keinginan agar masyarakat bisa hidup layak, leluasa dan sejahtera, tidak yang lain.  Dua wanita cantik bersedih melihat alam sedang diperlakukan dengan tidak layak. Keindahan alam tidak seharusnya menjadi korban akibat dari kesejahteraan manusia. Manusia harus bisa menghormati alam, seperti terlantunkan nilai penyebab kebahagiaan. Kekecewaannya mulai dirasakan, dia yang telah menjaga hutan dengan segenap hatinya, merasa terhinakan dengan yang ia lihat kali ini.  


Ni Sumalang mempertanyakan tujuan Jro Bendesa Gading Wani merusak hutan. Namun, justru ada keributan dalam adu pendapat mereka. Ni Sumalang, “bolehkan aku marah kali ini…?”

Dyah Manik Bengkel tersenyum mendengar cerita Ni Sujang. Angin bertiup, sepertinya ada begitu banyak yang datang. Senyum dari wajah tua itu masih Nampak, namun kali ini, seperti mengerikan. “Jika ini yang diinginkan Bendesa Gading Wani, biarkan dia bekerja sesuai dengan keinginannya“


Ngeruak..?

I Binor
Lihat, I Binor.. lihat, I Binor..   Warna merah cantik bertengger di daun telinga, kembang sepatu warna merah, menandakan keberanian. Saling tersenyum dengan empat saudara. Lahir di dunia, semestinya tahu, dari mana, kenapa dan kemana. Tetap kukuh dalam kebenaran dengan berpikir, berkata dan berbuat yang baik. 

Entah kenapa, I Binor merasa sendu. Teringat akan pesan yang disampaikan bendesa gading wani di Peguyangan memohonkan bantuan I Binor. Entah wabah apa yang menimpa masyarakat Peguyangan, banyak yang meninggal tanpa sakit. I Binor paham bahwa hutan itu adalah “pingit”. Apalagi hutan Beng sangat disayang oleh Diah Manik Bengkel. Kesedihan biarkan berlalu, apa yang telah terjadi dicarikan penyelesaian. Ada sikap-sikap seorang kesatria, berani menghadapi musuh, berdiri di depan dan rela berkorban. Persahabatan sejati, adalah ada saat sahabat membutuhkan pertolongan. I Binor melangkahkan kaki menuju hutan Beng.


Ida Sasuhunan
Hutan Beng, hutan yang indah. Para penghuni hutan bernyanyi bersama untai dedaunan pohon hutan. Namun ada rasa yang berbeda. I Binor menatap dalam setiap daun yang jatuh. Mencari dimana Dyah Manik Bengkel, untuk dikembalikan menjadi sebagaimana yang seharusnya. Anugrah yang didapat harus digunakan dengan baik pula. 






Kekuatan yang besar bukan sebuah kesewenang-wenangan namun ada  sebuah tanggung jawab yang berat. Energi buruk yang ditebar membuat ia salah dalam bertindak. Sangat patut  ia diingatkan untuk menjadi baik. 

Tari Rejang dalam prosesi "Ngeruak"
Hutan yang tercemar dikembalikan seperti sedia kala. Untuk menghormati “anugrah” alam semesta, dibangunlah “parhyangan” yang dinamakan Pura Dalem Bengkel. 



tengs – keluarga besar pura kahyangan desa pohgading, ubung kaja

Tari Sanghyang Jaran

Buah Pikiran

Selesai menyaksikan pementasan Sekaa Kecak Wanita “Srikandhi” oleh dari ibu-ibu PKK Srikandhi Desa Ubud Tengah di jaba Pura Batu Karu, Ubud. Ternyata masih ada pementasan yang lain yaitu pementasan Tari Sanghyang Jaran. Wow, setelah kecak wanita yang klasik, sekarang Tari Sanghyang Jaran yang penuh magis. Mantapss..

Sekilas bahwa Tari Sanghyang jaran adalah tarian magis karena ditarikan dalam keadaan tidak sadar atau trance. Ada beberapa Tari Sanghyang di Bali. Salah satunya adalah tari Sanghyang Jaran. Secara etimologi, Sanghyang Jaran terdiri dari 2 kata, Sanghyang dan Jaran. Sanghyang adalah dewa. Dalam hal ini adalah kekuatan atau energi yang begitu besar sedangkan Jaran berarti Kuda. Sanghyang Jaran adalah Sang Pengendara Kuda yang berfungsi melindungi dari kekuatan penyakit dan kekuatan jahat. Ia menjadi tidak sadarkan diri saat mendengar alunan tembang / suara. Ia berjalan diatas bara panas mengikuti tembang / suara. Terinspirasi dari tarian yang berfungsi untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan kekuatan jahat.

Penari –Jro Mangku Sudiana
Tari Sanghyang Jaran, ubud saya up load di SINI

Cerita Ki Balian Batur -coffee break

Buah Pikiran Setelah saya meng-upload tulisan tentang Ki Balian Batur, seorang teman, saya memanggilnya Bli Balok, menanyakan tentang keberadaan Ki Narantaka Ki Selisik.

Saya yang tau-nya hanya sebatas apa saya tonton dalam pementasan saja, mencari2 dibeberapa sumber dan tentunya bli wayan google. Ada beberapa versi dan ini menurut pemikiran saya.

Cerita Ki Narantaka Selisik adalah kisah sebuah senjata yg mampu mengalahkan Ki Balian Batur. Ki Selisik Narantaka, Ki Narantaka adalah sebuah bedil dan Ki Selisik adalah peluru.

Cerita itu saat ketidakmampuan I Gusti Agung Putu melalui penglimanya Ki Bendesa Gumbyar untuk mengalahkan Ki Balian Batur. akhirnya terdengar sabda dari langit dan versi lain mengatakan bahwa Ki Balian Batur sendiri yg mengatakan bahwa dirinya hanya dapat dikalahkan oleh senjata sakti milik Kerajaan Klungkung yaitu Ki Selisik Narantaka.

Konon Ki Balian Batur tahu bahwa untuk dapat mengharmoniskan hubungan antara Kerajaan Mengwi dg Kerajaan Klungkung dirinya harus gugur...

Kebetulan teman saya ini berasal dari Desa Jungutbatu Nusa Lembongan, Bali. Jadi mungkin akan lebih mengena kalau dituliskan kaitannya dengan Desa Jungutbatu... hehee..

Salah satu murid kesayangan Ki Balian Batur, I Gede Mecaling,anak ke empat dari Dukuh Jumpung yang tinggal di Tegallinggah Banjaran Jungut, di Desa Baturan yg mempunyai kesaktian luar biasa.

Dewa Agung Anom, Putra Agung Jambe dari Kerajaan Klungkung ( yg mengalahkan Ki Balian Batur dengan senjata Ki Selisik Narantaka) mengutus Dewa Babi dan Kyai Batu Lepang untuk mengalahkan I Gede Mecaling.

Singkat cerita Dewa Babi Dan I Gede Mecaling sepakat mengadu kesaktian, dengan menggunakan sarana babi guling. Ada dua pilihan tali, yaitu tali benang dan tali kupas (tali dari pohon pisang). Dewa Babi memilih tali benang dan I Gede Mecaling memilih tali kupas. Kaki belakang dan depan babi guling diikat lalu dipanggang sampai matang. dan konon, ternyata tali kupas putus sebelum babi guling matang

Dengan kekalahan itu maka I Gede Mecaling menuju ke suatu tempat untuk meninjau daerah yang akan dituju. Tempat untuk melihat atau meninjau daerah yang akan dituju disebut Peninjoan sekarang. Nah, dari tempat ini I Gede Mecaling melihat daerah tujuannya yaitu Desa Jugut Batu, Nusa Lembongan. heheee...

Sekarang, keberadaan Ki Selisik Narantaka ( Ki Selisik Dan Ki Narantaka), saya tidak tahu, mungkin masih tersimpan di Kerajaan Klungkung... hehee...


Akhir percakapan saya dengan Bli Balok,

Bli Balok
“Info n crita yg mnrik sus... Bli tau sebatas crita Ki Balian Batur,
Hub. ne jak Ratu Gede Mecaling mr dpt uli sus, kumpulin yg detail ya... Trus kirim ke Nuslem....”

YanNusa
“wakakaaa.. tidak bisa saya selesaikan bli, itu membutuhkan kemampuan & konsentrasi tingkat tinggi bli.. saya hanya tahu sebatas itu, tidak lebih... hehee.. apalagi menyebut nama Ratu Gede Saking Nusa.. jeg mesrieng awak rage bli...so, saya tidak berani bli, jangankan menulis kisah Beliau yg begitu agung, membaca nama beliau aja sy merinding...”

tengs -gustu107.blogspot.com

Ki Balian Batur

Buah Pikiran
RatuAnom Manik Geni & RatuAyu Mas Mecaling
Ki Balian Batur tinggal di sebuah desa bernama Karang Kedangkan. Ia dikenal sakti karena mendapat anugrah dari Sanghyang Durga Birawi. Jangan manusia biasa, wong samar, dedemit, memedi tidak ada yang berani mendekat apalagi untuk berselisik bertemu dengan beliau. Inilah salah satu yang membuat Ki Balian Batur begitu terkenal. Berkat anugrah ini, Ki Balian Batur diberi kewenangan untuk menghukum orang-orang yang berlaku salah, berjalan dalam tindakan adharma/tidak benar. Setiap manusia yang tidak ingat untuk beryadnya, lupa akan kawitan, tidak hormat kepada orang tua, maka patutlah untuk memberikan hukuman kepada manusia itu. Demikian ki balian batur bercerita kepada ketiga anaknya, Ni Luh Gerong, Ni Luh Wali dan Ni Luh Kasub

Ni Luh Wali, dibantu oleh saudara-saudaranya, berjualan nasi di Desa Cau yang terletak di sebelah timur Desa Karang Kedangkan. Sebelum berangkat berjualan, ke-tiga putri Ki Balian Batur memohon restu sang ayah, agar selamat tidak terjadi sesuatu dalam pekerjaannya.

Ni Luh Wali adalah seorang yang giat bekerja, memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan. Sehingga dagangannya laris dan banyak masyarakat yg menjadi langganan nasi di warung miliknya.
Ki Balian Batur
Sisya Ki Balian Batur Ngereh
Makanan Berdaging Manusia

Cokorda Sakti Blambangan dari Puri Mengwi, memerintah dengan adil penuh wibawa. Masyarakat memberikan bakti tak henti-henti. Kesejahteraan rakyat selalu dijaga, tidak ada ketimpangan dan duka melanda masyarakat. Peraturan dilaksanakan dengan baik, yang bersalah diberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya. Kehidupan bagai sinar matahari pagi, rasa hangat terasa di setiap hati.

Namun Cokorda mendapat laporan bahwa di pasar Cau ada sedikit kekacauan. konon ada seorang pedagang makanan yang menggunakan daging manusia sebagai lauknya. Sebagai seorang pemimpin, tidak boleh mempercayai begitu saja berita yang belum tentu benarnya. Semua informasi yang didapat harus dipilah-pilah, kemudian diuraikan sedemikian hingga hingga ditemukanlah simpul-simpul yang menjadi akar permasalahannya. Untuk itu, Cokorda Cbersama abdi segera menuju Pasar Cau, mencari kebenaran yang terjadi.

Cerita bersiar, sang abdi menemukan sisa jeriji pada makanan. Entah siapa yang telah berbuat tidak benar ini dengan memasukkan jeriji manusia ke dalam makanan atau memang makanan itu disajikan seperti itu. Mengetahui hal ini, Cokorda Sakti Blambangan menajadi marah. Sebagai tabeng dada kerajaan mengwi, ia harus menghukum siapapun yang telah malukan perbuatan yang tidak dibenarkan ini. Ni Luh Wali tertangkap secara nyata telah memakai daging manusia dalam masakannya. Namun Luh Wali menolak dengan tegas apa yang diperlihatkan oleh sang abdi, karena merasa bahwa tidak pernah memakai daging manusia dalam masakan yang ia jual. Cokorda tidak menghiraukan, bukti-bukti telah ada dan Ni Luh Wali harus dihukum dengan tegas. Ni Luh Wali tetap kukuh untuk menolah semua tuduhan yang dilontarkan untuknya. Ia yang selalu berusaha menyajikan makanan tanpa cela, telah merasa difitnah. Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur, tidak terima atas perlakuan yang ia dapatkan. Ia tetap mempertahankan pendapatnya dan justru mempertanyakan peran Cokorda Sakti Blambangan sebagai pimpinan, seharusnya mampu mengayomi rakyatnya, bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan yang tidak pernah ada.

Cokorda Sakti sadar bahwa Ni Luh Wali adalah putri Ki Balian Batur, penguasa ilmu pengeleakan. Tentu apa yang dilakukan akan selalu berkaitan dengan ilmu pengelakan. Ayah yang memiliki ilmu hitam tentu ini akan diwarisi kepada anaknya. Mungkin inilah kebenaran atas berita yang simpang siur selama ini. Akhirnya, mereka sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing dan merasa telah melakukan swadarma-nya, sepakatlah mereka untuk saling adu kesaktian untuk membuktikan siapakah yang benar.

Ni Luh Wali merubah diri menjadi Garuda namun dengan mudah dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh Cokorda Sakti Blambangan. Ni Luh Wali tidak terima akan kekalahan, ia berlari melaporkan kejadian ini kepada ayahnya.

Ki Balian Batur yang merasa terhina dan difitnah, segera mengumpulkan para sisya untuk menyerang Kerajaan Mengwi dan membuat wabah di Desa Cau.
Tak berselang lama, banyak warga masyarakat yang menjadi korban keganasan penyakit yang disebar oleh Ki Balian Batur serta para sisya-nya. Setiap hari selalu ada warga yang meninggal. Sudah banyak para ahli pengobatan yang dikerahkan untuk menanggulangi bencara pennyakit aneh ini namun semuanya tidak mampu mengetahui apa yang menjadi sebab dan bagaimana menyembuhkannya penyakit aneh ini.

Cokorda Sakti Blambangan mengetahui bahwa penyakit aneh ini adalah akibat dari kemarahan Ki Balian Batur. Beliau ingat akan kejadian di Pasar Cau, dimana ia telah mempermalukan Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur yang telah menjual makanan dengan menggunakan daging manusia. Hal ini menjadi berkembang dan kekejaman Ki Balian Batur harus segera dihentikan. Tugas berat ini dibebankan kepada Ki Bendesa Gumiyar. Maka diutuslah Ki Bendesa untuk mengalahkan Ki Balian Batur dan menyelamatkan masyarakat dari wabah penyakit.

tengs to -Keluarga Besar Desa Adat Kemoning, Klungkung

Melali To Lembongan

Buah Pikiran
crew
Tidak seperti biasanya, kalau urusan ngayah/bekerja dg iklas tanpa mengharapkan upah di acara dunia magis, kita pasti berangkat sore. Namun kali ini lokasinya berada di sebelah timur Pulau Bali, mesti nyeberang Selat Badung. Pada saat ketemuan dengan Pak Kadek Miles, orang yg menjadi kontak saya, sudah diwanti-wanti agar berkumpul tepat waktu di Pantai Sanur. “Keberangkatan akan barengan dengan Ratu Peranda” singkat kalimatnya di HP.

Tepat sampai di sanur, sudah ada beberapa semeton dari Nusa Lembongan menunggu untuk ikut membantu mengangkut perlengkapan kerja pendokumentasian pementasan dramatari klasik Dukuh Suladri di Desa Adat Lembongan. Tengkiu untuk Pak Sugik, Kapten Speed Boat Sea Horse, perjalanan yg menyenangkan sampai di Lembongan. Sebenarnya sudah beberapa kali mengenal Lembongan, bahkan saya pernah ngajak istri untuk berlibur ke pulau mungil nan indah ini. Cerita indah itu tertulis dengan baik di sini. dan disini Di Lembongan, kami langsung menuju ke lokasi pementasan, mengecek segala sesuatu untuk keperluan pendokumentasian. Dimana lokasi penempatan peralatan operator, bagaimana kelistrikan, audio dan penempatan sudut ambil gambar. Bahkan bapak petugas PLN cabang Lembongan ikut terjun langsung ke lokasi untuk memastikan ketersediaan listrik untuk pementasan kali ini.

Saya yg sudah beberapa kali ke Nusa Lembongan, masih sempat untuk menanyakan, “kenapa di sini panas sekali..?” “kalau gak panas, bukan nusa namanya Sus”, sms Bli Balok, semeton saya yg kebetulan dari Banjar Kangin, Desa Jungutbatu, Lembongan. Ada sesuatu yg membuat saya tergelitik saat itu, ada spanduk bertuliskan “calonarang dukuh suladri.”, lho? Ini pementasan Calonarang apa Dukuh Suladri..? saya dipastikan bahwa ini pementasan dengan cerita Dukuh Suladri, tapi kok tulisan spanduknya Calonarang..? saya tidak mendapat jawaban…


Balok Fam

Pak Balok 

Ada waktu dimana kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu kerabat teman yg kebetulan tinggal di Jungutbatu. Pak Sugeng, sang penjual bakso, tengkiu pak, ayam krispinya gede dan krispi banget, enak ( gratisan hehee.. ). Masuk sms salah satu teman, Windu ( adik Bli Balok ), ia meminta agar menyempatkan waktu untuk singgah ke rumahnya di Jungutbatu. Tapi waktunya kurang tepat, hari itu Buda Cemeng Klawu. Banyak odalan / upacara di sini. Yah, saya hanya bertemu dengan bapak-nya Bli Balok. Saya tidak tahu siapa nama asli beliau karena di daerah sini, seseorang dipanggil sesuai dengan nama anaknya yg pertama, pak balok. Pembicaraan panjang dari tentang cerita sudah ada banyak cucu, jatuh dari sepeda motor..? ( beliau adalah seorang kapten yg sudah masuk katagori legend di Nusa ), mencari hari-hari baik/pawukon, pura2, cerita wayang cengblonk, Calonarang, Dukuh Suladri ( lebih ke arah kepemangkuan ) sampai sudah cukup untuk merasakan hidup ( ini cerita yg berat, karena memang saya suka kalau membicarakan sesuatu tentang hidup dan kehidupan, karena beliau orangnya terbuka, antara mengkritik dg di kritik ). Bapak bli balok, masih seperti dulu, saat saya kenal belasan tahun yg lalu, saat memek / istri beliau masih ada. Beliau adalah orang tua yg baik, saya sudah menganggapnya sebagai orang tua saya. 

Seperti biasa, saya selalu menikmati setiap pementasan2 seperti ini. Namun kali ini saya ditemani Bli Balok, asisten saya, hahahaa… (just kidding bli ). Awal-awal pementasan berjalan seperti biasa. setelah keluar sisya ngereh /murid-murid Dayu Datu baru saya menjadi lebih tertarik, para penarinya pasti cantik-cantik dengan pakaian dan tarian yg magis. Suasana kembali sedikit berubah saat bangke-bangke-an memasuki kalangan,. Kali ini ada 2 bangke yg di tampilkan, diusung dari dalam Pura Pesimpangan Dalem Ped menuju ke kalangan. Satu persatu penonton mulai kerawuhan/trance Beruntung para pecalang/petugas pengamanan adat sigap untuk mengantisipasi agar yg kerawuhan tidak sampai mengganggu acara. Suasana semakin terasa berbeda saat cerita memasuki adegan Dukuh Suladri beradu kesaktian dengan Dayu Datu. Ida Ratu Sasuhunan yg berstana di Pura Penataran Pesimpangan Dalem Ped di Lembongan benar-benar luar biasa. Baru sesaat Beliau napak pertiwi/menyentuh bumi, damuh-damuh ida / para bawahan Sang Ratu sudah pada kerawuhan/trance menyambut kehadiran Beliau. Kalau boleh dibilang hampir sepertiga dari penonton yg hadir ikut kerawuhan / trance. Sampai-sampai teman-teman pada kewalahan untuk mendokumentasikan. Kamera terhalangi oleh yg kerawuhan dan penonton. Bahkan 2 buah lampu kami diterjang oleh semeton yg kerawuhan.

Karya mapelaspas lan ngeteg linggih Ini adalah kesempatan baik untuk nyolahang Ida Ratu Sasuhunan, bukan dikerumini yg justru membuat sempit ruang gerak Ida Ratu Sasuhunan untuk masolah. Dan sang juru kamera yg bertugas untuk membidik gambar dari angle yg bagus malah terhalangi para penonton. Semoga tahun-tahun ke depan, panitia lebih sigap untuk mengantisipasi hal ini. Tetap syukur semua berjalan dengan dengan baik-baik saja..

Tengs to- pak kadek miles, pak ketut ardana

Aji Kepatian Weda Sulambang Geni Pasupati Ki Bendesa Manik Mas

Buah Pikiran
Ida Sasuhunan Pura Dalem Manik Tirta
Ki Bendesa Gading Wani adalah seorang kaya raya di Desa Gading Wani. Tidak ada yang berani menentang segala keputusan beliau. Apalagi setelah beliau mendapat anugrah, dwi jati, kesempatan untuk dilahirkan dari pengetahuan oleh Maha Rsi Danghyang Nirartha. Ki Bendesa Gading Wani mendapat julukan Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading merasa begitu bahagia. Kebahagiaannya semakin menjadi setelah melihat kemakmuran yang dirasakan masyarakatnya. Beliau merasa ini adalah berkat kedatangan Danghyang Nirartha. Vibrasi Danghyang Nirartha telah memberikan energi baik bagi setiap makhluk di pedesaan pun merupakan berkat subur bagi tanah persawahan di Desa Gading Wani. Kebahagiaan tak terhingga inilah yang memunculkan rasa, keinginan untuk terus berbakti pada Sang Pemilik Jagad, Ida Sang Hyang Widhi. Upacara yadnya, itulah yang terbersit dalam pikiran Ki Macan Gading sebagai ungkapan syukur atas anugrah kebahagiaan ini. Karena baginya, tiada berguna kekayaan berlimpah jika ia tidak mampu menghaturkan yadnya persembahan. Sebagai tanda perhormatan untuk guru, bahwa dengan yadnya, sebagai tanda bahwa kita berbakti, apalagi beliau telah lahir dari pengetahuan, diperbolehkan untuk melaksanakan yadnya.

Sang Kalika Maya 

Sang Kalika Maya, Sisya Sanghyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Sang Kalika Maya terkenal karena kemampuan ilmu hitam/ pengeleakan yang dimiliki. Tak ayal, begitu banyak orang dari berbagai penjuru desa datang menghadap, memohon agar berkenan dijadikan murid Sang Kalika Maya. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Zaman Kali Yuga, zaman dimana sifat manusia tamak dengan keinginan / kama, sifat-sifat satwan / kebenaran sudah diselimuti oleh rajas, tamas.

Sang Kalika Maya menceritakan pada muridnya, ia masih teringat akan tugas yg diberikan padanya. Dari dalam hatinya, ia melihat bahwa seorang manusia yang bernama Ki Dukuh Macan Gading sedang persiapan dalam melaksanakan upacara yadnya yang didasari oleh sifat angkuh, menyombongkan diri. walau upacara yadnya dilakukan penuh dengan kemegahan duniawi, namun sang dukuh lupa bagaimana seharusnya bersikap dalam melaksanakan upacara yadnya. Upacara yadnya yang dilakukan, baik dalam dewa, rsi, manusia, pitra maupun butha yadnya (panca yadnya – 5 korban suci ), harus didasari oleh rasa iklas, tulus dan suci. Jika tidak, sia-sialah yadnya tersebut. Tugas Sang Kalika Maya –lah yang akan memberikan hukuman akibat kelalaian tingkah Ki Bendesa Macan Gading.

Sisya Ngereh
Di Setra Gandamayu, malam pekat yang tak biasanya, deras hujan mengguyur tanah kering, mengalirkan air bercampur tanah basah, guntur menggelegar, petir menyambar menyilaukam mata. Sang Kalika Maya berdiri bersama para sisya, berdoa kehadapan Sanghyang Durga Birawi. Memohon anugrah agar dapat membuat wabah penyakit di Desa Gading Wana. Mereka bersiap menggagalkan upacara yadnya yang sedang digelar oleh Ki Bendesa Macan Gading di Desa Gading Wana. Wabah di Gading Wana Desa Gading Wana yang sedang hingar binger oleh persiapan upacara yadnya mejadi geger. Kehidupan yang tenteram berbah menjadi suasana menyeramkan. Tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah di malam hari. Persiapan upacara menjadi kacau. Bahan-bahan yang menjadi persiapan untuk upacara menjadi cepat busuk. Berbagai perlengkapan upacara yang lain menjadi rusak tak menentu. Banyak warga yang tiba-tiba jatuh sakit dan tak berselang lama, meninggal. Ki Dukuh Macan Gading menjadi risau, kebingungan akan kejadian aneh yang menimpa masyarakatnya. Rasa sedih tak tertahankan menyaksikan masyarakatnya dalam keadaan menderita akibat sesuatu yang tidak jelas. Dalam keadaan pasrah, ia teringat akan saudaranya, Ki Bendesa Manik Mas. Segeralah ia berangkat menuju Desa Mas, meminta bantuan Ki Bendesa Manik Mas.

Pertemuan Kalika Maya
Pertemuan Kalika Maya

Di tengah perjalanannya, Ki Dukuh Macan Gading bertemu dengan Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menanyakan kenapa Ki Dukuh Macan Gading begitu tergopoh-gopoh dalam perjalanannya. Ki Macan Gading mengatakan bahwa ia terburu-buru untuk bertemu saudaranya , Ki Dukuh Manik Mas di Desa Mas. Sang Kalika Maya, yg sudah tahu dengan apa yg terjadi kembali menyindir, kenapa saat puncak upacara yadnya yg Ki Dukuh Macan Gading lakukan, justru ia pergi meninggalkannya. Ki Dukuh Macan Gading yg terkenal karena kesaktiannya, seakan lari dari tanggung jawab yg sedang ia hadapi.. begitu Sang Kalika Maya menyindir sikap Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading sadar, ia sedang berhadapan dengan siapa. Sang Kalika Maya, seorang dengan dengan kemampuan ilmu hitam / pengeleakan tingkat tinggi.

Berkat kemampuannya, Ki Dukuh Macan Gading juga mampu mengetahui bahwa wabah penyakit yang menimpa masyarakatnya akibat ulah dari Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menyangkal dan mempertanyakan hal apa yg bisa dijadikan alasan untuk dapat menuduh bahwa dirinyalah yang menjadi sebab wabah penyakit di desa. Sesuatu yang diucapkan tanpa dasar yang kuat merupakan sebuah fitnah dan itu pasti menyakitkan. Justru ia mempertanyakan, bukahkan setiap upacara yg dilakukan harus mendapat restu dari Tuhan. Bukan melaksanakan upacara yang asal-asalan. Setiap tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan adalah sesuatu yang sia-sia. Upacara yang dilakukan seharusnya didasari oleh pengetahuan, disesuaikan dengan desa kala patra (tempat waktu dan keadaan) serta berpedoman pada tri hita karana (tiga hubungan yang harmonis) yang akan mengarahkan kita pada kebahagiaan. Harta kekayaan yang dimiliki adalah sesuatu yang palsu. Walau mendapat anugrah, walau berasal dari keturunan terhormat, kalau sesana tidak mencerminkan anugrah, kalau perilaku tidak layak menyandang gelar terhormat, ibarat berjalan tanpa pengetahuan, sia-sia apa yang telah dilakukan. Merasa panas karena didera oleh manusia “hitam” seperti Sang Kalika Maya. Harga diri dari keturunan, kemampuan dan pengetahuan serasa tiada mampu menahan cercaan. Beragam cercaan pernyataan, Ki Dukuh Macan Gading merasa tersudutkan. Pikiran sempit menyelimuti dan pembicaraan tidak akan menyelesaikan permasalahan.. Mengasah sebatas mana kemampuan masing-masih adalah jalan keluar terbaik diantara keduanya. Mereka bersiap untuk mengadu kesaktian.

Ki Bendesa Manik Mas 

Ki Bendesa Manik Mas adalah orang yang begitu berwibawa. Beliau seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi. Mengamalkan ilmu kepada setiap masyarakat, membantu setiap yang membutuhkan pertolongan adalah hal yang menjadi dasar sikap beliau. Hal inilah yang membuat masyarakat begitu segan dengan beliau. Kemampuannyalah yang menyebabkan beliau mampu mengetahui apa yang telah terjadi di Desa Gading Wani. Beliau tahu bahwa saudaranya, Ki Dukuh Macan Gading, yang telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang telah lahir dari pengetahuan. Seorang yang mendapat anugrah pengetahuan, harus bersikap sesuai dengan kewajiban sendiri berdasar pada pengetahuan itu sendiri. Lebih mengutamakan kebenaran dari pada kepentingan diri sendiri. Segala bentuk hura-hura, judi dan mabuk harus sudah ditinggalkan. Bagaimana dalam keseharian harus selalu berusaha menjadi tuntunan di masyarakat. Bila hal itu diabaikan, niscaya wabah akan merasuki, pikiran buruk akan dapat mengarahkan kita pada hal-hal yang tidak seharusnya. Dan kegelapan akan menyelimuti sehingga dengan mudah sifa-sifat buruk, iri dengki, ego akan menjadi raja. Terjerumuslah ia ke dalam kegelapan itu sendiri.

Saudara adalah ikatan batin yang tak akan mampu terputus. Ia akan menjadi penghubung tanpa batas untuk dapat merasakan rasa itu sendiri. Apapun keadaannya, ia tidak akan dapat terjauhkan. Apalagi kemampuan dan pengetahuan memang mewajibkan untuk selalu menegakkan kebenaran. Kebenaran untuk menghalau energi buruk yang telah menyelimuti. Kebenaran untuk memberikan sinar di saat seseorang sedang terjerumus dalam gelap. Ki Bendesa Manik Mas menghaturkan hormat kepada Sanghyang Durga Birawi, permohonan maaf atas segala yang terjadi. Seraya meminta restu untuk dapat menghalau wabah penyakit yang mengganggu masyarakat Desa Gading Wani. Yadnya persembahan yang dihaturkan tidak sempurna, sehingga para bhuta merusak yadnya. Maka bhuta – bhuti harus di somya kembali menjadi dewa agar yadnya bisa berjalan dengan baik. Hanya dengan taksu hal ini bisa terjadi, karena taksu ngaran seni, seni ngaran ayu*. Segala jenis kebahagiaan semoga datang dari segala penjuru…



Babad sumber dari ki bendesa manik mas, tanpa mengurangi arti makna sumber cerita, membuat suatu kawi cerita namun tidak terlepas dari akar babad itu sendiri 

Tengs to: komang gazes 
Pagelaran Drama Tari ring Pura Dalem Penataran Manik Tirta, Ungasan 
*energi akan memberikan keindahan yang pada akhirnya akan melahirkan kebahagiaan.

Dukuh Suladri

Buah Pikiran Dikisahkan seorang ahli ilmu pengeleakan/ilmu hitam yang bernama Dayu Datu
Perilaku jahat Dayu Datu membuat masyarakat mengusirnya hingga mengungsilah ia ke Gunung Mumbul

Di Gunung Mumbul, Dayu Datu hidup bersama abdi setianya, Ni Klinyar dan sisya-sisyanya yang lain. Dayu Datu yang sudah diusir tidak pernah merasa jera justru api dendamnya selalu berkobar untuk terus membalaskan sakit hati atas pengusiran itu. Karenanya Dayu Datu dan muridnya tak henti-henti mengganggu penduduk desa dengan pengeleakan /ilmu hitam.

Wayan Buyar, seorang pria yang merasa diri paling hebat dan kaya. Ia selalu membuat warga di sekitar resah. Kesehariannya dipergunakan untuk berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Tak ada yang tidak mungkin untuk Wayan Buyar.
Suatu hari Wayan Buyar mendengar kabar bahwa di Pedukuhan Suladri, Gunung Kawi ada seorang wanita cantik bernama Ni Kusuma Sari. Timbullah niat Wayan Buyar untuk menjadikan Ni Kusuma Sari sebagai istri. Bersama para abdinya, berangkatlah Wayan Buyar menuju ke Gunung Kawi.



Kehidupan di gunung tentu saja damai, nyaman dan tenteram. Begitulah yang selalu dirasakan dalam keseharian Ni Kusuma Sari dan ayahnya, Dukuh Suladri. Selain sebagai anak, Ni Kusuma Sari juga menjadi murid kesayangan Dukuh Suladri. Setiap pengetahuan yang diberikan, selalu dapat dipahami oleh Ni Kusuma Sari. Lengkaplah apa yang dimiliki oleh Ni Kusuma Sari. Selain cantik, ia juga paham sastra agama dan ini terimplementasikan pada kesehariannya.

Dukuh Suladri, dengan kemampuan yang dimiliki telah mampu membuat suasana Gunung Kawi menjadi nyaman dan tentram. Pun dengan binatang-buinatang buas yang ada di hutan, telah dibuat menjadi jinak dan ikut menjaga keamanan pedukuhan.


Terasa seperti tidak ada tempat untuk bersandar apalagi menumpahkan kasih sayang karena hidup hanya seorang diri. Semenjak kecil I Mudita tanpa orangtua. Inilah yang membuat hidupnya gelisah tanpa arah. Namun demikian ia masih memiliki semangat, wasiat pesan orang tua. I Mudita diminta agar menemui pamannya, Dukuh Suladri, di Gunung Kawi. Berbekal cincin “Jaga Satru” sebagai pengingat bahwa I Mudita adalah keponakan Dukuh Suladri. Langkah tegak kaki I Mudita meninggalkan Desa Memeling menuju Pedukuhan Seladri di Gunung Kawi.
Sejatinya I Mudita adalah putra Dukuh Suladri dan Ni Kusuma Sari adalah keponakan sang dukuh. Tidak diceritakan kenapa terjadi pertukaran putra ini.

Kedatangan I Mudita di Pedukuhan Gunung Kawi disambut dengan kebahagiaan. Laksana Bhatara Ratih dan Kamajaya sedang berlila cita di pedukuhan, I Mudita dan Ni Kusuma Sari saling jatuh cinta. Apalagi hal ini mendapat restu dari Dukuh Suladri.

Ketika sedang asiknya I Mudita dan Ni Kusuma Sari bermesraan, tiba-tiba datanglah Wayan Buyar dengan maksud untuk merebut Ni Kusuma Sari. Berbagai rayuan diberikan oleh Wayan Buyar namun Ni Kusuma Sari tetap kukuh akan cintanya pada I Mudita.
Wayan Buyar kehabisan akal, ia marah, terbakar oleh api cemburu lalu menyerang dan mengikat I Mudita di sebatang pohon. Bangga akan keberhaslannya, Wayan Buyar segera melarikan Ni Kusuma Sari.


Mendengar jeritan Ni Kusuma Sari, Dukuh Suladri mengerahkan semua binatang di hutan Gunung Kawi untuk melakukan pengejaran. Dalam pelariannya, Wayan Buyar dihadang oleh sekumpulan binatang buas yang bertujuan untuk membebaskan Ni Kusuma Sari. Wayan Buyar tak mampu berbuat apa-apa kecuali melepaskan Ni Kusuma Sari dan berlari menyelamatkan diri. Berhasil menyelamatkan tuannya, sekumpulan binatang mengantarkan Ni Kusuma Sari kembali ke pedukuhan.

Kesal, kecewa, marah, dendam, bercampur menyelimuti pikiran Wayan Buyar yang telah gagal melarikan Ni Kusuma Sari. Ia yang selama ini selalu terkabulkan keinginannya, kali ini harus meminum getah pahit, kegagalan. Demi harga diri, ia bertekad membalas dendam atas
perlakuan yang telah diterimanya.

Terketuklah hatinya untuk meminta bantuan pada Dayu Datu. Ketika tekad bulat itu menjadi keputusan, berangkatlah Wayan Buyar ke Gunung Mumbul. Berbekal kebencian, kemarahan dan nafsu balas dendam, disepakatilah bahwa Dayu Datu akan membantu Wayan Buyar untuk membuat wabah penyakit

Dayu Datu, Ni Klinyar dan para sisya menuju Setra Gandamayu. Mereka berdoa, memohon restu Sanghyang Durga Berawi agar dapat menyebar wabah penyakit di masyarakat.

Wabah penyakit aneh menyerang masyarakat. Banyak warga sakit secara tiba-tiba kemudian meninggal. Kondisi masyarakat seperti ini membuat Dukuh Suladri bersedih. Berkat kamampuan dan pengetahuannya, Dukuh Suladri mampu mengetahui bahwa wabah penyakit aneh ini adalah ulah dari Dayu Datu atas permintaan Wayan Buyar.

Segeralah Dukuh Suladri menuju Gunung Mumbul. Maka terjadilah adu kesaktian antara Dukuh Suladri melawan Dayu Datu.

*sasolahan drama tari klasik "dukuh suladri"
ring Pura Penataran Pesimpangan dalem Ped ring Lembongan



Cerita Tentang Tangan Kiri

Plesiran Di Lobby Denpasar Junction, sebuah mobil avansa putih berjalan pelan di samping kami. Sekilas saya melihat mobil itu penuh dengan penumpang. Dalam hati saya berpikir, wah, ini pasti keluarga besar sedang refreshing. Layaknya saya, bersama istri, ingin juga menikmati suasana mall. Hehe.. Dari mobil itu turun seorang ibu setengah baya bersama ( mungkin ) anaknya. Si ibu menggondol sebuah HP berlabel mahal, berbicara melewati sisi kanan saya, pembicaraannya mengenai pinjam meminjam uang. Kembali saya berpikir, wah, ibu ini sibuknya luar biasa, sampai-sampai refreshing-pun disibukkan oleh bisnis-nya.

Entah apa yang merasuki istri saya, kenapa dia tiba-tiba ingin diantar jalan-jalan untuk membeli roti di BreadTalk di Denpasar Junction. Padahal seringnya dia sendiri yang pergi ke sana dan saya hanya tinggal makan saja. Hehe.. Ini adalah kali pertama saya masuk ke toko roti mahal ( untuk ukuran dompet saya ).

Sambil ikut
memilih roti yang akan kami beli, kembali saya dikejutkan oleh si ibu yang sibuk tadi. Ia mengambil nampan dan mengambil satu persatu roti, dengan tangan kirinya. Entah apa juga yang mendorong saya untuk terus memperhatikannya. Giliran membayar, si ibu mengeluarkan dompet besar dan menyodorkan dua lembaran uang seratus ribuan kepada kasir, dengan tangan kiri. Saya lupakan saja kejadian tadi, sambil keluar, duduk menunggu istri yang ingin mencicipi donat di areal BreadTalk. Kembali sekali lagi si ibu tadi lewat di depan saya, menyerahkan bungkusan roti yang ia beli tadi kepada ( mungkin ) anaknya, menggunakan tangan kanan.

Saya jadi ingat kejadian waktu saya survey sebuah acara di Karangasem, Bali. Pas pulang, kami berencana untuk istirahat, menikmati bakso sambil memuaskan diri diterpa uap air di pantai Candi Dasa, wilayah Candi Dasa, Karangasem, Bali. Ada sebuah rombongan orang luar Bali juga datang sesaat setelah kedatangan kami. Mereka memesan bakso yang sama. Hanya saja, pas di depan saya makan, seorang bapak memilih untuk menu bakso custom . Berdiri di samping si empunya warung, tangan kanan tertekuk menempel pada pinggang dan tangan kiri-nya menunjuk-nunjuk apa aja yg ingin dimasukkan ke dalam mangkok pesanannya.

Ada seorang bapak y
ang lain yang sudah mendapatkan menu bakso, berdiri, meminta untuk si pedagang menambahkan sesuatu ke dalam mangkoknya. Ia menyodorkan mangkok dengan tangan kiri.

Sebenarnya saat itu perut saya sudah kepenuhan oleh bakso khas Candi Dasa tersebut, tinggal mengambil air mineral saja, klop sudah semuanya. Namun saya sengaja memesan semangkuk es teler, agar dapat berlama-lama di sana, mumpung juga teman-teman yg lain masih menikmati es teler-nya.

Panggilan dari TL trav
el tsb menginstruksikan untuk segera berangkat. Saya melihat si bapak yang memesan menu bakso custom tadi mengeluarkan sejumlah uang, menginstruksikan kepada rekannya, bahwa ia yg akan membayar biaya makan kali itu. Dikeluarkan sebuah dompet, diserahkan sejumlah uang kepada si pedagang dengan memakai tangan kiri.

Hal yg hampir sama juga
saya alami sewaktu saya dan istri iseng untuk mencicipi bagaimana sih menu di hoka-hoka bento di jalan Teuku Umar, Bali. Pasangan remaja di belakang antrean istri saya, menunjuk-nunjuk menu pesanan kepada si karyawan dan mambayar menu makan malam mereka kepada kasir. Semua dilakukan dengan menggunakan tangan kiri mereka.

Saya berduit, saya beli...?

Saya jadi berpikir, apa yang aneh dengan kejadian ini yaa..? rasanya wajar-wajar saja. Hanya pikiran saya masih tertahan pada penggunaan tangan kiri. Sedari kecil saya sering diberitahu oleh para orang tua, kalau memberi atau menerima sesuatu, pergunakanlah tangan kanan. Budaya mempergunakan tangan kanan dianggap sopan, menghormati orang lain. Ada sebuah norma yang harus kita ikuti dalam bermasyarakat. Sebab kita berada pada ranah dunia ketimuran. Entah bagaimana di dunia barat sana.

Oh, mungkin si ibu atau bapak & pasangan remaja itu kidal.. jadi mereka lebih peka untuk menggunakan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu. Semoga saja..
Tapi si ibu tsb menggunakan tangan kanannya untuk menyerahkan bungkusan roti untuk anaknya..?



**Di apotek yg melayani ASKES di RS Wangaya, saya menyodorkan resep dengan menggunakan tangan kanan lalu akan diterima oleh si penjaga apotek dengan tangan kirinya. Kontan saja saya menganti tangan, menggunakan tangan kiri saya dan si penjaga apotek tsb mengganti tangannya dengan tangan kanan da
n saya pun mengganti kembali dengan tangan kanan.

“iNYOng” Ning Purbalingga

Plesiran Tanpa sengaja rapi-rapi bekas kamar masa lajang biyen, eh, ketemu kotak CD usang ning dalemannya masih belum tersentuh optic room. Ternyata jeroannya adalah doc ekspedisi pasukan “JIBAKUTAI” inyong siaran pimpinan ai resdi ati ari ke markasnya keripik tempe “mendoan” alias purbalingga haha..

Kalau berangkat dari jogja, ambil arah barat terus…..terus.. terus...Tidur ( kebiasaan kalau naik mobil )..
Purbalingga tuh berbatasan ama kabupaten pemalang, banjarnegara dan banyumas. nek kalo gak salah, daerah ini berada di cekungan yg diapit antara gunung slamet ( hampir ku daki dirimu) dan dataran tinggi dieng ( wihh..dieng yg dingin bro..)

Tour of duty pasukan menyisir ke objek wisata air ning Bojongsari ( Owabong ). Owabong ini awalnya Cuma tempat permandian biasa, tapi mbuh gak ngerti sejarahnya, tempat ini disulap jadi tempat bermain yg luar biasa. gramatikalnya owabong itu diambil dari kalimat Objek WisAta air BOjoNGsari. Di samping kolam renang juga ada kolam arus, arena go-kart, water boom, arung jeram, permainan air de-le-le. Karena datangnya kesorean, Cuma bisa nyebur kolam aje, renang n main jungkat-jungkit..


biar hampir malam, pokoke asik

Bagi tamu jauh dan punya "bung karno-hatta" lebih, bisa nginep ngeraain empuknya kasur di cottage2-nya owabong Hehe.. Jangan kawatir bagi tamu jauh dan amunisi rada tipis alies bawanya cuma peluru karet, di sekitarnya ada kok rumah penduduk yg bisa di sewa alias home stay ( ber-englis biar keliatan keren ) u/ nginep. Hehe..

Telp berdering, “bapak segera akan munuju lokasi, mohon segera bersiap
Biasa bro.., potokol-nya gubernur jawa tengah ( waktu itu Pak Mardiyanto ) nelp..
Schedule beliau ngeresmiin The Reptile Fun Park.
Tancap gas broo...belok ke Reptile Fun Park..

nyari testimoni penduduk sekitar sekalian lirik, wonten sing ayu ra..??

ni cewek benar2 nekat.., ular bro..

Weh.. Tempat ini ngoleksi banyak banget kumbang, capek kalau mau ngitung jumlahya. Ratusan..??ribuan kalee.. pokoke oakeh kumbang2 sing menawan. Bagi yg emang doyan seninya sayap kupu2 bole deh datang ke sini. ato yg sukak ngadalin orang2 bole juga belajar lebih banyak, gimana caranya ngadalain dengan cara lebih joss..

lelaki sejati mesti brani ama ular..

aahh.. nyamain wajah ama eguana

Asiknya lagi ( waktu itu ) pengunjung akan diantar ama petugas dan kase petunjuk agar gak Cuma lintas lalu TAHu-nya. Nah lo, Cocok jg sebagai pos pembelajaran dan ilmu pengetahuan ttg pe-reptil-an khususnya para MELATA dan KUMBANG2.. haha..

Suka strawberry..??
apa yg kamu pikirkan bila ngeliat gambar ini..?? hahaha...


nek gratisan.. serbuuuu..

Bayangin, metik strawberry sepuasnya bayarnya gak lebih dari 50ribu ( waktu itu gratiss.. haha..)...



Mesra gak mandang lokasi broo..


masih semangatkah “iNYOng”..............??