Tampilkan postingan dengan label Kunker. Tampilkan semua postingan

Bahula Duta

Buah Pikiran
Ni Walunatneg Dirah
Ni Walunateng Dirah atau Ni Walunateng disebut juga Ni Calonarang, seorang janda dengan kamampuan ilmu pengelakan, sudah terkenal di daerah Dirah. Jangankan manusia, para butha, wong samar, gamang, memedi dan sejenisnya tiada berani menandingi kemampuan pengeleakannya. Hal ini tiada lain karena telah menjadi kesayangan dan mendapat anugrah Dewi Durga. 





Tiada rasa yang lebih dari hari ini. Serasa bunga bermekaran di taman, kembang merekah ikut merasakan gembira hati Ni Walunateng. Daerah Dirah adalah daerah yang tenteram, yadnya, persembahan tulus dihaturkan setiap hari. Alampun memberikan hasil yang bergelimpahan. Pun dengan alam, hati Ni Walu juga seirama. Sang buah hati, kebahagiaan seorang ibu, telah dipinang ke Lembah Tulis. Mpu Bahula telah menjadi menantu Ni Walunateng. Ciri sekarang si buah hati sudah mampu mandiri. Mungkin inilah saat yang telah ditunggu sejak lama. "tolong panggilkan anakku, bibi" demikian Ni Walunateng meminta kepada sisyanya.

Jangan Beritahu Siapapun... 

"Oh, ibu, terimalah sembah sujud hamba. Engkau yang sangat hamba hormati" sembah bakti Ni Diah Ratna Mangali memberikan hormat kepada Ni Walunateng. 

"Anakku, Diah Ratna Mengali, bunga hidup ibu, sembah sujudmu, ibu terima, berbahagialah engkau kebahagiaan ibu". 

Diah Ratna Mangali
Tiada bahagia rasa seorang Ni Walunateng selain melihat senyum ceria sang pelita hati. Ini adalah anugrah terindah dari sang pemilik semesta. Ni Walunateng menceritakan tentang kebahagiaan yang ia rasakan kepada anaknya. Ia bercerita juga tentang bagaimana menjadi istri yang baik, agar rumah tangga menjadi rukun. Purana-Purana, Dharma Sastra, Ithiasa, kisah-kisah dalam Ramayana dan Mahabharata jadikan pedoman, bagaimana bertingkah menjadi putra yang suputra. 

Segala yang ada di dalam hati telah tersampaikan. Namun ada satu.. Satu lagi yang harus diberitahu. Hal ini tentang kehidupan dan kematian. 

Ni Walunateng akan ke Kahyangan Dalem untuk melaksanakan Dhurga Sraya, menghaturkan puja yadnya kepada Dewi Durga. Untuk itu, dititipkanlah dua pusaka, dan jangan beritau siapapun.. 

Duta, Adalah Utusan... 

Lahir hidup mati, Uppeti, Stiti, Pralina... Ilmu pengelakan adalah Rwa Bhineda, dua hal yang harus ada. Di hari kajeng kliwon, seseorang membawa daksina, 17 ribu uang kepeng, canang 11 , tipat duang kelan dan arak berem. Saat tengah malam, berjalanlah ia ke kuburan, tepat di tempat pembakaran mayat, meminta anugerah kepada sang penguasa kuburan. 

Ida Sasuhunan
Sejatinya ilmu pengeleakan adalah ilmu kebebasan karena ilmu inilah yang akan menghantarkan kita menuju Brahma Loka, namun jangan sombong. Leak yang tidak dibenarkan adalah leak yang menyakiti orang tanpa dosa, leak yg penuh dengan kesombongan. Ilmu pengeleakan akan mampu menyakiti asal manusia salah. Itu untuk memberitahu bahwa ia telah salah. Kesombongan seseorang akan ilmu pengelakannya akan menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan yang sangat. 

Demikian sambil menunggu kedatangan sang putra, Mpu Baradah bercerita pada dua orang abdinya. 

Diah Ratna Mangali dan Mpu Bahula
Setelah memberi restu kepada Mpu Bahula, Mpu Baradah mengingatkan akan tugas, Mpu Bahula adalah seorang duta. Tujuannya adalah mendapatkan pusaka Ni Calonarang, Nircaya Lingga dan Niscaya Lingga. Dalam melaksanakan tugasnya, Mpu Bahula telah menikah dengan putri Ni Calonarang, Diah Ratna Mangali. Tentu hal ini akan memuluskan tugas untuk mendapatkan pusaka. Namun apa daya, hingga sekarang belum juga diketahui dimana pusaka itu tersimpan. 

"bertemunya sasih desta dengan sasih sada, adalah waktu yang sangat tepat…" demikian Mpu Baradah berpetunjuk. 

Ini Adalah Penistaan, Buatlah Penyakit.. 

Dalam penantiannya, Mpu Bahula berbincang dengan Ratna Mangali tentang kehidupan dan kematian serta tujuan dari hidup dan mati. Ratna Mangali tanpa tersadar, telah memberitau tentang pusaka ibunya yang harus dirahasiakan. Segera saja Mpu Bahula ingin melihat seperti apa pusaka kehidupan dan kematian. Beralaskan cinta dan bakti pada suami, Diah Ratna Mangali memperlihatkan pusaka Nircaya Lingga dan Niscala Lingga. Namun, mpu bahula adalah seorang duta, mengemban tugas untuk mendapatkan pusaka Ni Calonarang, Nircaya Lingga pun berpindah tangan. 

Sisya Ngereh, Buatlah Gerubug

Sekembalinya Ni Walunateng dari tapa yoga, hal yang tidak biasa ia rasakan. Didapatkan Ratna Mangali menangis, dan Nircaya Lingga telah hilang. Kemarahan mulai merasuki setiap nadi Ni Walunateng, menantunya ternyata pendusta. Seraya menatap langit, ia tahu ini adalah penistaan, ia memanggil semua sisya dan buatlah penyakit di Lembah Tulis. 

Ngeseng Waringin

Seketika wabah melanda di Lembah Tulis, masyarakat terjangkit penyakit aneh. Secara tiba-tiba sakit kemudian meninggal. Mengetahui akan hal ini, segera Mpu Baradah menuju ke Dirah. 

Burung gagak bersoak-soak, organ-organ manusia bergelantungan di sebuah carang kayu tua. Melewati kuburan, bau amis menusuk penciuman, perjalanan masih harus diteruskan. Mpu Barah menapakkan kaki di Dirah ditemani dua orang abdi. Gelap gulita, ketakutan merasuk ke suasana saat itu. Tiba-tiba nampak seorang wanita tua samar wajah, Ni Walunateng mengetahui kedatangan Mpu Baradah. 
Ni Walunateng Dirah Dan Mpu Baradah

Saling memberi hormat antara Mpu Baradah dengan Ni Walunateng, setelah sekian lama, betapa bahagia mereka bisa saling bertemu di waktu kali ini. Namun kenapa kita bertemu di malam kala ini..? 

Mpu Baradah mempertanyakan keberadaan Ni Walunateng berada di kuburan di malam seperti ini. Dalam tatanan Surya Chandra, surya (matahari) diibaratkan laki-laki dan candra (bulan) adalah perempuan. Ni Walunateng berada di kuburan hanya untuk menikmati keindahan malam saat ini, betapa alam menciptakan sesuatu yang mempesona. Bagai bulan, ini adalah waktu yang tepat untuk muncul menampakkan diri. Sangat disayangkan kalau kita tidak merasakannya. 

Dibalikkan pertanyaan, bukankah ketiadaan surya menandakan malam..? 

Bercahayanya candra bukan karena mampu mengeluarkan cahaya, namun candra hanya memantulkan cahaya surya dan ini menandakan surya selalu hadir. Sepertinya kebanggaan yang berlebihan akan membuat surya terlalu membanggakan diri, apakah salah jika cahaya candra menandakan malam memberikan rasa yang berbeda buat bumi..? 

Sangat tidak salah, namun terang hanya temaram, jangan panas. Jika panas akan membuat masyarakat menderita dan itulah yang tidak diperbolehkan. 

Ida Sasuhunan

Keberadaan rwa bhineda di dunia ini haruslah berjalan beriringan. Ni Walunateng dalam menjalankan ilmu pengeleakannya memiliki swadarma untuk mem-prelina segala yang salah. Namun yang dilakukan adalah mem-prelina semuanya. Bukan hanya yang salah, yang tanpa salahpun terkena penyakit, itulah yang salah. 

Perdebatan tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan, begitu dalam pikiran keduanya. Hingga adu kemampuan antara Mpu Baradah dengan Ni Walunateng terjadi. Sebagai sasaran adalah pohon beringin. Ni Walunateng menghanguskan pohon beringin dan Mpu Baradah menghidupkan seperti sedia kala. Sekarang, mpu baradah yang menghanguskan pohon beringin, namun apa daya ketika Ni Walunateng mencoba untuk menghidupkan pohon beringin, nircaya lingga telah dicuri, ia tak sanggup untuk menghidupkan kembali pohon beringin. 

Merasa tak sanggup, Ni Walunateng menantang Mpu Baradah untuk adu kesaktian secara sesungguhnya. Sebagai mpu yang menjalankan darma kesucian, bukan saatnya lagi untuk melakukan "siat peteng", maka diutuslah Patih Taskara Maguna untuk menghadapai Ni Walunateng Dirah. 

*Tengs to - Keluarga Besar Pura Dalem Taman Pohmanis, Desa Penatih Dangin Puri

Bebondresan, Pertunjukan Bebanyolan Tradisional Bali

Buah Pikiran Bondres merupakan salah satu kesenian tradisional Bali. Pada mulanya, bondres merupakan selingan dalam kesenian topeng di Bali. Namun, belakangan bondres muncul sebagai pertunjukan tersendiri, terpisah dari kesenian topeng. Dari sinilah kemudian muncul seni lawak khas Bali atau yang lebih dikenal dengan bebondresan.

Diperkirakan pada tahun 1080-an, Bondres mengalami perkembangan menjadi pertunjukan tersendiri yang lebih mengutamakan lawakan atau banyolan khas bondres dari pada alur cerita itu sendiri. Pada era tersebut, bondres kebanyakan dipakai sebagai media penyuluhan yg lebih bersifat edukatif dan lain-lain. Hal ini diyakini karena dengan penyampaian melalui media lawak atau banyolan ini, pesan-pesan yang ingin disampaikan akan lebih dapat diterima oleh masyarakat.

Dalam bebondresan, penonton akan disuguhi sebuah alur cerita tetapi alur ini hanya sebagai pegangan saja karena yang lebih ditonjolkan adalah lawakan atau banyolan para seniman bebondresan yang terselip pesan-pesan yang ingin disampaikan. Ditambah penggunaan bahasa yang lebih familiar (memasyarakat) sehingga masyarakat lebih mudah untuk memahami sehingga inilah yang membuat bebondresan lebih mendapatkan tempat di hati masyarakat dan pesannya pun tersampaikan.

Hal inilah yang membuat Bali TV sebagai media pencerah masyarakat Bali mengadakan pertunjukan tradisional Bali dengan sentuhan era kekinian, Lawak Bondres Inovatif bersama para seniman bondres Clekontong Mas Balinese Art Production Batubulan.

Lawak Bondres Inovatif yang mengambil lokasi di Panggung Terbuka Arda Candra, Taman Budaya Bali ini dimeriahkan oleh para seniman bondres yang digemari masyarakat diantaranya : Sengap, Tompel, Sokir, Luh Kembung, Cablek, Juan, Saplir. Bebondresan yang mengambil tema “SUGIH NAGIH” ini juga menampilkan seniman drama gong di era tahun 1990-an, Petruk yang berduet dengan Gus Topok.

Pertunjukan yang berlangsung dari jam 8 malam pada tanggal 31 agustus 2013 sudah dipadati oleh para penonton. Hampir di semua sisi panggung arda candra tidak nampak tempat yang lowong, bahkan penonton sampai meluber ke sisi depan panggung, duduk melantai dengan tertib.

Silih berganti para seniman bondres mengocok perut para penonton dengan lawakan-lawakan khas mareka masing-masing. Sampai di akhir pementasan, para penonton memasuki panggung untuk dapat berebut berfoto bersama para seniman idola mereka. Kerinduan masyarakat akan pertunjukan tradisional Bali begitu nampak di saat beratus-ratus flash menyala dari kamera maupun handphone.

Menjual Bungan Jepun

Lawak Bondres Inovatif mengambil tema ‘’Sugih Nagih’’, mengisahkan kehidupan masyarakat di Desa Larangan yang semakin sulit. Kesenjangan yang terjadi membuat setiap orang harus bekerja lebih keras untuk menjalani hidup masing-masing. Sifat Materialisme yang berkembang menjadikan uang sebagai raja dan melupakan bahwa kita hidup dalam masyarakat sesungguhnya adalah bersaudara. Setiap orang di Desa Larangan bersedia melakukan apapun demi uang, semua yang menghasilkan uang akan menjadi rebutan untuk dijual bahkan bunga kamboja (bunga jepun) dijual demi kepentingan segelintir orang. Penjualan yang membabi buta tidak hanya menjual bunga jepun tapi sampai-sampai pohon kamboja bahkan tanah tempat pohon kamboja itu pun pada akhirnya siap untuk dijual.

Bunga jepun disimbolikkan sebagai kesucian. Layaknya Pulau Bali, terjualnya kesucian akan memberikan dampak buruk apalagi belakangan ini tidak hanya kesucian yang telah dilanggar dan terjual bahkan lahan-lahan yang seharusnya dipertahankan telah beralih fungsi dan kepemilikan demi perjuangan hidup. lantas, apakah kisah masyarakat Desa Larangan ini juga akan kita alami dalam keseharian kita..?? siap melakukan apapun demi uang, demi kaya secara mendadak..?


naskah asli oleh Dedi Tompel 
foto oleh Bali TV, diedit oleh Lugra
materi sudah pernah terbit di Majalah BaliPost

Ki Baju Rante –dalam khayalan

Buah Pikiran

Pesta Kesenian Bali (PKB) yang ke XXXIV rencananya akan berlangsung tanggal 9 juli 2012 ini. Saat itu, jam 10 pagi di ruang rapat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, membahas secara umum gimana teknis pelaksanaan Pesta Kesenian Bali. Kadisbud Prov Bali, Pak Ketut Suastika mengatakan bahwa pembukaan sekaligus pawai akan dilaksanakan di Lapangan Renon, depan Monumen Bajra Sandi dan sebagai orang nomor 1 di Indonesia, Presiden SBY yang akan menjadi tukang pukul gong pembukaan. Entah kenapa saya jadi ingat pementasan Drama Gong Kundi Manik, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Hampir satu tahun yang lalu drama gong yang berjudul Ki Baju Rante ini, telah telah dipentaskan di Wantilan areal Taman Budaya Denpasar.

Berkisah tentang Raja Kusuma Bhuana akan menjodohkan salah satu anaknya yang bernama Diah Ratna Sari dengan Jambe Lalana dari Kerajaan Komala Giri. Namun permaisuri menolak karena beliau menginginkan agar Diah Sekar Taji yang dijodohkan.

Suatu ketika Diah Ratna Sari mencari tirtha panglukatan di Pantai Jasri. Diah Ratna sari bertemu dengan I Made Guna Sambawa, yang sedang memancing. Muncullah niat putri untuk ikut memancing. Setelah beberapa saat memancing, tiba-tiba mereka terseret ombak.

I Made Guna Sambawa menolong dan menghantarkan Diah Ratna Sari sampai di Kerajaan Kusuma Bhuana. Patih Agung yang melihat Diah Ratna Sari dipapah oleh I Made Guna Sambawa seketika marah dan menjebloskan I Made Guna Sambawa ke penjara sedangkan Diah Ratna Sari dipersiapkan untuk segera menikah dengan Jambe Lalana.

Detya Candra Bawa datang menemui I Made Guna Sambawa di penjara. Sang Detya menceritakan bahwa dirinya adalah Raja Madya Pura dan I Made Guna Sambawa adalah anaknya sendiri. Raja Madya Pura kalah perang melawan Raja Kumala Giri, ayah Jambe Lalana. Akibatnya Sang Raja dikutuk menjadi Detya dan keluarganya nyinep wangsa agar selamat dari gempuran Raja Komala Giri. Kutukan itu akan berkhir apabila I Made Guna Sambawa beristri dan memiliki keturunan.



Detya Candra Bawa menyerahkan sebilah keris pusaka yang bernama Ki Baju Rante. Keris puasaka inilah yang akan melindungi I Made Guna Sambawa untuk merebut kembali kerajaan ayahnya dan menjadi raja di Madya Pura.

Suara Pak Ketut Suastika mempersilahkan untuk menikmati snack yang disediakan membangunkan saya dari lamunan, hehe.. mendengarkan rapat, sambil menghayal, tiba-tiba tersadar, disodorkan makanan. Mantapss...


*usai itu, ramah tamah dan kembali ke tempat kerja masing-masing.. haha...
*sore ruangan kaje kangin, maret 2012


Tari Sanghyang Jaran

Buah Pikiran

Selesai menyaksikan pementasan Sekaa Kecak Wanita “Srikandhi” oleh dari ibu-ibu PKK Srikandhi Desa Ubud Tengah di jaba Pura Batu Karu, Ubud. Ternyata masih ada pementasan yang lain yaitu pementasan Tari Sanghyang Jaran. Wow, setelah kecak wanita yang klasik, sekarang Tari Sanghyang Jaran yang penuh magis. Mantapss..

Sekilas bahwa Tari Sanghyang jaran adalah tarian magis karena ditarikan dalam keadaan tidak sadar atau trance. Ada beberapa Tari Sanghyang di Bali. Salah satunya adalah tari Sanghyang Jaran. Secara etimologi, Sanghyang Jaran terdiri dari 2 kata, Sanghyang dan Jaran. Sanghyang adalah dewa. Dalam hal ini adalah kekuatan atau energi yang begitu besar sedangkan Jaran berarti Kuda. Sanghyang Jaran adalah Sang Pengendara Kuda yang berfungsi melindungi dari kekuatan penyakit dan kekuatan jahat. Ia menjadi tidak sadarkan diri saat mendengar alunan tembang / suara. Ia berjalan diatas bara panas mengikuti tembang / suara. Terinspirasi dari tarian yang berfungsi untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan kekuatan jahat.

Penari –Jro Mangku Sudiana
Tari Sanghyang Jaran, ubud saya up load di SINI

Kecak Wanita “Srikandhi” Ubud

Buah Pikiran
Rasanya kurang klop jika jalan-jalan ke pulau Para Dewa, kalau kita tidak menyaksikan tari Kecak, sebuah tarian khas Pulau Dewata. Mungkin sudah jadi hal biasa kalau Tari Kecak ditarikan oleh para lelaki saja, namun kali ini istimewa sekali bagi saya. Kecak Wanita..!

Ini adalah kali kedua saya bertemu dengan sekaa Kecak Wanita ini. Namun sayang sekali, saya lupa untuk menuliskannya dan sama sekali tidak ada dokumentasinya, hehe.. nah, kali kedua ini juga begitu, rasa malas saya masih senang berteman akrab dengan saya, haha.. sedikit dipaksa, akhirnya saya mendapatkan filenya.

Sekaa Kecak Wanita “Srikandhi” ini terdiri dari ibu-ibu PKK Srikandhi Desa Ubud Tengah, Gianyar-Bali. Ubud yang sudah terkenal dengan kota seni, tidak hanya menghadirkan seni lukis dan patung serta tarinya yang didominasi oleh para laki-laki. Kali ini PKK Srikandi akan membuktikan bahwa ibu-ibu yang walau sudah dibebankan untuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan adat lainnya, masih sempat untuk berekspresi, menampilkan kebolehan yg mereka miliki. Tidak main-main, yang mereka hadirkan adalah kesenian kecak.


Saya datang lebih awal dari para penonton yang lain, sehingga saya bisa menyaksikan persiapan penampilan kali ini. Di bawah pohon beringin tua, obor-obor dan lampu minyak diletakkan sedemikian hingga seolah-olah membentuk sebuah lingkaran api. Saya sempat berbincang-bincang dengan sang pelatih, Gusti Lanang Oka Ardika atau yang lebih dikenal dengan nama Cedit. Ada cerita lain tentang Pak Cedit ini. Beliau beberapa kali sempat terlihat di layer televisi sebagai bintang iklan hehe.. dan terkahir saya tahu bahwa beliaulah yang memerankan penari Topeng Tua di stasiun Bali TV.

Kemudian olehnya, saya dikenalkan oleh pelatih tari yg lain, Anak Agung Anom Putra. Ternyatanya, saya sudah sempat bertemu/kenal dengan beliau, kalau gak sekitar tahun 2008. Pada saat itu, Pak Agung Anom menari Baris dan Topeng Tua di Balai Banjar Kutuh Kelod, Jaba Pura Dalem Ubud. Belum pernah saya melihat Tari Baris setegas Pak Agung Anom.




Epos Ramayana

Jika ingin menyaksikan penampilan Sekaa Kecak Wanita "Srikandhi", datanglah hari rabu jam 19.30 wita ke Jaba Pura Batu Karu, Ubud.

Para penari sudah siap tampil, mereka memakai kamen dengan rambut terurai. Cerita yang diambil kali ini adalah Epos Ramayana. Kisah besar perjalanan dan kehidupan manusia cerdas, Sang Rama.

Cerita diawali oleh Perjalanan Rama bersama Sita dan sang adik, Laksmana di sepanjang Sungai Godawari. Mereka menikmati keindahan hutan Panchawati.

Tiba-tiba muncul seekor kijang emas. Sita tertarik akan gerak-gerik kijang emas dan meminta sang suami, Rama, untuk menangkap kijang emas. Namun Rama tahu bahwa kijang emas itu sejatinya adalah jelmaan Patih Marica. Namun Sita tidak perduli dan bersikeras meminta Rama untuk menangkap kijang emas. Rama berusaha menangkap kijang emas, sampai ke dalam hutan, meningalkan Laksmana dan Sita.

Sita khawatir mendengar jerit kesakitan Rama. Laksmana tahu bahwa jeritan itu bukan Rama melainkan Patih Marica yang tertancap panah Rama. Sita tidak memperdulikan dan meminta Laksmana untuk mencari tahu keberadaan Rama. Laksmana meninggalkan Sita dengan memberikan pelindung bahwa siapapun yang berpikiran buruk tidak akan bisa mendekati Sita.

Di saat Sita sendirian datanglah Raja Alengkapura, Rahwana. Ia tertarik akan kecantikan Sita. Namun ia tidak mendekati sita karena perlindungan yang dibuat oleh Laksmana.

Rahwana mempergunakan taktik agar Sita keluar dari batas perlindungan yang telah dibuat Laksmana. Sita dilarikan ke Alengkapura.

Rama dan Laksmana bersedih kehilangan Sita. Mereka meminta bantuan kera putih, Hanoman, untuk menemukan keberadaan Sita.

Hanoman menyeberangi lautan menuju ke Kerajaan Alengkapura. Ia menemukan Sita di taman Ashoka bersama dengan raksasi wanita, Trijata. Hanoman menyerahkan cincin pemberian Rama sebagai bukti bahwa Hanoman adalah utusan Rama dan mengatakan bahwa Sita tidak perlu kawatir lagi karena tak lama lagi Rama sendiri yang akan menyelamatkan Sita.

Hanoman menuju ke Kota Alengka, ia merusak taman kota dan sengaja membuat agar dirinya tertangkap oleh pasukan Alengka. Tujuannya adalah untuk mengetehui gambaran Kota Alengka dan sejauh mana kekuatan musuh. Rahwana memutuskan untuk menghukum Hanoman. Ia dibakar hidup-hidup. Namun tak disadari oleh Rahwana, justru ini adalah kesempatan untuk membakar kota alengka dan membunuh para raksasa.

Setelah puas melaksanakan aksinya, Hanoman kembali ke Rama dan melaporkan segala yang telah ia lakukan selama menjadi duta di Alengkapura. Rama ditemani Laksmana dan Hanoman berperang melawan pasukan Rahwana. Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan menyelamatkan Sita.


Tengs – Sekaa Kecak wanita “Srikandhi” Desa Ubud Tengah

Ki Balian Batur

Buah Pikiran
RatuAnom Manik Geni & RatuAyu Mas Mecaling
Ki Balian Batur tinggal di sebuah desa bernama Karang Kedangkan. Ia dikenal sakti karena mendapat anugrah dari Sanghyang Durga Birawi. Jangan manusia biasa, wong samar, dedemit, memedi tidak ada yang berani mendekat apalagi untuk berselisik bertemu dengan beliau. Inilah salah satu yang membuat Ki Balian Batur begitu terkenal. Berkat anugrah ini, Ki Balian Batur diberi kewenangan untuk menghukum orang-orang yang berlaku salah, berjalan dalam tindakan adharma/tidak benar. Setiap manusia yang tidak ingat untuk beryadnya, lupa akan kawitan, tidak hormat kepada orang tua, maka patutlah untuk memberikan hukuman kepada manusia itu. Demikian ki balian batur bercerita kepada ketiga anaknya, Ni Luh Gerong, Ni Luh Wali dan Ni Luh Kasub

Ni Luh Wali, dibantu oleh saudara-saudaranya, berjualan nasi di Desa Cau yang terletak di sebelah timur Desa Karang Kedangkan. Sebelum berangkat berjualan, ke-tiga putri Ki Balian Batur memohon restu sang ayah, agar selamat tidak terjadi sesuatu dalam pekerjaannya.

Ni Luh Wali adalah seorang yang giat bekerja, memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan. Sehingga dagangannya laris dan banyak masyarakat yg menjadi langganan nasi di warung miliknya.
Ki Balian Batur
Sisya Ki Balian Batur Ngereh
Makanan Berdaging Manusia

Cokorda Sakti Blambangan dari Puri Mengwi, memerintah dengan adil penuh wibawa. Masyarakat memberikan bakti tak henti-henti. Kesejahteraan rakyat selalu dijaga, tidak ada ketimpangan dan duka melanda masyarakat. Peraturan dilaksanakan dengan baik, yang bersalah diberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya. Kehidupan bagai sinar matahari pagi, rasa hangat terasa di setiap hati.

Namun Cokorda mendapat laporan bahwa di pasar Cau ada sedikit kekacauan. konon ada seorang pedagang makanan yang menggunakan daging manusia sebagai lauknya. Sebagai seorang pemimpin, tidak boleh mempercayai begitu saja berita yang belum tentu benarnya. Semua informasi yang didapat harus dipilah-pilah, kemudian diuraikan sedemikian hingga hingga ditemukanlah simpul-simpul yang menjadi akar permasalahannya. Untuk itu, Cokorda Cbersama abdi segera menuju Pasar Cau, mencari kebenaran yang terjadi.

Cerita bersiar, sang abdi menemukan sisa jeriji pada makanan. Entah siapa yang telah berbuat tidak benar ini dengan memasukkan jeriji manusia ke dalam makanan atau memang makanan itu disajikan seperti itu. Mengetahui hal ini, Cokorda Sakti Blambangan menajadi marah. Sebagai tabeng dada kerajaan mengwi, ia harus menghukum siapapun yang telah malukan perbuatan yang tidak dibenarkan ini. Ni Luh Wali tertangkap secara nyata telah memakai daging manusia dalam masakannya. Namun Luh Wali menolak dengan tegas apa yang diperlihatkan oleh sang abdi, karena merasa bahwa tidak pernah memakai daging manusia dalam masakan yang ia jual. Cokorda tidak menghiraukan, bukti-bukti telah ada dan Ni Luh Wali harus dihukum dengan tegas. Ni Luh Wali tetap kukuh untuk menolah semua tuduhan yang dilontarkan untuknya. Ia yang selalu berusaha menyajikan makanan tanpa cela, telah merasa difitnah. Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur, tidak terima atas perlakuan yang ia dapatkan. Ia tetap mempertahankan pendapatnya dan justru mempertanyakan peran Cokorda Sakti Blambangan sebagai pimpinan, seharusnya mampu mengayomi rakyatnya, bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan yang tidak pernah ada.

Cokorda Sakti sadar bahwa Ni Luh Wali adalah putri Ki Balian Batur, penguasa ilmu pengeleakan. Tentu apa yang dilakukan akan selalu berkaitan dengan ilmu pengelakan. Ayah yang memiliki ilmu hitam tentu ini akan diwarisi kepada anaknya. Mungkin inilah kebenaran atas berita yang simpang siur selama ini. Akhirnya, mereka sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing dan merasa telah melakukan swadarma-nya, sepakatlah mereka untuk saling adu kesaktian untuk membuktikan siapakah yang benar.

Ni Luh Wali merubah diri menjadi Garuda namun dengan mudah dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh Cokorda Sakti Blambangan. Ni Luh Wali tidak terima akan kekalahan, ia berlari melaporkan kejadian ini kepada ayahnya.

Ki Balian Batur yang merasa terhina dan difitnah, segera mengumpulkan para sisya untuk menyerang Kerajaan Mengwi dan membuat wabah di Desa Cau.
Tak berselang lama, banyak warga masyarakat yang menjadi korban keganasan penyakit yang disebar oleh Ki Balian Batur serta para sisya-nya. Setiap hari selalu ada warga yang meninggal. Sudah banyak para ahli pengobatan yang dikerahkan untuk menanggulangi bencara pennyakit aneh ini namun semuanya tidak mampu mengetahui apa yang menjadi sebab dan bagaimana menyembuhkannya penyakit aneh ini.

Cokorda Sakti Blambangan mengetahui bahwa penyakit aneh ini adalah akibat dari kemarahan Ki Balian Batur. Beliau ingat akan kejadian di Pasar Cau, dimana ia telah mempermalukan Ni Luh Wali, putri Ki Balian Batur yang telah menjual makanan dengan menggunakan daging manusia. Hal ini menjadi berkembang dan kekejaman Ki Balian Batur harus segera dihentikan. Tugas berat ini dibebankan kepada Ki Bendesa Gumiyar. Maka diutuslah Ki Bendesa untuk mengalahkan Ki Balian Batur dan menyelamatkan masyarakat dari wabah penyakit.

tengs to -Keluarga Besar Desa Adat Kemoning, Klungkung

Sekilas Dari Spirit of Raka Rasmi

Buah Pikiran “Menari merupakan bagian hidup saya. Bila tak menari, tubuh terasa kelu. Karena itu, saya senang mewariskan tarian Legong dan Oleg kepada generasi penerus sebagai yadnya” Ni Gusti Ayu Raka Rasmi

Seperangkat gamelan sudah tertata dengan baik. Gapura Puri Peliatan Ubud akan menjadi latar belakang Pementasan Tari Oleg pada acara “Spirit of Raka Rasmi”. Agung Wirati masih sibuk mengkoordinasikan beberapa hal agar pementasan dapat berlangsung sesuai rencana dan para penari juga dapat tampil secara maksimal. Saking sibuknya beliau, saya sempat menitipkan pesan, bahwa saya butuh waktu beliau 5 menit untuk berbicara, hahahaa…

Sejatinya ini adalah acara ulang tahun Ni Gusti Ayu Raka Rasmi, sang maestro tari Bali. Raka Rasmi adalah anak pertama dari lima bersaudara ini lahir di kota pusat seni, Ubud Bali. Raka Rasmi mulai belajar Tari Legong sejak umur 9 tahun dibimbing oleh Gusti Made Segog dan Anak Agung Gede Mandar. Dari kedua orang inilah Raka Rasmi banyak mendapat tempaan menjadi seorang penari.

Penglingsir Puri Agung Peliatan, Cok. Gde Putra Nindia, salam sambutannya menyampaikan bahwa beliau merasa bangga memiliki seorang Ayu Raka, seorang ibu dengan beragam penghargaan baik nasional maupun internasional. “Tentu ini merupakan hal yang luar biasa, diusia yang sudah senja namun semangat seorang Raka Rasmi begitu membara”, lanjut Cok. Gde Putra Nindia.

Disamping Ibu Agung Satria Naradha Dan Ibu Bintang Puspayoga, hadir juga sang maestro Jro Puspa, yang terlihat begitu antusias menyaksikan semua penampilan tari oleg. Walau usia beliau juga sudah senja namun setiap kegiatan seniman tua yang digagas oleh Yayasan Intan Budaya Negeri pimpinan Ibu Agung Wirati, beliau selalu menyempatkan untuk hadir. Ini adalah kali ke-tiga saya ketemu dengan beliau. Sesekali nampak anggukan kecil beliau seperti ikut larut dalam gerakan para penari. Entah kenapa saya senang sekali memperhatikan beliau, hahaa… mungkin gara-gara setahun yang lalu di tempat yang sama namun dalam acara berbeda, selesai menari Tari Candra Metu, beliau duduk bareng bersama para penonton dan kebetulan beliau duduk di samping saya. saya sempat mengatakan bahwa duduk di sini akan kena damuh (embun) akan membuat pusing. Jadi lebih Ibu Jero duduk di Balai Daja/Utara yg ada atapnya. Namun seingat saya, beliau hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa sebenarnya beliau memang sedang tidak enak badan dan putra beliau, AA Puspayoga yang juga wakil Gubernur Bali, sudah tidak meng-ijinan untuk pergi dan menari malam-malam. Tapi Ni Made Rupawati atau Jero Puspa tetap ngotot dan merasa mendapat energi yang besar untuk datang dan ikut menari.

Acara ulang tahun yang mengambil tema “Spirit of raka rasmi” merupakan sebuah upaya agar semangat yang dimiliki oleh seorang raka rasmi mampu diteladani oleh para generasi muda. Kesenian dan budaya bali yang begitu terkenal hingga ke berbagai belahan dunia agar nantinya tidak hanya menjadi cerita anak-anak saja, tapi akan terus berlanjut dan bahkan mampu melebihi gaung para pendahulunya. Kesenian luar yang banyak menggerus para generasi muda saat ini bukan merupakan sesuatu yang salah namun harus tetap kita gunakan filter untuk memilah hal-hal mana yang patut kita ambil dan buang. Pakem-pakem yang telah diwariskan para pendahulu khususnya para seniman tua harus tetap kita pertahankan dan gunakan sebagai acuan dalam mengembangkan berbagai kesenian yang tercipta.

Pada malam itu, secara berturut-turun ditampilkan Tari Pendet Style Peliatan, Tari Oleg Tamulilingan oleh penari cilik, menengah, remaja dan senior.

Penari Terbaik

Tari Oleg Tamulilingan, pada awalnya dinamakan Tamulilingan Mangisep Sari. sebuah karya seniman besar I Ketut Maria tahun 1952 atas permintaan John Coast (dari Amerika). Tarian ini melukiskan dua ekor kumbang jantan dan betina yang sedang memadu kasih di taman bunga dan Ni Gusti Ayu Raka Rasmi-lah yang tercatat sebagai penari pertama tarian ini. Penari kelahiran Banjar Teruna, Peliatan Ubud tahun 1939 ini telah banyak mendapat bimbingan oleh kedua guru tarinya, kemudian kembali mengikuti keinginannya untuk belajar tari Oleg Tamulilingan dari Sang Maestro I Ketut Maria.

Bukan hanya tari oleg tamulilingan saja yang mampu ditarikan dengan sangat baik tapi disetiap penampilannya baik dalam menari Condong, Legong, Garuda dll, Ayu Raka atau Raka Rasmi tetap mampu memikat siapa saja yang menyaksikan gerak Ayu Raka menari. Karena inilah seorang Impresario asal Inggris, John Coast terkagum-kagum dan kemudian menobatkan Ayu Raka sebagai seorang bintang dalam menari. Bahkan Raka rasmi menjadi cover buku "Dancing Out of Bali" karya John Coast.

Kini, diusia senja, seorang Raka Rasmi masih tetap penuh dengan energi. Semangat beliau sepertinya tidak pernah habis. Disela-sela kesibukan, beliau masih menyempatkan diri untuk saling berbagi, bernyadnya untuk menebar semangat bagi para generasi muda. Bali yang begitu terkenal diluar negeri, bali yang selalu menjadi tujuan pariwisata Indonesia bahkan dunia dan bali adalah karya Tuhan yang terindah… dengan begitu luhung seni dan budayanya jika tidak kita yang mencintai, siapa yang akan mampu melestarikan kebudayaan ini.




yannusa
tengs edit foto untuk Kanaya Radha

I Gede Basur, Penguasa Ilmu Leak Desti di Bali

Buah Pikiran
Keberadaan leak di Bali dari jaman dahulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna, keberadaannya dari dulu menjadi perbincangan yang menakutkan di masyarakat.Ilmu Desti atau ilmu pengleakan sejatinya adalah ilmu Bali kuno dan merupakan ilmu rahasia. Rahasia karena pada zaman dahulu, tidak sembarangan orang bisa menguasai kemampuan ini. Diceritakan bahwa hanya para raja dan bawahannya yang memiliki ilmu ini untuk mempertahankan dan membela diri dan kerajaan dari serangan. Selain itu, dalam proses ngeleak, ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan dan prosesnya ini membutuhkan tempat yang tersembunyi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ngeleak dilakukan di kuburan. Salah satu norma yang dipahami dalam pengelakan, siapapun dirimu, entah manusia, orang sakti, kaya, miskin, kesemuanya itu pasti akan berakhir di kuburan. Inilah mengapa kuburan dianggap tempat suci. Jro Mangku Sudiana dari Sesetan, sahabat saya, pernah menyatakan bahwa kuburan adalah satu satu tempat suci.

Seiring perkembangan zaman, ilmu pengelakan sering dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri yang kurang baik. Ilmu pengelakan adalah ilmu seni, tidak untuk membunuh atau menyakiti, hanya untuk menikmati sensasi dunia dari dimensi yang berbeda. Dalam ilmu pengelakan ada norma atau aturan-aturan tersendiri yang harus diikuti. Ibarat pedang bermata dua, ilmu pengeleakan dipakai oleh manusia untuk menyakiti bahkan untuk membunuh orang yang diinginkan. Karena rasa dendam, rasa ingin memiliki, iri, dengki, egois dll.

Ada beberapa cerita yang dalam pembabakannya mengisahkan bagaimana seseorang menguasai ilmu pengelakan. Mempergunakannya sesuai dengan keadaan pada masing-masing zamannya. Salah satunya cerita dramatri I Gede Basur.

I Nyoman Karang

Seorang laki-laki sederhana, berperilaku baik dan hidup membaur di masyarakat. I Nyoman Karang, begitu laki-laki itu dipanggil di Banjaran Sari. Ia hidup bersama putri kesayangannya, Ni Nyoman Sukasti. Kebahagiaan selalu menyelimuti kehidupannya. Walau sudah ditinggal oleh sang istri, namun I Nyoman Karang mampu membesarkan putri satu-satunya. Suatu hari, ia terkenang saat istrinya melahirkan Ni Nyoman Sukasti. Kesedihan itu masih ia rasakan. Istrinya bertarung dengan maut, mengerahkan kemampuan yg dimiliki, berusaha keras agar bayi yg terkandung dalam rahimnya, bisa terlahir dengan sempurna. Memiliki keturunan dan menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan tetinggi bagi sang istri. Sebagai seorang suami, ia juga ikut merasakan beban berat yang diderita istrinya. Hanya berdoa, memohon agar Ida Sanghyang Widhi memberikan yang terbaik bagi istri dan anaknya.

Ida sanghyang Widhi mengabulkan permohonan I Nyoman Karang, sang bayi yg ditunggu-tunggu, tangisan sang bayi telah terdengar, menandakan sang bayi telah lahir dengan sempurna. Namun di tengah kegembiraan itu, istrinya tidak pernah menghembuskan nafas lagi. Nafas terakhir itu telah diberikan untuk kelahiran sang putri. Kegembiraan yang terselimuti oleh kepedihan tercampur berbaur dalam hati I Nyoman Karang saat itu.

Sebagai orang tua, ia harus tetap hidup, ia harus tetap tegar untuk melaksanakan pesan yang dititipkan oleh istri untuk membesarkan sang putri. Hujan lebat serta kilatan petir menyambar, semakin menambah kepedihan dalam diri I Nyoman Karang. Dalam keadaan terguncang , ia pergi ke tengah hutan, mencari sesuatu yang bisa diberikan untuk anaknya yang masih merah.

Wajahnya menjadi sendu, buliran air hampir saja menetes di wajah I Nyoman Karang. Ni Nyoman Sukasti tersentuh oleh cerita orangtuanya.

“oh engkau guru saya, orang tua saya, orang yg paling saya hormati, orang yg telah meniupkan jiwa dalam badan saya, terimakasih dan rasa hormat semua saya serahkan untuk engkau ayah…. Dengan apa saya harus membalas semua pemberian ayah pada anakmu ini... karena hutang seorang anak, pernah bisa terlunaskan...” demikian Ni Nyoman Sukasti terisak di hadapan ayahnya. “Jadilah wanita yang berbudi luhur, jaga dirimu dengan baik, agar menjadi putra suputra….” Singkat permintaan I Nyoman Karang.

I Gede Basur

I Gede Basur seorang kaya raya yang tinggal di Banjaran Santun. Ia menjadi sangat terkenal karena menguasai ilmu pengiwa atau ilmu aliran hitam. I Wayan Tigaron adalah satu-satunya putra dan merupakan kesayangan I Gede Basur. Namun sifat I Wayan Tigaron tidak begitu baik, kebiasaan berjudi, mabuk minuman keras dan mempermainkan wanita adalah hal yang biasa dalam kesehariannya. Sebagai orang tua, I Gede Basur selalu menuruti setiap permintaan anak kesayangannya. Namun demikian, I Gede Basur pun sudah tidak sabar ingin memiliki seorang menantu, menimang seorang cucu. Tiada kebahagiaan yang ia inginkan saat ini selain menjadi seorang kakek, melewati masa tua diganggu oleh tingkah lucu menggemaskan dari sang cucu. I Gede Basur tahu bahwa anaknya telah jatuh cinta pada Ni Nyoman Sukasti dan iapun teringat bahwa I Wayan Tigaron sempat memberitahunya untuk melamar ke Banjaran Sari. Segera I Gede Basur mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar ni nyoman sukasti di Banjaran Sari. Perlengkapan dipersiapkan, segala jenis perhiasan dan kekayaan dunia akan diberikan sebagai bukti keseriusan lamaran kali ini.

Lamaran yang Ditolak

I Gede Basur dan I Nyoman Karang saling beramah tamah. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu, rasa kangen telah ditumpahkan kedua anak manusia itu. Penuh percaya diri karena merasa yakin akan lamarannya, I Gede Basur secara langsung menyampaikan bahwa anaknya, I Wayan Tigaron, sudah beranjak dewasa, demikian juga dengan Ni Nyoman Sukasti, sudah saatnyalah untuk mencari pendamping hidupnya. Yang diharapkan adalah kebahagiaan, karena harta benda, kekayaan duniawi yang dimiliki tiada arti kalau rasa persaudaraan yang telah diciptakan oleh para leluhur dahulu terputus begitu saja. Alangkah baiknya jika rasa persaudaran yang telah terjalin ini dipertegas kembali. Salah satunya adalah dengan menikahkan I Wayan Tigaron dengan Ni Nyoman Sukasti. Karena dengan demikian bukan hanya dua keluarga yang akan menjadi satu tapi rasa kekeluargaan kedua banjaran pun akan terbina dengan baik. Ini tentu akan memberikan dampak yang baik bagi kedua belah pihak. Demikian perasaan I Gede Basur dengan senangnya. I nyoman karang menyambut baik keinginan I Gede Basur. Ia pun merasa berbahagia akan kepercayaan yang diberikan I Gede Basur terhadapnya. Seperti seorang yang haus, diberikan seteguh air untuk melepas dahaga selama ini. Namun karena ini adalah masalah pernikahan anaknya, ia tidak mau memutuskan. I Nyoman Karang menyerahkan segala keputusan ini kepada anaknya karena memilih pendamping untuk menemani seumur hidup adalah mutlak menjadi keputusan Ni Nyoman Sukasti.

Ni Nyoman Sukasti, wanita cantik berpengetahuan, menolak pelamaran. Pendamping seumur hidup haruslah dipilih berdasarkan cinta, karena kekayaan duniawi bersifat semu. Ia akan pudar seiring berjalannya waktu. Walau seorang yang lahir dari kemiskinan, kalau ia memiliki cinta sejati maka seseorang itulah yang disebut kaya. Kekayaan yang tidak semu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga akan hadir bila kedua pasangan itu memiliki cinta sejati.. cinta sejati itu ada pada I Wayan Tirta. Itulah yang Ni Nyoman Sukasti inginkan.

I Gede Basur yang keinginannya selalu terpenuhi, kali ini harus pulang dengan tangan hampa. Dalam hatinya ia merasa sakit luar biasa, pelamaran yang telah dipersiapkan dengan begitu mewah harus diakhiri oleh kegagalan. Namun I gede basur sadar kebenaran upacan Ni Noman Sukasti. Pernikahan haruslah didasar atas rasa cinta, bukan oleh harta dunia. I Gede Basur menemui I Wayan Tigaron. Sebagai orang tua, ia meminta maaf atas kegagalannya untuk membawa Ni Nyoman Sukasti sebagai calon memantu. I Wayan Tigaron yang memang memiliki sifat kurang baik, tidak peduli, ia kukuh bahwa Ni Nyoman Sukasti harus menjadi istrinya. Ia menyalahkan ayahnya karena telah gagal, ia juga mempertanyakan kemampuan ilmu hitam yang dimiliki ayahnya. Seraya, mengungkit-ungkit, memanas-manasi, merasa sia-sia memiliki kekayaan yang berlimpah, kalau hanya melamar seorang Ni Nyoman Sukasti saja tidak mampu. I Gede Basur merasa terhina kembali, kemarahannya memuncak hingga timbullah kebencian dalam dirinya. Rasa benci ini harus dihapus oleh kematian I Nyoman Karang dan Ni Nyoman Sukasti.

Bencana Banjaran Sari

I Gede Basur berangkat ke kuburan, memohon anugrah Bhatari Durga, agar dapat membuat wabah di Banjaran Sari. Semua muridnya dikerahkan, para leak diundang untuk ikut membantu menjalankan niat jahatnya, menghancurkan Banjaran Sari. Satu persatu warga Banjaran Sari menjadi korban akibat kekejaman I Gede Basur. Setiap saat selalu ada warga yang sakit dan tak berselang lama meninggal. Para ahli pengobatan dikerahkan untuk menyelesaikan permasalahan ini justru menjadi korban keganasan wabah penyakit yang digelar I Gede Basur.

Keresahan masyarakat diketahui oleh seorang Jro Balian. Jro Balian yang memiliki kemampuan dengan pengetahuan tinggi mampu mengetahui sebab wabah di Banjaran Sari. Ia yang telah belajar ilmu aliran kanan atau penengen akan berupaya dengan semua kemampuan untuk melenyapkan ilmu pengleakan / pengiwa I Gede Basur. Berangkatlah Jro Balian ke kediaman I Gede Basur untuk meminta pertanggungjawaban karena telah membuat wabah / gerubug di Banjaran Sari. Tak mendapatkan titik temu, keduanya sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing. Akhirnya saling adu kemampuanlah yang menjadi titik penyelesaiannya.


Tengs to - Keluarga Besar Pemerajan Agung Sakti Padangsambian
* kalau ingin melihat leak ngendih atau endihan leak datanglah ke kuburan pada tengah malam Kajeng Kliwon Enyitan

Melali To Lembongan

Buah Pikiran
crew
Tidak seperti biasanya, kalau urusan ngayah/bekerja dg iklas tanpa mengharapkan upah di acara dunia magis, kita pasti berangkat sore. Namun kali ini lokasinya berada di sebelah timur Pulau Bali, mesti nyeberang Selat Badung. Pada saat ketemuan dengan Pak Kadek Miles, orang yg menjadi kontak saya, sudah diwanti-wanti agar berkumpul tepat waktu di Pantai Sanur. “Keberangkatan akan barengan dengan Ratu Peranda” singkat kalimatnya di HP.

Tepat sampai di sanur, sudah ada beberapa semeton dari Nusa Lembongan menunggu untuk ikut membantu mengangkut perlengkapan kerja pendokumentasian pementasan dramatari klasik Dukuh Suladri di Desa Adat Lembongan. Tengkiu untuk Pak Sugik, Kapten Speed Boat Sea Horse, perjalanan yg menyenangkan sampai di Lembongan. Sebenarnya sudah beberapa kali mengenal Lembongan, bahkan saya pernah ngajak istri untuk berlibur ke pulau mungil nan indah ini. Cerita indah itu tertulis dengan baik di sini. dan disini Di Lembongan, kami langsung menuju ke lokasi pementasan, mengecek segala sesuatu untuk keperluan pendokumentasian. Dimana lokasi penempatan peralatan operator, bagaimana kelistrikan, audio dan penempatan sudut ambil gambar. Bahkan bapak petugas PLN cabang Lembongan ikut terjun langsung ke lokasi untuk memastikan ketersediaan listrik untuk pementasan kali ini.

Saya yg sudah beberapa kali ke Nusa Lembongan, masih sempat untuk menanyakan, “kenapa di sini panas sekali..?” “kalau gak panas, bukan nusa namanya Sus”, sms Bli Balok, semeton saya yg kebetulan dari Banjar Kangin, Desa Jungutbatu, Lembongan. Ada sesuatu yg membuat saya tergelitik saat itu, ada spanduk bertuliskan “calonarang dukuh suladri.”, lho? Ini pementasan Calonarang apa Dukuh Suladri..? saya dipastikan bahwa ini pementasan dengan cerita Dukuh Suladri, tapi kok tulisan spanduknya Calonarang..? saya tidak mendapat jawaban…


Balok Fam

Pak Balok 

Ada waktu dimana kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu kerabat teman yg kebetulan tinggal di Jungutbatu. Pak Sugeng, sang penjual bakso, tengkiu pak, ayam krispinya gede dan krispi banget, enak ( gratisan hehee.. ). Masuk sms salah satu teman, Windu ( adik Bli Balok ), ia meminta agar menyempatkan waktu untuk singgah ke rumahnya di Jungutbatu. Tapi waktunya kurang tepat, hari itu Buda Cemeng Klawu. Banyak odalan / upacara di sini. Yah, saya hanya bertemu dengan bapak-nya Bli Balok. Saya tidak tahu siapa nama asli beliau karena di daerah sini, seseorang dipanggil sesuai dengan nama anaknya yg pertama, pak balok. Pembicaraan panjang dari tentang cerita sudah ada banyak cucu, jatuh dari sepeda motor..? ( beliau adalah seorang kapten yg sudah masuk katagori legend di Nusa ), mencari hari-hari baik/pawukon, pura2, cerita wayang cengblonk, Calonarang, Dukuh Suladri ( lebih ke arah kepemangkuan ) sampai sudah cukup untuk merasakan hidup ( ini cerita yg berat, karena memang saya suka kalau membicarakan sesuatu tentang hidup dan kehidupan, karena beliau orangnya terbuka, antara mengkritik dg di kritik ). Bapak bli balok, masih seperti dulu, saat saya kenal belasan tahun yg lalu, saat memek / istri beliau masih ada. Beliau adalah orang tua yg baik, saya sudah menganggapnya sebagai orang tua saya. 

Seperti biasa, saya selalu menikmati setiap pementasan2 seperti ini. Namun kali ini saya ditemani Bli Balok, asisten saya, hahahaa… (just kidding bli ). Awal-awal pementasan berjalan seperti biasa. setelah keluar sisya ngereh /murid-murid Dayu Datu baru saya menjadi lebih tertarik, para penarinya pasti cantik-cantik dengan pakaian dan tarian yg magis. Suasana kembali sedikit berubah saat bangke-bangke-an memasuki kalangan,. Kali ini ada 2 bangke yg di tampilkan, diusung dari dalam Pura Pesimpangan Dalem Ped menuju ke kalangan. Satu persatu penonton mulai kerawuhan/trance Beruntung para pecalang/petugas pengamanan adat sigap untuk mengantisipasi agar yg kerawuhan tidak sampai mengganggu acara. Suasana semakin terasa berbeda saat cerita memasuki adegan Dukuh Suladri beradu kesaktian dengan Dayu Datu. Ida Ratu Sasuhunan yg berstana di Pura Penataran Pesimpangan Dalem Ped di Lembongan benar-benar luar biasa. Baru sesaat Beliau napak pertiwi/menyentuh bumi, damuh-damuh ida / para bawahan Sang Ratu sudah pada kerawuhan/trance menyambut kehadiran Beliau. Kalau boleh dibilang hampir sepertiga dari penonton yg hadir ikut kerawuhan / trance. Sampai-sampai teman-teman pada kewalahan untuk mendokumentasikan. Kamera terhalangi oleh yg kerawuhan dan penonton. Bahkan 2 buah lampu kami diterjang oleh semeton yg kerawuhan.

Karya mapelaspas lan ngeteg linggih Ini adalah kesempatan baik untuk nyolahang Ida Ratu Sasuhunan, bukan dikerumini yg justru membuat sempit ruang gerak Ida Ratu Sasuhunan untuk masolah. Dan sang juru kamera yg bertugas untuk membidik gambar dari angle yg bagus malah terhalangi para penonton. Semoga tahun-tahun ke depan, panitia lebih sigap untuk mengantisipasi hal ini. Tetap syukur semua berjalan dengan dengan baik-baik saja..

Tengs to- pak kadek miles, pak ketut ardana

Aji Kepatian Weda Sulambang Geni Pasupati Ki Bendesa Manik Mas

Buah Pikiran
Ida Sasuhunan Pura Dalem Manik Tirta
Ki Bendesa Gading Wani adalah seorang kaya raya di Desa Gading Wani. Tidak ada yang berani menentang segala keputusan beliau. Apalagi setelah beliau mendapat anugrah, dwi jati, kesempatan untuk dilahirkan dari pengetahuan oleh Maha Rsi Danghyang Nirartha. Ki Bendesa Gading Wani mendapat julukan Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading merasa begitu bahagia. Kebahagiaannya semakin menjadi setelah melihat kemakmuran yang dirasakan masyarakatnya. Beliau merasa ini adalah berkat kedatangan Danghyang Nirartha. Vibrasi Danghyang Nirartha telah memberikan energi baik bagi setiap makhluk di pedesaan pun merupakan berkat subur bagi tanah persawahan di Desa Gading Wani. Kebahagiaan tak terhingga inilah yang memunculkan rasa, keinginan untuk terus berbakti pada Sang Pemilik Jagad, Ida Sang Hyang Widhi. Upacara yadnya, itulah yang terbersit dalam pikiran Ki Macan Gading sebagai ungkapan syukur atas anugrah kebahagiaan ini. Karena baginya, tiada berguna kekayaan berlimpah jika ia tidak mampu menghaturkan yadnya persembahan. Sebagai tanda perhormatan untuk guru, bahwa dengan yadnya, sebagai tanda bahwa kita berbakti, apalagi beliau telah lahir dari pengetahuan, diperbolehkan untuk melaksanakan yadnya.

Sang Kalika Maya 

Sang Kalika Maya, Sisya Sanghyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Sang Kalika Maya terkenal karena kemampuan ilmu hitam/ pengeleakan yang dimiliki. Tak ayal, begitu banyak orang dari berbagai penjuru desa datang menghadap, memohon agar berkenan dijadikan murid Sang Kalika Maya. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Zaman Kali Yuga, zaman dimana sifat manusia tamak dengan keinginan / kama, sifat-sifat satwan / kebenaran sudah diselimuti oleh rajas, tamas.

Sang Kalika Maya menceritakan pada muridnya, ia masih teringat akan tugas yg diberikan padanya. Dari dalam hatinya, ia melihat bahwa seorang manusia yang bernama Ki Dukuh Macan Gading sedang persiapan dalam melaksanakan upacara yadnya yang didasari oleh sifat angkuh, menyombongkan diri. walau upacara yadnya dilakukan penuh dengan kemegahan duniawi, namun sang dukuh lupa bagaimana seharusnya bersikap dalam melaksanakan upacara yadnya. Upacara yadnya yang dilakukan, baik dalam dewa, rsi, manusia, pitra maupun butha yadnya (panca yadnya – 5 korban suci ), harus didasari oleh rasa iklas, tulus dan suci. Jika tidak, sia-sialah yadnya tersebut. Tugas Sang Kalika Maya –lah yang akan memberikan hukuman akibat kelalaian tingkah Ki Bendesa Macan Gading.

Sisya Ngereh
Di Setra Gandamayu, malam pekat yang tak biasanya, deras hujan mengguyur tanah kering, mengalirkan air bercampur tanah basah, guntur menggelegar, petir menyambar menyilaukam mata. Sang Kalika Maya berdiri bersama para sisya, berdoa kehadapan Sanghyang Durga Birawi. Memohon anugrah agar dapat membuat wabah penyakit di Desa Gading Wana. Mereka bersiap menggagalkan upacara yadnya yang sedang digelar oleh Ki Bendesa Macan Gading di Desa Gading Wana. Wabah di Gading Wana Desa Gading Wana yang sedang hingar binger oleh persiapan upacara yadnya mejadi geger. Kehidupan yang tenteram berbah menjadi suasana menyeramkan. Tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah di malam hari. Persiapan upacara menjadi kacau. Bahan-bahan yang menjadi persiapan untuk upacara menjadi cepat busuk. Berbagai perlengkapan upacara yang lain menjadi rusak tak menentu. Banyak warga yang tiba-tiba jatuh sakit dan tak berselang lama, meninggal. Ki Dukuh Macan Gading menjadi risau, kebingungan akan kejadian aneh yang menimpa masyarakatnya. Rasa sedih tak tertahankan menyaksikan masyarakatnya dalam keadaan menderita akibat sesuatu yang tidak jelas. Dalam keadaan pasrah, ia teringat akan saudaranya, Ki Bendesa Manik Mas. Segeralah ia berangkat menuju Desa Mas, meminta bantuan Ki Bendesa Manik Mas.

Pertemuan Kalika Maya
Pertemuan Kalika Maya

Di tengah perjalanannya, Ki Dukuh Macan Gading bertemu dengan Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menanyakan kenapa Ki Dukuh Macan Gading begitu tergopoh-gopoh dalam perjalanannya. Ki Macan Gading mengatakan bahwa ia terburu-buru untuk bertemu saudaranya , Ki Dukuh Manik Mas di Desa Mas. Sang Kalika Maya, yg sudah tahu dengan apa yg terjadi kembali menyindir, kenapa saat puncak upacara yadnya yg Ki Dukuh Macan Gading lakukan, justru ia pergi meninggalkannya. Ki Dukuh Macan Gading yg terkenal karena kesaktiannya, seakan lari dari tanggung jawab yg sedang ia hadapi.. begitu Sang Kalika Maya menyindir sikap Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading sadar, ia sedang berhadapan dengan siapa. Sang Kalika Maya, seorang dengan dengan kemampuan ilmu hitam / pengeleakan tingkat tinggi.

Berkat kemampuannya, Ki Dukuh Macan Gading juga mampu mengetahui bahwa wabah penyakit yang menimpa masyarakatnya akibat ulah dari Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menyangkal dan mempertanyakan hal apa yg bisa dijadikan alasan untuk dapat menuduh bahwa dirinyalah yang menjadi sebab wabah penyakit di desa. Sesuatu yang diucapkan tanpa dasar yang kuat merupakan sebuah fitnah dan itu pasti menyakitkan. Justru ia mempertanyakan, bukahkan setiap upacara yg dilakukan harus mendapat restu dari Tuhan. Bukan melaksanakan upacara yang asal-asalan. Setiap tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan adalah sesuatu yang sia-sia. Upacara yang dilakukan seharusnya didasari oleh pengetahuan, disesuaikan dengan desa kala patra (tempat waktu dan keadaan) serta berpedoman pada tri hita karana (tiga hubungan yang harmonis) yang akan mengarahkan kita pada kebahagiaan. Harta kekayaan yang dimiliki adalah sesuatu yang palsu. Walau mendapat anugrah, walau berasal dari keturunan terhormat, kalau sesana tidak mencerminkan anugrah, kalau perilaku tidak layak menyandang gelar terhormat, ibarat berjalan tanpa pengetahuan, sia-sia apa yang telah dilakukan. Merasa panas karena didera oleh manusia “hitam” seperti Sang Kalika Maya. Harga diri dari keturunan, kemampuan dan pengetahuan serasa tiada mampu menahan cercaan. Beragam cercaan pernyataan, Ki Dukuh Macan Gading merasa tersudutkan. Pikiran sempit menyelimuti dan pembicaraan tidak akan menyelesaikan permasalahan.. Mengasah sebatas mana kemampuan masing-masih adalah jalan keluar terbaik diantara keduanya. Mereka bersiap untuk mengadu kesaktian.

Ki Bendesa Manik Mas 

Ki Bendesa Manik Mas adalah orang yang begitu berwibawa. Beliau seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi. Mengamalkan ilmu kepada setiap masyarakat, membantu setiap yang membutuhkan pertolongan adalah hal yang menjadi dasar sikap beliau. Hal inilah yang membuat masyarakat begitu segan dengan beliau. Kemampuannyalah yang menyebabkan beliau mampu mengetahui apa yang telah terjadi di Desa Gading Wani. Beliau tahu bahwa saudaranya, Ki Dukuh Macan Gading, yang telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang telah lahir dari pengetahuan. Seorang yang mendapat anugrah pengetahuan, harus bersikap sesuai dengan kewajiban sendiri berdasar pada pengetahuan itu sendiri. Lebih mengutamakan kebenaran dari pada kepentingan diri sendiri. Segala bentuk hura-hura, judi dan mabuk harus sudah ditinggalkan. Bagaimana dalam keseharian harus selalu berusaha menjadi tuntunan di masyarakat. Bila hal itu diabaikan, niscaya wabah akan merasuki, pikiran buruk akan dapat mengarahkan kita pada hal-hal yang tidak seharusnya. Dan kegelapan akan menyelimuti sehingga dengan mudah sifa-sifat buruk, iri dengki, ego akan menjadi raja. Terjerumuslah ia ke dalam kegelapan itu sendiri.

Saudara adalah ikatan batin yang tak akan mampu terputus. Ia akan menjadi penghubung tanpa batas untuk dapat merasakan rasa itu sendiri. Apapun keadaannya, ia tidak akan dapat terjauhkan. Apalagi kemampuan dan pengetahuan memang mewajibkan untuk selalu menegakkan kebenaran. Kebenaran untuk menghalau energi buruk yang telah menyelimuti. Kebenaran untuk memberikan sinar di saat seseorang sedang terjerumus dalam gelap. Ki Bendesa Manik Mas menghaturkan hormat kepada Sanghyang Durga Birawi, permohonan maaf atas segala yang terjadi. Seraya meminta restu untuk dapat menghalau wabah penyakit yang mengganggu masyarakat Desa Gading Wani. Yadnya persembahan yang dihaturkan tidak sempurna, sehingga para bhuta merusak yadnya. Maka bhuta – bhuti harus di somya kembali menjadi dewa agar yadnya bisa berjalan dengan baik. Hanya dengan taksu hal ini bisa terjadi, karena taksu ngaran seni, seni ngaran ayu*. Segala jenis kebahagiaan semoga datang dari segala penjuru…



Babad sumber dari ki bendesa manik mas, tanpa mengurangi arti makna sumber cerita, membuat suatu kawi cerita namun tidak terlepas dari akar babad itu sendiri 

Tengs to: komang gazes 
Pagelaran Drama Tari ring Pura Dalem Penataran Manik Tirta, Ungasan 
*energi akan memberikan keindahan yang pada akhirnya akan melahirkan kebahagiaan.

Ni Puyung Sugih, Ajian Pudak Setegal

Buah Pikiran
Ida Ratu Ayu Manik Sari
Diceritakan seorang janda bernama Ni Simbar Mas memiliki seorang putri, Ni Luh Puyung Sugih. Ni Simbar Mas tinggal di Alas Durga Laya. Ia begitu teguh dalam melaksanakan bakti, tapa, brata, yoga samadi, selalu memuja Ida Sanghyang Widhi. Ia juga sangat ditakuti oleh masyarakat sekitar karena memiliki ilmu pengeleakan/ ilmu hitam atau yg sering disebut pengiwa. Banyak orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk berguru pada Ni Simbar Mas. Namun demikian setiap Ni Simbar Mas memikirkan kehidupan anaknya, rasa sedih akan menyelimuti hatinya.

Walau demikian, sebagai orang tua, ia tetap menyayangi anaknya. Ni Simbar Mas tak pernah henti menasehati agar tidak selalu mempergunakan Pudak Setegal untuk mencari pasangan karena semu adanya. Nama baik keluarga harus dijunjung tinggi agar tidak dicap sampah dalam masyarakat. Bakti adalah rasa menyayangi antara orang tua dengan anak pun sebaliknya. Rwa Bhineda akan selalu hidup berdampingan.



Ni Simbar Mas & Ni Luh Puyung Sugih
Ni Luh Puyung Sugih, anak semata wayang Ni Simbar Mas. Ia nampak memiliki paras yang cantik. Tidak ada wanita yang mampu menyamai kecantikannya. Ini dikarenakan ia mempergunakan ilmu Pudak setegal dalam mencari pasangan. Ni Luh Puyung Sugih sudah beberapa kali menikah dan tak satupun umur pernikahannya berlangsung lama. Hal inilah pulalah yang menjadi pemicu kegagalannya dalam berumah tangga.

I Gede Waras, duda dari Bang Waringin. Dulunya ia adalah suami dari Ni Luh Puyung Sugih. Entah kenapa I Gede Waras tiba-tiba teringat akan bekas istrinya. Sudah beberapa kali telah diberitahukan kepada Ni Luh Puyung Sugih agar kembali menjadi menjalin tali rumah tangga yang pernah terputus dulu, namun selalu ditolak. I Gede Waras marah, harga diri terasa diinjak-injak. Ia pun berjanji bahwa Ni Luh Puyung Sugih akan dibuat kembali kehadapannya, tergila-gila kepada I Gede Waras. Segera I Gede Waras mencari balian, orang sakti yang mampu menciptakan guna-guna / pengasih-asih agar Ni Luh Puyung Sugih bisa kembali menjadi istri I Gede Waras.

Diceritakan, berkunjunglah I Gede Waras ke Alas Durga Laya menemui bekas istrinya. Ni Luh Puyung Sugih menolak kehadiran I Gede Waras karena mengaku sudah tidak memiliki perasan apa-apa lagi setelah perceraian itu. I Gede Waras merayu bahwa kedatangannya bukan untuk mengajaknya kembali bersuami istri tapi ia datang untuk berpamitan karena akan pergi jauh dan kebetulan dalam perjalanannya melewati alas Durga Laya, ia berpikir, kenapa tidak singgah untuk berkunjung, bertegur sapa untuk lebih mempererat rasa persaudaraan walau mereka sudah tidak menjadi suami istri lagi.

Ni Luh Puyung Sugih tidak mengetahui niat jahat yang terselubung, lantas menerima kehadiran I Gede Waras. Sikap ramah penuh kepalsuan, I Gede Waras memberikan makanan sebagai tanda rasa hormat kepada Ni Luh Puyung Sugih. Ia yang tidak menyadari bahwa makanan itu telah diisi guna-guna/ pengasih-asih menikmati makanan yang telah disajikan.

Tak berselang lama, Ni Luh Puyung Sugih merasa pening teramat sangat. Setelah sadar ia merasa tidak ingin jauh dari I Gede Waras. Di setiap arah matanya, ia hanya melihat I Gede Waras. Ia menjadi tergila-gila akan I Gede Waras seraya menyerahkan diri mengikuti kemanapun I Gede Waras pergi. sadar akan rencananya berhasil, I Gede Waras segera melarikan Ni Luh Puyung Sugih.

Kemarahan Ni Simbar Mas
Ni Simbar Mas mendapat laporan tentang apa yang telah terjadi. Raut muka merah, ia marah luar biasa, tidak terima akan perlakuan terhadap Ni Luh Puyung Sugih. Melalui kemampuannya, ia mengetahui bahwa I Gede Waras dengan bantuan seorang balian telah mengguna-gunai / pengasih-asih Ni Luh Puyung Sugih. Segera Ni Simbar Mas mengumpulkan para sisya / murid, memerintahkan agar mencari keberadaan I Gede Waras dan membawa kembali Ni Luh Puyung Sugih. Bersama –sama mereka memohon anugrah Bhatari Durga untuk dapat mengalahkan I Gede Waras. Akibatnya banyak warga Bang Waringin yag menjadi korban kemarahan Ni Simbar Mas.

Para Lakon Dalam Cerita
I Gede Waras mengetahui kejadian ini namun tidak mau bertanggung jawab. Ia memerintahkan anak buahnya untuk melapor ke Puri Bang Waringin bahwa terjadinya wabah penyakit yang melanda adalah ulah dari Ni Simbar Mas. Niat liciknya adalah mengadu domba antara Puri Bang Waringin dengan Ni Simbar Mas. Patih Karang Pandung sebagai maha patih yang bertanggung jawab akan keselamatan rakyat sudah mendengar kejadian yang melanda masyarakat. Ia mendapat laporan bahwa Ni Simbar Mas-lah yang menyebabkan wabah ini. Patih Karang Pandung murka, segera menuju ke Alas Durga Laya.

Ni Simbar Mas menyambut kedatangan Patih Karang Pandung dengan sangat ramah. Mereka saling memperkenalkan diri, bercakap-cakap dengan ramah pula. Sama-sama saling menghormati satu sama lain. Patih Karang Pandung mengutarakan maksud kedatangannya ke Alas Durga Laya bahwa rakyatnya di Bang Waringin telah dilanda wabah penyakit akibat dari ulah Ni Simbar Mas. Simbar Mas mengutarakan bahwa ia terlalu sakit hati akibat ulah I Gede Waras terhadap anaknya, Ni Luh Puyung Sugih. Selang beberapa waktu terjadi perdebatan diantara mereka. Sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing, mereka memutuskan untuk saling menunjukkan kesaktian masing-masing. Adu kesaktian antara Ni Simbar Mas dengan Patih Karang Pandung tak terhindarkan.

*sasolahan drama tari ring Pura Desa, Desa Adat Kutuh

Dukuh Suladri

Buah Pikiran Dikisahkan seorang ahli ilmu pengeleakan/ilmu hitam yang bernama Dayu Datu
Perilaku jahat Dayu Datu membuat masyarakat mengusirnya hingga mengungsilah ia ke Gunung Mumbul

Di Gunung Mumbul, Dayu Datu hidup bersama abdi setianya, Ni Klinyar dan sisya-sisyanya yang lain. Dayu Datu yang sudah diusir tidak pernah merasa jera justru api dendamnya selalu berkobar untuk terus membalaskan sakit hati atas pengusiran itu. Karenanya Dayu Datu dan muridnya tak henti-henti mengganggu penduduk desa dengan pengeleakan /ilmu hitam.

Wayan Buyar, seorang pria yang merasa diri paling hebat dan kaya. Ia selalu membuat warga di sekitar resah. Kesehariannya dipergunakan untuk berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Tak ada yang tidak mungkin untuk Wayan Buyar.
Suatu hari Wayan Buyar mendengar kabar bahwa di Pedukuhan Suladri, Gunung Kawi ada seorang wanita cantik bernama Ni Kusuma Sari. Timbullah niat Wayan Buyar untuk menjadikan Ni Kusuma Sari sebagai istri. Bersama para abdinya, berangkatlah Wayan Buyar menuju ke Gunung Kawi.



Kehidupan di gunung tentu saja damai, nyaman dan tenteram. Begitulah yang selalu dirasakan dalam keseharian Ni Kusuma Sari dan ayahnya, Dukuh Suladri. Selain sebagai anak, Ni Kusuma Sari juga menjadi murid kesayangan Dukuh Suladri. Setiap pengetahuan yang diberikan, selalu dapat dipahami oleh Ni Kusuma Sari. Lengkaplah apa yang dimiliki oleh Ni Kusuma Sari. Selain cantik, ia juga paham sastra agama dan ini terimplementasikan pada kesehariannya.

Dukuh Suladri, dengan kemampuan yang dimiliki telah mampu membuat suasana Gunung Kawi menjadi nyaman dan tentram. Pun dengan binatang-buinatang buas yang ada di hutan, telah dibuat menjadi jinak dan ikut menjaga keamanan pedukuhan.


Terasa seperti tidak ada tempat untuk bersandar apalagi menumpahkan kasih sayang karena hidup hanya seorang diri. Semenjak kecil I Mudita tanpa orangtua. Inilah yang membuat hidupnya gelisah tanpa arah. Namun demikian ia masih memiliki semangat, wasiat pesan orang tua. I Mudita diminta agar menemui pamannya, Dukuh Suladri, di Gunung Kawi. Berbekal cincin “Jaga Satru” sebagai pengingat bahwa I Mudita adalah keponakan Dukuh Suladri. Langkah tegak kaki I Mudita meninggalkan Desa Memeling menuju Pedukuhan Seladri di Gunung Kawi.
Sejatinya I Mudita adalah putra Dukuh Suladri dan Ni Kusuma Sari adalah keponakan sang dukuh. Tidak diceritakan kenapa terjadi pertukaran putra ini.

Kedatangan I Mudita di Pedukuhan Gunung Kawi disambut dengan kebahagiaan. Laksana Bhatara Ratih dan Kamajaya sedang berlila cita di pedukuhan, I Mudita dan Ni Kusuma Sari saling jatuh cinta. Apalagi hal ini mendapat restu dari Dukuh Suladri.

Ketika sedang asiknya I Mudita dan Ni Kusuma Sari bermesraan, tiba-tiba datanglah Wayan Buyar dengan maksud untuk merebut Ni Kusuma Sari. Berbagai rayuan diberikan oleh Wayan Buyar namun Ni Kusuma Sari tetap kukuh akan cintanya pada I Mudita.
Wayan Buyar kehabisan akal, ia marah, terbakar oleh api cemburu lalu menyerang dan mengikat I Mudita di sebatang pohon. Bangga akan keberhaslannya, Wayan Buyar segera melarikan Ni Kusuma Sari.


Mendengar jeritan Ni Kusuma Sari, Dukuh Suladri mengerahkan semua binatang di hutan Gunung Kawi untuk melakukan pengejaran. Dalam pelariannya, Wayan Buyar dihadang oleh sekumpulan binatang buas yang bertujuan untuk membebaskan Ni Kusuma Sari. Wayan Buyar tak mampu berbuat apa-apa kecuali melepaskan Ni Kusuma Sari dan berlari menyelamatkan diri. Berhasil menyelamatkan tuannya, sekumpulan binatang mengantarkan Ni Kusuma Sari kembali ke pedukuhan.

Kesal, kecewa, marah, dendam, bercampur menyelimuti pikiran Wayan Buyar yang telah gagal melarikan Ni Kusuma Sari. Ia yang selama ini selalu terkabulkan keinginannya, kali ini harus meminum getah pahit, kegagalan. Demi harga diri, ia bertekad membalas dendam atas
perlakuan yang telah diterimanya.

Terketuklah hatinya untuk meminta bantuan pada Dayu Datu. Ketika tekad bulat itu menjadi keputusan, berangkatlah Wayan Buyar ke Gunung Mumbul. Berbekal kebencian, kemarahan dan nafsu balas dendam, disepakatilah bahwa Dayu Datu akan membantu Wayan Buyar untuk membuat wabah penyakit

Dayu Datu, Ni Klinyar dan para sisya menuju Setra Gandamayu. Mereka berdoa, memohon restu Sanghyang Durga Berawi agar dapat menyebar wabah penyakit di masyarakat.

Wabah penyakit aneh menyerang masyarakat. Banyak warga sakit secara tiba-tiba kemudian meninggal. Kondisi masyarakat seperti ini membuat Dukuh Suladri bersedih. Berkat kamampuan dan pengetahuannya, Dukuh Suladri mampu mengetahui bahwa wabah penyakit aneh ini adalah ulah dari Dayu Datu atas permintaan Wayan Buyar.

Segeralah Dukuh Suladri menuju Gunung Mumbul. Maka terjadilah adu kesaktian antara Dukuh Suladri melawan Dayu Datu.

*sasolahan drama tari klasik "dukuh suladri"
ring Pura Penataran Pesimpangan dalem Ped ring Lembongan