Tampilkan postingan dengan label Jadwal Acara Tipi. Tampilkan semua postingan

I Binor

Buah Pikiran
Dyah Manik Bengkel
Di Hutan Bengkel..

Keindahan Hutan Bengkel, begitu memesona. Keasrian hutan membuat para binatang hidup dengan tenang. Dyah Manik Bengkel berhasil membuat setiap yang memasuki hutan, berdetak akan keindahan hutan. 

Ni Sujang
Ni Semalang
Pagi ini, Dyah Manik Bengkel duduk termenung dalam kesendiriannya. Halauan kepak burung kenari tidak juga mengedipkan
kelopak Sang Nata.






Perjalanan dingin menjauh akibat halauan matahari di dalam sinar kulitnya yang semakin keriput hanya mampu menggoyahkan tangan yang lain untuk mengusap. Kewibaan masih terasa di rona sendu, sesekali seperti mengangguk, berbicara dengan seseorang. Begitu dihormati oleh para penghuni hutan, bahkan para penghuni tak kasat mata memilih segan. Parau suara tiba-tiba terdengar, “Ni Sujang, tolong panggilkan adikmu…”

Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tatapan mata sendu masih tak bergeming, namun anggukan sudah tenang seperti teman yang tidak tidak ada lagi. 

“sembah sujud ku buat Ibu,,,” Ni Semalang menatap sekelompok debu di atas tanah yang masih tertidur dengan tenang. Sudah lama mereka menjaga hutan bengkel. Keindahan hutan, sejuk hinggap di kulit menandakan indah yang sesungguhnya. Jagalah hutan dengan baik, bukan saat berhasil membuat indah menjadi tujuannya. Bekerja dengan baik, memberikan hasilnya kepada alam, itu adalah kerja yang sesungguhnya, kebahagiaan yang diinginkan. Nampak senyum sang nata membalikkan tubuh tuanya,, “kita berjalan..”


Di Peguyangan

Jro Bendesa Gading Wani

Kehidupan masyarakat peguyangan begitu tenteram. Jro Bendesa Gading Wani mengatur kehidupan masyarakatnya dengan beijaksana. Ajaran agama dengan perpaduan budaya dan sastra beliau pelajari layaknya sarapan yang harus diselesaikan. Ada saling hormat-menghormati. Menjadi contoh di masyarakat, berdiri di tepi terdepan adalah sesuatu yang sulit untuk dipertahankan. Laksanakan dengan rasa syukur bakti pada sang alam, mampu berjalan dengan baik kerta raharja. 









Keinginan Jro Bendesa untuk sedikit melebarkan wilayah Peguyangan sempat dilontarkan pada kedua abdi. Jro Bendesa ingin Peguyangan “jimbar”, luar dan tenteram berdampingan satu dengan lain. “..kita menuju ke tepi sisi selatan..”







Kenapa Merusak..?

Ida Sasuhunan
Tepi selatan hutan telah diratakan, proses men-jimbar-kan peguyangan telah dimulai. Keinginan agar masyarakat bisa hidup layak, leluasa dan sejahtera, tidak yang lain.  Dua wanita cantik bersedih melihat alam sedang diperlakukan dengan tidak layak. Keindahan alam tidak seharusnya menjadi korban akibat dari kesejahteraan manusia. Manusia harus bisa menghormati alam, seperti terlantunkan nilai penyebab kebahagiaan. Kekecewaannya mulai dirasakan, dia yang telah menjaga hutan dengan segenap hatinya, merasa terhinakan dengan yang ia lihat kali ini.  


Ni Sumalang mempertanyakan tujuan Jro Bendesa Gading Wani merusak hutan. Namun, justru ada keributan dalam adu pendapat mereka. Ni Sumalang, “bolehkan aku marah kali ini…?”

Dyah Manik Bengkel tersenyum mendengar cerita Ni Sujang. Angin bertiup, sepertinya ada begitu banyak yang datang. Senyum dari wajah tua itu masih Nampak, namun kali ini, seperti mengerikan. “Jika ini yang diinginkan Bendesa Gading Wani, biarkan dia bekerja sesuai dengan keinginannya“


Ngeruak..?

I Binor
Lihat, I Binor.. lihat, I Binor..   Warna merah cantik bertengger di daun telinga, kembang sepatu warna merah, menandakan keberanian. Saling tersenyum dengan empat saudara. Lahir di dunia, semestinya tahu, dari mana, kenapa dan kemana. Tetap kukuh dalam kebenaran dengan berpikir, berkata dan berbuat yang baik. 

Entah kenapa, I Binor merasa sendu. Teringat akan pesan yang disampaikan bendesa gading wani di Peguyangan memohonkan bantuan I Binor. Entah wabah apa yang menimpa masyarakat Peguyangan, banyak yang meninggal tanpa sakit. I Binor paham bahwa hutan itu adalah “pingit”. Apalagi hutan Beng sangat disayang oleh Diah Manik Bengkel. Kesedihan biarkan berlalu, apa yang telah terjadi dicarikan penyelesaian. Ada sikap-sikap seorang kesatria, berani menghadapi musuh, berdiri di depan dan rela berkorban. Persahabatan sejati, adalah ada saat sahabat membutuhkan pertolongan. I Binor melangkahkan kaki menuju hutan Beng.


Ida Sasuhunan
Hutan Beng, hutan yang indah. Para penghuni hutan bernyanyi bersama untai dedaunan pohon hutan. Namun ada rasa yang berbeda. I Binor menatap dalam setiap daun yang jatuh. Mencari dimana Dyah Manik Bengkel, untuk dikembalikan menjadi sebagaimana yang seharusnya. Anugrah yang didapat harus digunakan dengan baik pula. 






Kekuatan yang besar bukan sebuah kesewenang-wenangan namun ada  sebuah tanggung jawab yang berat. Energi buruk yang ditebar membuat ia salah dalam bertindak. Sangat patut  ia diingatkan untuk menjadi baik. 

Tari Rejang dalam prosesi "Ngeruak"
Hutan yang tercemar dikembalikan seperti sedia kala. Untuk menghormati “anugrah” alam semesta, dibangunlah “parhyangan” yang dinamakan Pura Dalem Bengkel. 



tengs – keluarga besar pura kahyangan desa pohgading, ubung kaja

Bahula Duta

Buah Pikiran
Ni Walunatneg Dirah
Ni Walunateng Dirah atau Ni Walunateng disebut juga Ni Calonarang, seorang janda dengan kamampuan ilmu pengelakan, sudah terkenal di daerah Dirah. Jangankan manusia, para butha, wong samar, gamang, memedi dan sejenisnya tiada berani menandingi kemampuan pengeleakannya. Hal ini tiada lain karena telah menjadi kesayangan dan mendapat anugrah Dewi Durga. 





Tiada rasa yang lebih dari hari ini. Serasa bunga bermekaran di taman, kembang merekah ikut merasakan gembira hati Ni Walunateng. Daerah Dirah adalah daerah yang tenteram, yadnya, persembahan tulus dihaturkan setiap hari. Alampun memberikan hasil yang bergelimpahan. Pun dengan alam, hati Ni Walu juga seirama. Sang buah hati, kebahagiaan seorang ibu, telah dipinang ke Lembah Tulis. Mpu Bahula telah menjadi menantu Ni Walunateng. Ciri sekarang si buah hati sudah mampu mandiri. Mungkin inilah saat yang telah ditunggu sejak lama. "tolong panggilkan anakku, bibi" demikian Ni Walunateng meminta kepada sisyanya.

Jangan Beritahu Siapapun... 

"Oh, ibu, terimalah sembah sujud hamba. Engkau yang sangat hamba hormati" sembah bakti Ni Diah Ratna Mangali memberikan hormat kepada Ni Walunateng. 

"Anakku, Diah Ratna Mengali, bunga hidup ibu, sembah sujudmu, ibu terima, berbahagialah engkau kebahagiaan ibu". 

Diah Ratna Mangali
Tiada bahagia rasa seorang Ni Walunateng selain melihat senyum ceria sang pelita hati. Ini adalah anugrah terindah dari sang pemilik semesta. Ni Walunateng menceritakan tentang kebahagiaan yang ia rasakan kepada anaknya. Ia bercerita juga tentang bagaimana menjadi istri yang baik, agar rumah tangga menjadi rukun. Purana-Purana, Dharma Sastra, Ithiasa, kisah-kisah dalam Ramayana dan Mahabharata jadikan pedoman, bagaimana bertingkah menjadi putra yang suputra. 

Segala yang ada di dalam hati telah tersampaikan. Namun ada satu.. Satu lagi yang harus diberitahu. Hal ini tentang kehidupan dan kematian. 

Ni Walunateng akan ke Kahyangan Dalem untuk melaksanakan Dhurga Sraya, menghaturkan puja yadnya kepada Dewi Durga. Untuk itu, dititipkanlah dua pusaka, dan jangan beritau siapapun.. 

Duta, Adalah Utusan... 

Lahir hidup mati, Uppeti, Stiti, Pralina... Ilmu pengelakan adalah Rwa Bhineda, dua hal yang harus ada. Di hari kajeng kliwon, seseorang membawa daksina, 17 ribu uang kepeng, canang 11 , tipat duang kelan dan arak berem. Saat tengah malam, berjalanlah ia ke kuburan, tepat di tempat pembakaran mayat, meminta anugerah kepada sang penguasa kuburan. 

Ida Sasuhunan
Sejatinya ilmu pengeleakan adalah ilmu kebebasan karena ilmu inilah yang akan menghantarkan kita menuju Brahma Loka, namun jangan sombong. Leak yang tidak dibenarkan adalah leak yang menyakiti orang tanpa dosa, leak yg penuh dengan kesombongan. Ilmu pengeleakan akan mampu menyakiti asal manusia salah. Itu untuk memberitahu bahwa ia telah salah. Kesombongan seseorang akan ilmu pengelakannya akan menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan yang sangat. 

Demikian sambil menunggu kedatangan sang putra, Mpu Baradah bercerita pada dua orang abdinya. 

Diah Ratna Mangali dan Mpu Bahula
Setelah memberi restu kepada Mpu Bahula, Mpu Baradah mengingatkan akan tugas, Mpu Bahula adalah seorang duta. Tujuannya adalah mendapatkan pusaka Ni Calonarang, Nircaya Lingga dan Niscaya Lingga. Dalam melaksanakan tugasnya, Mpu Bahula telah menikah dengan putri Ni Calonarang, Diah Ratna Mangali. Tentu hal ini akan memuluskan tugas untuk mendapatkan pusaka. Namun apa daya, hingga sekarang belum juga diketahui dimana pusaka itu tersimpan. 

"bertemunya sasih desta dengan sasih sada, adalah waktu yang sangat tepat…" demikian Mpu Baradah berpetunjuk. 

Ini Adalah Penistaan, Buatlah Penyakit.. 

Dalam penantiannya, Mpu Bahula berbincang dengan Ratna Mangali tentang kehidupan dan kematian serta tujuan dari hidup dan mati. Ratna Mangali tanpa tersadar, telah memberitau tentang pusaka ibunya yang harus dirahasiakan. Segera saja Mpu Bahula ingin melihat seperti apa pusaka kehidupan dan kematian. Beralaskan cinta dan bakti pada suami, Diah Ratna Mangali memperlihatkan pusaka Nircaya Lingga dan Niscala Lingga. Namun, mpu bahula adalah seorang duta, mengemban tugas untuk mendapatkan pusaka Ni Calonarang, Nircaya Lingga pun berpindah tangan. 

Sisya Ngereh, Buatlah Gerubug

Sekembalinya Ni Walunateng dari tapa yoga, hal yang tidak biasa ia rasakan. Didapatkan Ratna Mangali menangis, dan Nircaya Lingga telah hilang. Kemarahan mulai merasuki setiap nadi Ni Walunateng, menantunya ternyata pendusta. Seraya menatap langit, ia tahu ini adalah penistaan, ia memanggil semua sisya dan buatlah penyakit di Lembah Tulis. 

Ngeseng Waringin

Seketika wabah melanda di Lembah Tulis, masyarakat terjangkit penyakit aneh. Secara tiba-tiba sakit kemudian meninggal. Mengetahui akan hal ini, segera Mpu Baradah menuju ke Dirah. 

Burung gagak bersoak-soak, organ-organ manusia bergelantungan di sebuah carang kayu tua. Melewati kuburan, bau amis menusuk penciuman, perjalanan masih harus diteruskan. Mpu Barah menapakkan kaki di Dirah ditemani dua orang abdi. Gelap gulita, ketakutan merasuk ke suasana saat itu. Tiba-tiba nampak seorang wanita tua samar wajah, Ni Walunateng mengetahui kedatangan Mpu Baradah. 
Ni Walunateng Dirah Dan Mpu Baradah

Saling memberi hormat antara Mpu Baradah dengan Ni Walunateng, setelah sekian lama, betapa bahagia mereka bisa saling bertemu di waktu kali ini. Namun kenapa kita bertemu di malam kala ini..? 

Mpu Baradah mempertanyakan keberadaan Ni Walunateng berada di kuburan di malam seperti ini. Dalam tatanan Surya Chandra, surya (matahari) diibaratkan laki-laki dan candra (bulan) adalah perempuan. Ni Walunateng berada di kuburan hanya untuk menikmati keindahan malam saat ini, betapa alam menciptakan sesuatu yang mempesona. Bagai bulan, ini adalah waktu yang tepat untuk muncul menampakkan diri. Sangat disayangkan kalau kita tidak merasakannya. 

Dibalikkan pertanyaan, bukankah ketiadaan surya menandakan malam..? 

Bercahayanya candra bukan karena mampu mengeluarkan cahaya, namun candra hanya memantulkan cahaya surya dan ini menandakan surya selalu hadir. Sepertinya kebanggaan yang berlebihan akan membuat surya terlalu membanggakan diri, apakah salah jika cahaya candra menandakan malam memberikan rasa yang berbeda buat bumi..? 

Sangat tidak salah, namun terang hanya temaram, jangan panas. Jika panas akan membuat masyarakat menderita dan itulah yang tidak diperbolehkan. 

Ida Sasuhunan

Keberadaan rwa bhineda di dunia ini haruslah berjalan beriringan. Ni Walunateng dalam menjalankan ilmu pengeleakannya memiliki swadarma untuk mem-prelina segala yang salah. Namun yang dilakukan adalah mem-prelina semuanya. Bukan hanya yang salah, yang tanpa salahpun terkena penyakit, itulah yang salah. 

Perdebatan tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan, begitu dalam pikiran keduanya. Hingga adu kemampuan antara Mpu Baradah dengan Ni Walunateng terjadi. Sebagai sasaran adalah pohon beringin. Ni Walunateng menghanguskan pohon beringin dan Mpu Baradah menghidupkan seperti sedia kala. Sekarang, mpu baradah yang menghanguskan pohon beringin, namun apa daya ketika Ni Walunateng mencoba untuk menghidupkan pohon beringin, nircaya lingga telah dicuri, ia tak sanggup untuk menghidupkan kembali pohon beringin. 

Merasa tak sanggup, Ni Walunateng menantang Mpu Baradah untuk adu kesaktian secara sesungguhnya. Sebagai mpu yang menjalankan darma kesucian, bukan saatnya lagi untuk melakukan "siat peteng", maka diutuslah Patih Taskara Maguna untuk menghadapai Ni Walunateng Dirah. 

*Tengs to - Keluarga Besar Pura Dalem Taman Pohmanis, Desa Penatih Dangin Puri

Katundung Larung

Buah Pikiran






Ni Walunateng Dirah nampak begitu gembira, bercengkrama bersama dua abdi setianya. Ia bercerita tentang bagaimana manusia bersikap dalam kehidupan ini. Bahwa, di dunia ini ada dunia dengan dimensi lain. Bhur, Bwah, Swah, itulah 3 dunia yang disebut dengan Tri Loka Bhuana. Bhur Loka adalah alam semesta yang manusia tempati ini, Bwah Loka adalah alam para dewa dan Swah Loka adalah alam Ida Sanghyang Widhi Wasa. Selain itu, di dalam miniaturnya, Tri Loka Bhuana juga ada dalam diri manusia. Kaki dipersonifikasikan sebagi Bhur, badan tangan kita adalah Bwah dan kepala kita ibarat Swah. 

Ratna Mangali, Kebahagiaan Seorang Ibu

Demikian Ni Walunateng Dirah bercerita. Sesaat ia tersenyum, memikirkan putri kesayangan, Ratna Mangali. Sebuah keinginan yang sederhana agar sang putri menjadi wanita terbaik, memberikan harum bagi keluarga dan orang-orang dikelilingnya. Ratna Mangali, perpaduan dua kata, Ratna dan Mangali. Ratna berasal dari kata “rat” yang berarti tanah /bumi / jagat /pertiwi dan “na” adalah kehidupan. Dalam kehidupan masyarakat di bali, bunga ratna sering disebut dengan bungan jagat / sekar jagat. Bunga yang memberikan kehidupan bagi segala hidup di bumi pertiwi.  Sedangkan Mangali berasal dari kata “ma” yang berarti manusia , “nga” artinya berarti dan “li” berarti liang / kebahagiaan / kegembiraan. Ratna Mangali adalah kembang hati / kebahagiaan Ni Walunateng. Rasa cinta seorang ibu kepada putrinya. 

Namun sesaat kemudian, raut wajahnya sendu, pikirannya berubah, ia teringat akan sang sekar jagat, kebahagiaan hatinya yang telah dilamar untuk menjadi pendamping hidup Prabu Erlangga di Kerajaan Kediri. Tapi hingga sekarang, belum kunjung datang, kapan pelaksanaan raja wiwaha / upacara pernikahan Ratna Mangali. Inilah yang membuat Ni Walu merasa bingung, ragu-ragu akan lamaran sang prabu. Untuk mendapatkan kepastian akan pernikahan sang putri, diutuslah Ni Larung ke Kerajaan Kediri.


Pengembalian ke Dirah


Di Kerajaan Kediri, nampak Patih Diaksa dan Patih Manguri sudah menunggu Kedatangan Prabu Erlangga. Segala yang diperlukan untuk pertemuan kali ini sudah dipersiapkan dengan baik. Selang beberapa saat, Patih Madri memberikan isyarat bahwa Prabu Erlangga akan memasuki sidang kerajaan. 



Semua yang hadir memberikan rasa hormat kepada sang junjungan. Sang prabu nampak begitu berwibawa, namun tersirat di wajahnya sebuah kegelisahan yang sangat. Sang prabu menanyakan tentang kesejahteraan rakyat, apakah ada hal yg harus dibenahi lagi untuk kemakmuran rakyat Kediri. Akhir sidang, sang prabu mengutarakan kegelisahan rakyatnya tentang Ratna Mangali. Rakyat menyangka bahwa kehadiran Ratna Mangali di Kerajaan Kediri akan memberikan dampat yang tidak baik bagi kelangsungan hidup di Kerajaan Kediri. Seorang yang lahir dari ibu dengan ilmu pengeleakan tentu akan mewariskannya ke anaknya sendiri. Hal ini tentu akan berakibat buruk. 

Namun, sang prabu telah memberikan janji kepada Ni Walunateng Dirah akan menjadikan Ratna Mangali, wanita terhormat di Kerajaan Kediri, haruslah dilaksanakan. Apa yang menjadi pembicaraan rakyat tentang dampak buruk tersebut adalah sesuatu yg belum tentu benar. Adalah sikap seorang ksatria untuk menepati sebuah janji. Demikian Patih Manguri berpendapat. 

Seketika Patih Diaksa membantah, bahwa Patih Manguri seperti bukan seorang ksatria, karena mudah gentar, tidak bakti kepada kerajaan dan rakyat. Sebagai seorang patih, harus berani membela tanah air dan rakyat. Setiap orang di Kerajaan Kediri tahu siapa Ni Walunateng Dirah dan sudah dapat dipastikan sifat-sifat orang tua akan menurun kepada anaknya. Jadi hal ini sudah begitu jelas dan tidak perlu lagi dibicarakan. 

Saling mendebat, saling beradu pendapat terjadi. Prabu Erlangga dengan berat memutuskan apa yang harus diupayakan dalam penyelesaian kegelisahan ini. Keheningan sejenak, sang prabu bangkit, mengutus Patih Madri untuk mengembalikan Ratna Mangali ke Dirah, ke ni Walunateng.


Kebenaran Itu Tidaklah Benar

 Ratna Mangali, duduk di taman istana yang megah. Menerawang pandangannya, memikirkan tentang bagaimana dirinya esok hari.. Lamunannya terhenti saat utusan sang raja datang memberi hormat. Patih Madri memberitahu tentang tugas yang ia pikul sebagai abdi di Kerajaan Kediri, mengajak Ratna Mangali kembali ke Dirah. Ratna Mangali mempertanyakan kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga harus dihukum seperti ini. Dengan penuh rasa hormat, Patih Madri menceritakan tentang sidang yang telah terjadi. Ratna Mangali mendengarkan dengan perasaan yang semakin memedih. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang sangat nista. Ibu yang ia cintai telah dinistakan, dirinya seperti tidak mempercayai apa yg telah ia dengar. Dalam ucapannya, dia tidak membenarkan tentang apa yang telah diperdebatkan dalam persidangan itu. Dan kebenaran itu tidak lah benar…



Sakit hati, Gerubug Kediri

Ni Larung dalam pencariannya mendapatkan hasil. Ia harus membalaskan sakit hati putri dari junjungannya. Yang pertama, ia harus membalas Patih Madri. Ni Larung yang menguasai ilmu Pudak Sategal berhasil memikat Patih Madri. Aroma kecantikannya telah memperdaya Patih Madri. Syarat jika Patih Madri ingin merasakan nikmat keharuman Ni Larung, maka ia harus menyediakan kepala Prabu Erlangga sebagai alas kaki Ni Larung. Sontak Patih Madri sadar akan tipu daya Ni Larung. Adu kesaktian antara Ni Larung dan Patih Madri terjadi. namun. terlalu kuat Ni Larung bagi Patih Madri, hingga Patih Madri harus mengakui kemampuan Ni Larung.





Di Dirah, Ni Walunateng Dirah mengerahkan para sisyanya untuk menghancurkan Kerajaan Kediri. Sakit hati nya sudah tidak sanggup ia tahankan lagi. Bunga kebahagiannya telah dinistakan tanpa kebenaran. Baginya, Kehancuran kerajaan Kediri adalah obat sakit hati yang sepadan. Bersama para sisya, Ni Walunateng Dirah menuju ke setra, memuja Ibu Dhurga, memohon anugrah agar dapat meleburkan kerajaan Kediri.






Segera saja, rakyat Kediri yang tenteram tiba-tiba terjadi kegaduhan. Banyak yang tiba-tiba sakit dan seketika meninggal. Tidak ada kejelasan akan penyakit yang melanda masyarakat kediri. Hingga pada akhirnya berita tentang wabah penyakit aneh ini sampai ke kerajaan. 

Untuk menanggulangi permasalahan ini, sang prabu mengutus Patih Maling Saji untuk menghilangkan wabah yang melanda kerajaan Kediri. Inilah harapan terakhir karena Patih Diaksa dan Patih Manguri sudah tidak mampu menandingi kemampuan sisya Ni Walunateng. Patih Maling Saji, patih andalan kerajaan Kediri sadar bahwa yang akan ia hadapi bukanlah sebuah wabah atau penyakit biasa namun sebuah wabah yang diakibatkan oleh kemarahan seorang ibu, wabah ilmu pengeleakan, akibat perlakuan yang tidak sepatutnya. Dalam angan-angan Patih Maling Saji akan kejadian yang lalu.


Patih Maling Saji bersama dua orang abdinya menuju ke Dirah. Ia percaya sikap ksatria adalah membela Negara, membela tanah air. Dan itu akan membawa sebuah kemenangan. Seraya memohon anugrah Ibu Durga agar bisa melenyapkan bawah dan mengalahkan Ni Walunateng Dirah.

Tengs to
Keluarga Besar Pesimpangan Dalem Penataran Ped Banjar Anyarsari Kangin, Desa Pakraman Nusasari, Kec. Melaya,  Negara




Ki Bajra Sakti Samprangan

Buah Pikiran
Ida Sasuhunan
Tersebutlah Ida Dayu Ngurah yang berasal dari daerah Sanur. Ia bersama para sisyanya telah lama ada di Desa Taro dengan tujuan untuk mencari keberadaan pusakanya yang telah lama hilang, Ki Bajra Sakti Samprangan.

Diceritakan setiap sandyakala, suara bajra selalu menggema di angkasa, menyelimuti Desa Taro. Ida Dayu Ngurah mendengarkan suara bajra ini bersama para sisyanya. Menerawang mencari dari arah manakah sumber suara bajra ini? Ida Dayu Ngurah menerka, suara ini datang dari arah selatan-barat.

Ida Dayu Ngurah beserta Para Sisya
Saking penasaran, Ida Dayu Ngurah mengutus sisyanya yang bernama Ni Luh Siki dan Ni Luh Soli untuk mencari-cari keberadaan pusaka tersebut. Namun dalam pencarian ini, Ni Luh Soli dan Ni Luh Siki disuruh untuk menyamar, menyembunyikan siapa jati diri mereka. Hal ini bertujuan agar dapat pula diketahui siapakah yang telah berani mengambil bajra pusaka ini.




Cokorda Gede Karang
 Di Puri Tapesan, Ida Cokorda Gede Karang memerintah dengan cinta kasih kepada rakyat, bakti akan sang pencipta dan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan alam sekitar. Beliau begitu bahagia, menyaksikan rakyatnya hidup tenteram berkelimpahan. Apalagi telah kembalinya sang pusaka, Ki Bajra Sakti Samprangan. Pusaka yang dulu hilang karena diambil oleh Brahmana Boda Pejeng Aji, kini telah berhasil diambil kembali oleh Ida Cokorda Gede Karang. Untuk memastikan kebahagiaan rakyatnya, Ida Cokorda sering turun ke bawah, memastikan semuanya sudah berjalan dengan baik. Salah satu yang menjadi kebiasaannya adalah dengan turun langsung ke pasar, menyaksikan perputaran perekonomian sekaligus menyerap secara langsung usul atau saran dari rakyatnya.


Sisya Ida Dayu Ngurah, Ni Luh Soli dan Ni Luh Siki yang dalam penyamaran, menyusup ke dalam pasar, untuk mencari tahu keberadaan dari bajra pusaka ini, secara tidak langsung bertemu dengan abdi dari Puri Tapesan. Dari sinilah diketahui bahwa suara bajra ini berasal dari dalam Puri Tapesan.

Mengetahui akan hal ini, Ida Dayu Ngurah menjadi murka dan mengutus para sisyanya untuk membuat wabah di tanah Puri Tapesan. Tak berselang lama, banyak rakyat Tapesan menjadi korban wabah penyakit yang disebar oleh Ida Dayu Ngurah beserta para sisyanya.

Sisya Ida Dayu Ngurah
Watangan


Berita akan wabah ini, akhirnya sampai ke Ida Cokorda Gede Karang. Tanpa menunggu lebih lama, mengingat semakin banyak rakyatnya yang telah meninggal, Ida Cokorda Gede Karang segera menugaskan Patih Megada untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Patih Megada
Patih Megada segera melakukan penyelidikan tentang permasalahan yang melanda rakyat Puri Tapesan. Hiingga diketahui, wabah gering yang melanda adalah perbuatan dari Ida Dayu Ngurah dan para sisyanya. Sebagai tabeng dada, patih Puri Tapesan, Patih Megada menemui Ida Dayu Ngurah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.

* tengs to -krama adat banjar pelasa kuta

Sendratari Ida Dalem Sidakarya

Buah Pikiran
Tersebutlah seorang Brahmana Wulaka keturunan Sakya dari Keling atau disebut dengan Brahmana Keling. Brahmana Keling ini merupakan putra dari Dang Hyang Kayu Manis yang merupakan nabe dari Ida Dalem Waturenggong yang menjadi raja di Tanah Bali yang berkedudukan di Gelgel, Klungkung.

Suatu waktu, sedang asik menikmati panorama Selat Bali, datanglah ayah beliau, Dang Hyang Kayu Manis, yang baru saja datang dari Gelgel Bali, dimana Kerajaan/Keraton Gelgel, Klungkung diperintah oleh Ida Dalem Waturenggong. Dang Hyang Kayu Manis memberitau Brahmana Keling, apabila berkeinginan ke Tanah Bali, jangan lupa untuk berkunjung ke Kerajaan Gelgel karena ia memiliki seorang saudara yang menjadi raja di Kerajaan Gelgel, yang bernama Ida Dalem Waturenggong. Mendengar hal itu, rasa bahagia menyelimuti perasaan Brahmana Keling, selain telah mendapat restu dari orang tua, juga akan bertemu dengan saudaranya. Brahmana Keling segera melanjutkan perjalanan menuju ke Bali.

Ida Dalem Sidakarya


Tak diceritakan perjalanan dari Jawa ke Bali, hingga sampailah beliau di Kerajaan Gelgel, Klungkung. Namun Kerajaan/Keraton Gelgel sangat sepi. Setelah bertanya, pahamlah Brahmana Keling bahwa Ida Dalem Waturenggong yang ditemani Dang Hyang Nirartha akan melaksanakan upacara Eka Dasa Ludra di Pura Besakih . Segera Brahmana Keling melanjutkan perjalanan menuju Pura Besakih untuk bertemu dengan saudaranya, Ida Dalem Waturenggong.


Ida Dalem Waturenggong berunding dg Dang Hyang Nirartha


Perjalanan yang jauh tentu saja membuat Brahmana Keling begitu kelelahan, sehingga beliau beristirahat sejenak di salah satu Parahiyangan yang ada di Pura Besakih. Jika dilihat dari penampilan Brahman Keling yang layaknya seroang peminta-minta, lusuh penuh dengan kotoran. Melihat hal ini, tentu saja Ida Dalem Waturenggong menjadi marah. Upacara suci Eka Dasa Ludra yang akan berlangsung akan menjadi tidak sempurna akibat ulah seorang peminta-minta dengan pakaian lusuh seperti ini. 

Penjelasan apapun yang diberikan oleh Brahmana Keling tentang keberadaan/siapa sejatinya dirinya, tetap saja tidak diterima oleh Ida Dalem Waturenggong. Ternyata, setelah bertemu dengan Ida Dalem Waturenggong, bukan penyambutan atau pelukan hangat dari saudra yang diterima, namun sebuah penolakan yang berujung pada pengusiran dirinya. 

Kepedihan yang sangat dirasakan oleh Brahmana Keling, niatnya yang tulus ternyata tidak tertambat. Sebelum meninggalkan pura besakih, Brahmana Keling sempat mengutuk agar upacara yang diselenggarakan oleh Ida Dalem Waturenggong tidak berhasil dan tertimpa bencana.

Brahmana Keling Setelah Diusir


Akibat kutukan Brahmana Keling, pelaksanaan upacara Eka Dasa Ludra menjadi terganggu. Berkenaan dengan hal ini, Dang Hyang Nirartha memberitahu Ida Dalem Waturenggong tentang adanya kejadian ini. Beliau berusaha untuk menetralisir keadaan dengan cara menghaturkan upakara memohon keselamatan, tapi permohonan ini tidak berhasil. 


Upacara Yadnya diganggu oleh Para Butha


Dengan kegagalan ini , Dang Hyang Nirartha kembali mengadakan pertemuan dan kemudian teringat dengan perlakuan yang diterima oleh seorang brahmana yang mengaku saudara Ida Dalem Waturenggong, beberapa waktu kemarin. Dang Hyang Nirartha mengingatkan Ida Dalem Waturenggong untuk mencari Brahmana Keling tersebut. Segeralah Ida Dalem Waturenggong mengutus patihnya untuk mencari keberadaan Brahmana Keling tersebut. 

Sang Brahmana Keling akhirnya dapat dijumpai di Bandana Negara, sebuah desa yang pada era sekarang disebut Desa Sidakarya, dimana Pura Mutering Jagat Sidakarya berada. 

Setibanya Brahmana Keling di Pura Besakih, Ida Dalem Waturenggong meminta maaf dan memohon belas kasihan agar karya Eka Dasa Ludra yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik serta mendoakan agar pulau bali tidak lagi terjadi hama dan wabahpenyakit, hama dan bencana. Begitu pula dengan berbagai karya atau upacara agama yang berlangsung di Bali dapat berlangsung dengan baik pula. Permohonan Ida Dalem Waturenggong ini disertai dengan janji secara sungguh-sungguh menerima Brahmana Keling sebagai saudara.

Brahmana Keling begitu bahagia melihat ketulusan hati saudaranya, Ida Dalem Waturenggong. Beliau tidak bersedih atau marah akan perlakuan yang ia dapatkan, namun hanya memberikan pelajaran kepada Ida Dalem Waturenggong bahwa sebagai sang nata raja, Ida Dalem Waturenggong harus seperti Sang Hyang Surya, tidak pillih kasih dalam memberikan sinar. Sang raja harus berbelas kasih kepada semua rakyatnya, tidak boleh melihat rakyat dari pakaian apa yg dimiliki atau seberapa besar kekayaannya, namun rasa pandang dan rasa keadilan yang sama bagi setiap rakyat. Brahmana Keling lantas minta kesaksian yang membenarkan segala yang diucapkan misalnya ayam hitam dikatakan putih maka ayam hitam akan benar-benar menjadi ayam putih, pohon kelapa yang tadinya tidak berbuah dikatakan berbuah maka benar-benar berbuah. Hama dan wabah pun seketika lenyap sehingga upacara atau karya yang dilaksanakan itu dapat dilanjutkan dan berjalan dengan sidakarya atau sukses.

Brahmana Keling bersama Sang Ayahnda


Setelah semua keadaan dapat dikembalikan sesuai dengan yang diharapkan, Ida Dalem Waturenggong mengakui Brahmana Keling sebagai saudaranya dan diberi gelar Brahmana Sidakarya atau Ida Dalem Sidakarya pada tahun 1615 Caka. Sejak saat itu Ida Dalem Waturenggong memerintahkan seluruh rakyat Bali, untuk suksesnya karya atau upacara yang akan dilaksanakan, agar memohon keselamatan karya di Pura Dalem Sidakarya tempat Brahmana Sidakarya. Disamping itu, pada setiap upacara keagamaan agar diadakan pertunjukan Topeng Sidakarya –menghaturkan Wali Sidakarya- sebagai pelengkap upcara penting umat Hindu.

*Sendratari ”Dalem Sidakarya”  -Sekaa Taruna-Taruni Bhuana Kusuma, Banjar Peken, Bualu, Nusa Dua

Bebondresan, Pertunjukan Bebanyolan Tradisional Bali

Buah Pikiran Bondres merupakan salah satu kesenian tradisional Bali. Pada mulanya, bondres merupakan selingan dalam kesenian topeng di Bali. Namun, belakangan bondres muncul sebagai pertunjukan tersendiri, terpisah dari kesenian topeng. Dari sinilah kemudian muncul seni lawak khas Bali atau yang lebih dikenal dengan bebondresan.

Diperkirakan pada tahun 1080-an, Bondres mengalami perkembangan menjadi pertunjukan tersendiri yang lebih mengutamakan lawakan atau banyolan khas bondres dari pada alur cerita itu sendiri. Pada era tersebut, bondres kebanyakan dipakai sebagai media penyuluhan yg lebih bersifat edukatif dan lain-lain. Hal ini diyakini karena dengan penyampaian melalui media lawak atau banyolan ini, pesan-pesan yang ingin disampaikan akan lebih dapat diterima oleh masyarakat.

Dalam bebondresan, penonton akan disuguhi sebuah alur cerita tetapi alur ini hanya sebagai pegangan saja karena yang lebih ditonjolkan adalah lawakan atau banyolan para seniman bebondresan yang terselip pesan-pesan yang ingin disampaikan. Ditambah penggunaan bahasa yang lebih familiar (memasyarakat) sehingga masyarakat lebih mudah untuk memahami sehingga inilah yang membuat bebondresan lebih mendapatkan tempat di hati masyarakat dan pesannya pun tersampaikan.

Hal inilah yang membuat Bali TV sebagai media pencerah masyarakat Bali mengadakan pertunjukan tradisional Bali dengan sentuhan era kekinian, Lawak Bondres Inovatif bersama para seniman bondres Clekontong Mas Balinese Art Production Batubulan.

Lawak Bondres Inovatif yang mengambil lokasi di Panggung Terbuka Arda Candra, Taman Budaya Bali ini dimeriahkan oleh para seniman bondres yang digemari masyarakat diantaranya : Sengap, Tompel, Sokir, Luh Kembung, Cablek, Juan, Saplir. Bebondresan yang mengambil tema “SUGIH NAGIH” ini juga menampilkan seniman drama gong di era tahun 1990-an, Petruk yang berduet dengan Gus Topok.

Pertunjukan yang berlangsung dari jam 8 malam pada tanggal 31 agustus 2013 sudah dipadati oleh para penonton. Hampir di semua sisi panggung arda candra tidak nampak tempat yang lowong, bahkan penonton sampai meluber ke sisi depan panggung, duduk melantai dengan tertib.

Silih berganti para seniman bondres mengocok perut para penonton dengan lawakan-lawakan khas mareka masing-masing. Sampai di akhir pementasan, para penonton memasuki panggung untuk dapat berebut berfoto bersama para seniman idola mereka. Kerinduan masyarakat akan pertunjukan tradisional Bali begitu nampak di saat beratus-ratus flash menyala dari kamera maupun handphone.

Menjual Bungan Jepun

Lawak Bondres Inovatif mengambil tema ‘’Sugih Nagih’’, mengisahkan kehidupan masyarakat di Desa Larangan yang semakin sulit. Kesenjangan yang terjadi membuat setiap orang harus bekerja lebih keras untuk menjalani hidup masing-masing. Sifat Materialisme yang berkembang menjadikan uang sebagai raja dan melupakan bahwa kita hidup dalam masyarakat sesungguhnya adalah bersaudara. Setiap orang di Desa Larangan bersedia melakukan apapun demi uang, semua yang menghasilkan uang akan menjadi rebutan untuk dijual bahkan bunga kamboja (bunga jepun) dijual demi kepentingan segelintir orang. Penjualan yang membabi buta tidak hanya menjual bunga jepun tapi sampai-sampai pohon kamboja bahkan tanah tempat pohon kamboja itu pun pada akhirnya siap untuk dijual.

Bunga jepun disimbolikkan sebagai kesucian. Layaknya Pulau Bali, terjualnya kesucian akan memberikan dampak buruk apalagi belakangan ini tidak hanya kesucian yang telah dilanggar dan terjual bahkan lahan-lahan yang seharusnya dipertahankan telah beralih fungsi dan kepemilikan demi perjuangan hidup. lantas, apakah kisah masyarakat Desa Larangan ini juga akan kita alami dalam keseharian kita..?? siap melakukan apapun demi uang, demi kaya secara mendadak..?


naskah asli oleh Dedi Tompel 
foto oleh Bali TV, diedit oleh Lugra
materi sudah pernah terbit di Majalah BaliPost

Saya Punya Pemimpin...

Buah Pikiran selama ini hanya bisa membayangkan betapa akan indah sebuah pertemanan dalam suatu hubungan kerja sama yang baik. Selama inipun masih menaruh harapan pada masalah yang dulu. Terbelit2 tanpa ada kejelasan sikap nyata menuju arah yg semestinya. Setelah sekian lamapun masih saja begini. Beberapa teman sudah dengan bangga tersenyum menggondol gelarnya masing2. bagaimana saya masih di sini..?


masih belajar memahami prinsip tadi, bersama beberapa orang dengan banyak pemahaman. Oh tentu memberikan saya ruang belajar yg lebih baik dari meja kuliah yang keren dg coretan type-X atau lukisan mawar merah di tiap tembok kelas. Ruang kuliah saya, saklar dan stop kontak yang tinggal ujung kabel saja. Masih berharap akan suatu kemajuan management, kalau tidak boleh menyebutnya dengan reformasi management, apalagi revolusi. Di sini teman2 saya orang2 hebat berbekal berbagai disiplin ilmu. Namun ya itu tadi, masih menunggu ada keajaiban datang dari lantai atas, haha…


Sejatinya tidak mengharapkan hujan uang dari lantai atas, tidak juga terror CCTV di tiap sudut meja, namun sedikit perasaan “sayang” dari ruangan sebelah. Saya masih percaya pimpinan saya di sini adalah orang hebat, berdedikasi di bidangnya dengan disiplin diri/ilmu yg tinggi, pasti akan memberikan komando yang baik2-lah. Kalaupun tidak baik2, semoga itu akan menjadi baik2.

Saat kuliah ada sebuah pelajaran ttg manajemen, sebagian besarnya mengadopsi ajaran-ajaran dari bangsa Barat. Eh, apakah bangsa Timur saya tidak mewariskan ajaran-ajaran kepemimpinan yang dapat digunakan untuk memimpin negara menuju kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, kalau boleh menulisnya dengan karyawan atau pekerja seperti saya... saya masih ingat mendengar 2 kata untuk urusan managemen atau bagaimana memimpin. ASTA BRATA.., yaa, adalah astabrata yang telah diterapkan di tanah nusantara ini sejak dulu sekali hingga tanah di sini masih saya injak.


Asta Brata dapat diartikan sebagai delapan ajaran utama tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk bagaimana menjadi pemimpin yang seharusnya. Ada yg bilang ini diturunkan saat Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Namun ada juga sumber yang mengatakan bahwa ajaran ini adalah nasehat Sang Rama kepada Wibisana, adik Rahwana yang hendak diangkat menjadi raja Alengka setelah wafatnya Sang Prabu Dasamuka.

Asta Brata disimbulkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin,

1. Indra Brata
Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.

2. Yama Brata
Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.

3. Surya Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.

4. Candra Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.

5. Vayu Brata (maruta)
Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

6. Bhumi (Danada)
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.

7. Varuna Brata
Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.

8. Agni Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

Tidak salah setiap dari kami merindui sosok seperti itu, mengharapkan pemimpin yang benar2 bisa memberikan kalimat kritik dengan cara2 yang sopan. Memberikan rasa nyaman di saat kami membutuhkan perlindungan. Mampu membuat ruangannya adalah tempat kami untuk bercerita bagaimana kami sudah bekerja dengan sungguh2. Tidak menvonis kekurangan kami yang kecil adalah masalah yang harus terus di buru2. Mencari celah, apalagi yang jelek2 tentang kami...? Dan membuang jauh hasil kesediaan kelebihan jam kerja dengan sia2. pun tidak membuat kami “bersitegang” dengan sesama kami. Tolonglah… Hanya sebuah rasa NYAMAN saja kenapa sulit sekali…

Saya masih tahu kalau anda bukan seorang “RI 1”, pun seandainya itu terjadi, pilihlah orang2 di keliling anda adalah orang yang benar2 loyal untuk kemajuan tanggungjawab yg anda emban, bukan para cecunguk busuk. Seperti yang sekarang ada yakini mereka adalah abdi. Jauh antara bibir dengan sikap anda…

Untuk melengkapi, saya kutip juga dari pelajaran kuliah saya yg berharga, sifat2 pembantu “raja” sebagai kembang yg memiliki sifat utama ( naskah jawa kuna nawanatya ).
ada 9 yang sempat saya catat…

1. pradnya widagda - bijaksana dan mahir dlm berbagai ilmu pengetahuan.
2. wira sarwayuda - pemberani dalam pertempuran.
3. paramartha - mempunyai cita2 yg mulia
4. dirotsaha - tekun dan ulet dlm pekerjaan
5. pragiwakia- pandai berbicara
6. samaupaya- selalu taat pada janji
7. laghawangartha - tidak pamerih
8. wruh ring sarwa bhastra - tahu mengatasi kerusuhan
9. wiweka - dpt membedakan mana yg salah dan mana yg benar.

Saya masih percaya kalau anda masih bisa merubahnya ke arah yang lebih baik…,


*beberapa reff yg saya copas di berbagai sumber + google

Pasukan Tempur-a

Jadwal Acara Tipi
Tidak pernah menyangka akan bertemu orang2 mantappss… awal2nya Cuma berani berpikir, ”keputusan memang penuh dengan resiko, jadi ayo deh dinikmati saja...”

.. ... ... ... ... ... ... .... .... ... .... ... ... ... .... ... ... .... .... .... .... .... .....
.. ... .... ... .. ... .. ... ... .. .. ... ... ... ... ... ... .... .... ... .... ... ... ... .... ... ... .... .... .... ....
Ini dia PASUKan TEMPUR-a yang siap berperang. Gak kalah sama Pasukan Garuda XXVI yg tahun kemarin bertugas di UNIFIL HQ – Naqoura pimpinan Kolonel Mar Saud P. Tamba Tua.. Gaya juga udah gak kalah ama poto caleg.. Prabowo aja lewat.. Modalnya cuma dengan semangat, kemauan untuk terus bergerak maju. Semua anggota make Tas pinggang lengkap amunisi ( rata2 modelnya hampir sama-fanatik eiger, haha.. ), isi kepala di balik topi baja ( ingat lagu bang iwan ), berbeda pada tiap anggota, gak masalah itu broo.. gak akan jadi penghalang untuk tetap bergerak. Ayo geser-geser.. Justru dengan ini pasukan tambah siap-yap..yap.. Beberapa tugas sudah terselesaikan dengan manis. Banyak daerah sudah kita jelajahi, road to--road to--.. Dengan tanggung jawab, melancarkan banyak serangan..wuss.. wuss.. Musuh kita berantas tuntas, Sekutu mesti ikut bersorak. Hahaa.. mesti senang mereka.. tapi REWARD untuk kita mana yaa..?? SAY THANKS aja kalee.. payahh...

Jangan kawatir ndan.. pasukan masih solid, tetap siap untuk tempur.. tinggal telp saja ato kalo lagi gembos pulsa-e, yo MISS CALL wae gak popo, wuiihh... haha..

kenapa dengan acara di tipi

Jadwal Acara Tipi

Kenapa yaa…

Menikmati malam sambil menunggu untuk istirahat, beberapa station tv menayangkan acara situasi komedi ( sitcom ). Semasih di Babad Tanah Jawa sudah nonton acara ini, benar2 keranjingan dibuatnya. Apa sebabnya nih....??

...

Setelah menonton beberapa acara seperti ini, seperti sambaran kilat melintas di kepala, samar2 terlintas ada beberapa hal yang membuatnya menjadi enak untuk di tonton.

..

Cuma sebuah pendapat dengan membaca, menonton dan insting..

.

Saat menonton kita ngerasain bahwa antar segmen tuh saling berkaitan ya kayak orangyg lagi kasmaran.. pokoknya ada aja alasan untuk saling berkaitan. Pokoknya ada sesuatu yang menjembatani segmen satu dengan segmen yang lain. Jadi saat nonton kita ikut mengalir dalam ceritanya. Oh, manis-e

.

Karakter para pemainnya tuh yang beragam alias berbhineka. Pemain yang memiliki karakter yang berbeda bila dipadu-in akan menciptakan situasi lucu. Coba deh bayangin apa yang terjadi bila si jaga image bertemu dengan si berdasarkan teori, dan si seniman ( contoh ne cerita di jagur naik bajay ) masing2 dari mereka akan ber-argumen kebenaran sesuai dengan isi kepala mereka masing2 bukan..

.

Sepertinya situasi dan lokasi juga hal yang penting di sini. Numpang idup dan suami2 takut istri memiliki lokasi yang hampir sama, rumah tangga. Begitu juga dengan cagur naik bajaj, kampus dan sekitarnya. Lokasi ini bisa tuh untuk menentukan lelucon2/ humor2 seperti apa yang akan diberikan. Mestinya sering nonton opera van java kan..?? gimana... keliatan nggak….

.

Hal lain deh, gimana caranya membuat lucu berdasarkan script..??

Wehh.. Apa memang si artis memiliki daya humor yang tinggi ( ingat sama srimulat kan..?? ) atau memang script-nya yang TOPBGT..?? atau apakah script dibuat secara garis besar lalu si artis bebas ber-improve..??

namun ke-konsisten-an si artis dalam menjaga karakter-nya itu yg MUTLAK diperlukan..

.

Sekarang coba lihat pengambilan gambarnya.. Jadi ingat awal dulu..

INGAT GARIS IMAJINER. Suara BIGGY dan W@-ONE. Hal yang harus diingat untuk suatu continuity. Melanggarnya akan membuat penonton kebingungan akan arah gerak. Wehh.. kata2nya mantappss.. Kalau kemarin kita memakai istilah sreen direction.

Maksudnya arah hadap pemain sebelum, saat dan sesudah tiap shot direkam. Makudnya untuk menjaga continuity gitu. Kemudian bagaimana cara mempergunakan screen direction ini yaa..? wehh, mumet nihh..

.

sekali lagi berdasarkan buntunya isi kepalaku saat ini..

.

Satu cara yang biasa dilihat dan juga digunakan untuk beberapa program talk show ( tamu kabare jogja, silaturahmi out door jogja ) atau sejenisnya ( warung sunyahni dll ) adalah selalu berkonsentrasi ( ...dan masuki alam bawah sadarmu.. hehe.. ) pada screen direction. Banyak tuh acara tv nasional mempergunakan cara ini ( tukul si bukan empat mata salah satunya )

.

Selain itu ekspresi dari lawan main dan audiens sering diabaikan. Padahal shot inilah yang membuat hidup suasana ( tapi jangan sampai si suasana jalan2.. takutnya pas take malah ia yg kabur.. walaahh.. ) dan merupakan shot penyelamat dalam adegan. Teknik ini mudah banget untuk menambah kekayaan pada visual tanpa mempengaruhi isi cerita.

.

Konsentrasi pada screen direction,
secara sederhana-ne bisa digambarkan seperti ini :

- Buatin sebuah garis imajiner

- pasangin kamera tanpa melewati garis imajiner.

- Perhatikan arah pandang penonton dengan memotong sudut blocking 180 derajat.

- Jangan dilupakan ekspresi audients.

- Selalu memperhatikan emosi si lawan bicara pada saat berbincang.

- Gunakan shot-shot yang lebih kreatif, jangan terpaku pada pakem ( nek istilahku PAKEM PLUS alias nggak kaku ama aturan ).

- Lebih peka untuk melihat kira2 moment apa yang akan terjadi ( lebih ke INSTING-deh..)

.

Udah ah, banyak nulis aku malah jadi bingung.. mending tidur, besok siap tugas jadi anggota kpps. Heheee...